Aku berlari-lari di sepanjang trotoar. Rasanya seperti memanggang paru-paruku dan menyempitkan tenggorokanku. Tapi, itu belum seberapa dengan ransel yang menempel di punggungku. Aku betul-betul hampir mati saja rasanya. Tapi, aku tidak ingin mati sia-sia. Aku harus mencoba menaklukkannya.
Dengan sisa tenagaku, aku berlari ke arahnya, menggapai apapun yang bisa kugapai. Hup! Entah apa yang kugapai dari dirinya, asalkan berhasil kugapai, itu sudah jauh lebih baik. Aku kemudian merutuki diriku sendiri ketika mengetahui bahwa benda yang kuambil adalah topinya. Ugh, seharusnya tadi aku menarik kemeja atau tasnya.
Dia tiba-tiba saja berbalik ke arahku, menghentikan langkah larinya yang secepat kilat. "Eh, topi gue," katanya panik. Aku terkejut dibuatnya, akan tetapi, itu bisa kuatasi dengan cepat. Setelah aku menguasai diriku sepenuhnya, aku menjawab, "Kagak bakal."
Aku melihat kilat cemas dan ketakutan di matanya, dan aku tahu aku sudah hampir menang. "Balikin buku gue," pintaku.
Dia patuh begitu saja dan segera menyerahkan bukuku. Aku merasa berada di atas angin sekarang. Tangannya menjulur ke arahku untuk meraih topinya kembali, namun entah mengapa, aku malah menariknya menjauh. Mukanya langsung terlihat pias. Detik berikutnya, aku merasa sangat bersalah padanya.
Di luar dugaanku, ia malah merogoh saku celananya dan berkata, "Tuker pake hape gue deh. Apapun asal tuh topi balik." Aku hanya menatapnya keheranan. Kalau aku jadi dia, aku langsung mencekik perebut topiku dan merampas topiku kembali. Dia malah merelakan Samsung Galaxy S4-nya? Dia memang betul-betul anak gila...
"Ya udah, kesiniin hape lo," kataku puas. Dia segera menyodorkan poneslnya padaku dengan patuh seperti anak yang baru berusia dua tahun. Aku bisa melihat sorot matanya yang begitu tulus dan menerawang entah kemana. Mungkin ke masa lalu.
Mulutku ternganga jatuh begitu ponselnya sampai ke tanganku. Dengan refleks kukembalikan topinya. Juga dengan ponselnya. "Yaelah, gue kan boongan doang. Elo-nya nurut-nurut aja...," kataku sambil mencari-cari matanya.
"Karena... Karena gue percaya sama elo," katanya. Aku lalu menepuk pundaknya, dan kami berjalan ke supermarket bersama. Sesuai janjinya, dia akan membelikanku cokelat karena sudah membelikan kado yang sangat spesial untuk Charlotte.
Aku berjalan di sampingnya. Rasanya rikuh juga berjalan di samping seorang laki-laki yang bukan pacarku. Kami membelok ke kanan dan ke kiri. Tepat di belokan terakhir, aku melihat Kamga. Aku menyapanya, dan dibalasnya dengan tatapan yang sangat dingin dan angkuh. Biasanya, aku langsung gemetar ketakutan, takut jika Kamga akan membenciku. Tapi, rasanya, yang ada di dalam tubuhku hanyalah rasa marah dan kekuatan yang besar.
Entah bagaimana, degup jantung yang dulu selalu memburu kini tiada...
***
Aku berlari kecil menyusul Adam. Anak itu berjalan cepat sekali. Aku merasa bahwa aku sedang mengejar kilat. Napasku langsung terengah-engah, apalagi jika mengingat beban tas di punggungku yang berat sekali.
Aku memilih salah satu cokelat Swiss kesukaanku. Kami segera pergi ke kasir. Kulihat tagihannya, dan aku yakin jika dia terus menggunakan jasaku, dia akan bangkrut dalam waktu dekat. Dia tiba-tiba menyambar pelan lenganku, membawaku dengannya.
Entah kenapa, aku tidak bisa menolak tangannya. Aku mengikutinya kemanapun dia pergi. Kami berjalan jauh sekali. Makin lama, kami mulai memasuki pedesaan. Walaupun begitu, aku tidak takut sama sekali. Aku tidak membayangkan ataupun berpikir aku akan diculik. Aku hanya berpikir bahwa aku akan diberi sebuah kejutan. Kejutan yang menyenangkan.
Tak lama kemudian, dia berhenti di depan sebuah pagar rumah, mengetuknya, dan kami masuk. Aku melihat ke sekeliling. Rumah ini sebetulnya besar sekali. Aku yakin, ini adalah rumah peninggalan zaman penjajahan zaman Belanda dulu. Atapnya tinggi sekali. Jendelanya lebar-lebar, dan pintunya besar-besar. Aku berani bertaruh, tidak akan ada lebih dari sepuluh rumah yang masih menggunakan model ini di kotaku.
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Aku, Kamu, Dia, dan Kita
RomancePilihannya hanya dua: menerima kenyataan bahwa dia telah memilih yang lain dan melupakannya, atau tetap hidup dalam bayang-bayang cinta yang semu. Tapi melupakan orang yang dicintai sama sulitnya dengan mengingat orang yang tidak pernah ditemui. Cer...
