Aku terbangun di sebuah ruangan yang serba putih. Ragaku memang menolak untuk bangun, tapi perasaanku terus menendang-nendangku untuk melompat sejak tadi. Jutaan pertanyaan menggantung di otakku. Adam duduk di samping ranjang, menggenggam jemariku.
"Apa? Apa maksud tante bilang begitu?" tanyaku. Rasanya, sulit sekali untuk menemukan kata-kata yang pas.
"Sebelumnya tante minta maaf. Tante nggak tau kalau dia... Pacar kamu," jawabnya. Pandangannya menyorot ke arah lantai. Aku hanya mengangguk tanda mengerti.
"Tante nggak menyesal pernah melakukan itu dulu. Tante nggak menyesal pernah melahirkan dia. Tante cuma menyesal karena nggak memberitahu kamu lebih awal bahwa dia..." katanya, mecari kata-kata yang tepat sebelum akhirnya melanjutkan, "sepupumu," katanya tenang, namun mendaratkan tamparan telak di mukaku.
Rasanya, aku ingin sekali mencabik apapun yang berada di dekatku. Tanteku sudah berkata apa barusan? Dunia sudah berkata apa barusan? Pandanganku mengabur, napasku menjadi tak bisa kukontrol, dan semuanya menjadi begitu runyam. Apakah bom atom baru dijatuhkan lagi? Ya, bahkan raanya jauh lebih buruk.
Aku tidak bisa menemukan emosi yang tepat untuk kulemparkan. Rasanya, marah pun tidak akan menghabiskan ganjalan yang masih menyangkut. Aku begitu kalut. Otakku sudah diselimuti kabut tebal. Adam menyodorkan segelas air putih, dan aku langsung menghabiskannya dalam waktu kurang dari tiga detik.
"Nah, sekarang, siapa yang minum kayak singa kehausan?" tanyanya manis. Aku jadi ingat, saat SMP dulu, aku juga pernah memberinya minum. Itu loh, saat dia menangis di belakang sekolah, saat aku menunggui Ran yang sedang bimbel.
Suara manisnya itu membuat hatiku perih sekali, mengingat apa saja yang baru saja ditangkap oleh kedua telingaku. Kemudian dunia kembali menjadi gelap. Aku melayang.
***
Sinar matahari menelusup kelopak mataku, memaksaku untuk bangun. Mau tidak mau, aku beringsut turun dari kasur dan menyelipkan kakiku ke dalam sandal rumah. Apakah semua itu hanya mimpi? Mungkin saja iya.
Aku melihat ke arah kalender dengan penuh harap, kemudian kaget bukan main saat melihat tanggalnya. Tanggalnya benar. Berarti...
Perutku mendadak terasa mual. Isi perutku rasanya terdorong-dorong sampai ke tenggorokan, mengirim sinyal ke otakku untuk memuntahkannya. Oh, Tuhan, benarkah ini? Aku berharap bahwa ini hanyalah sebuah mimpi buruk yang panjang. Lalu pada suatu pagi, aku akan terbangun dan semuanya akan menjadi baik-baik saja.
Aku mendengar suara ketukan di pintu. Dengan cepat, kuseka mulutku dan kubukakan pintu.
"Adam?" tanyaku begitu melihat sosok yang berdiri di depan pintu.
"Kamu udah baikan?" tanyanya, dengan senyum manisnya seperti biasa.
"Ini beneran?" tanyaku tidak sesuai dengan topik yang diajukannya.
Dia hanya mengangguk muram.
Duniaku berubah menjadi sebuah mimpi buruk.
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Aku, Kamu, Dia, dan Kita
RomancePilihannya hanya dua: menerima kenyataan bahwa dia telah memilih yang lain dan melupakannya, atau tetap hidup dalam bayang-bayang cinta yang semu. Tapi melupakan orang yang dicintai sama sulitnya dengan mengingat orang yang tidak pernah ditemui. Cer...
