Dia mencintaiku. Ya, itu tidak akan pernah diragukan. Hari itu aku betul-betul riang. Itulah hari kepulangannya dari Jepang, setelah selama 3 tahun bersekolah di sana. Dia lebih memilih kuliah di Indonesia, agar nanti, koneksinya dengan sesama mahasiswa Indonesia luas.
Aku mengambil baju yang sederhana saja. Skinny jeans krem dan baju putih, serta dilapisi cardigan saja sepertinya sudah cukup. Aku memulas pipiku dengan blush on tipis-tipis dan lipstik yang sewarna dengan bibirku agar terlihat natural. Kusapukan juga bedak berwarna beidge agar tetap membuat putih, tetapi tidak terlihat seperti kuntilanak.
Aku mengambil tas ransel hitamku, kemudian menggunakan sepatu Converse dan berangkat ke bandara. Aku penasaran, seberapa banyak dia sudah berubah.
***
Setelah menyogok polisi, memaksa sopir taksi untuk mengebut, dan menerobos jalur busway lima kali (adegan berbahaya, jangan ditiru!) agar bisa sampai tepat waktu, akhirnya aku sampai juga di bandara Internasional Soekarno-Hatta. Aku sempat kesal juga saat si sopir malah berhenti di terminal satu. Hey, terminal satu itu untuk penerbangan domestik!
Jantungku rasanya berdebar tak keruan. Ini lebih mengerikan daripada berpidato dengan Bahasa Inggris di Jakarta International School 2 tahun lalu, dengan ditonton puluhan pasang mata berwarna hijau ataupun biru. Ini jauh lebih mendebarkan. Bagaimana jika nanti ia pulang bersama seoarng wanita dan seorang bayi? Atau mungkin dua? Bukankah gadis Jepang langsing, putih dan memesona? Aku menggigil di dalam taksi yang juga sudah dilengkapi AC.
Taksi akhirnya berhenti juga di terminal 2. Aku kembali mengomel begitu melihat plang besar yang berada di depanku. Ini pintu keberangkatan, jadi, mana ada Adam di sini?
Jalanku waktu it lebih mirip gasing, berputar-putar mencari pintu kedatangan. Setelah berputar-putar dengan jantung dag-dig-dug, akhirnya aku bisa menemukan pintu itu. Aku berdiri diam di depannya, mencengkeram selasar besi untuk mengurangi rasa debaran jantungku yang menghujam sampai ke dasar. Mataku menangkap sosok yang asing, tapi kenal. Aku langsung melompat begitu menyadarinya.
Matanya yang hitam dan tajam sangat awas. Aku menghambur ke pelukannya, dan dia langsung menangkapku seperti menangkap sebuah berlian, hati-hati sekali agar tidak sampai jatuh.
"Ai," katanya. Satu patah kata itu berarti ribuan paragraf. Nada suaranya mengucapkan namaku masih sama seperti dulu, tiga tahun yang lalu kala aku masih duduk di kelas satu SMP. Dia memilih nada suara itu untuk memanggilku, dan hanya dia.
Dadanya jauh lebih bidang dan keras sejak terakhir kali aku menyenderkan kepalaku di dalamnya. Adalah suatu hal yang menakjubkan untuk menyaksikan bagaimana seorang bocah kelas 3 SMP menjelma menjadi seorang pria tampan dan dewasa seperti sekarang ini.
Dia memelukku erat sekali, seakan-akan aku akan hilang jika dilepas sedetik saja. Tiba-tiba pipinya memerah, dan kusadari bahwa perutnya merajuk-rajuk minta makanan. Aku hanya mengulum senyum, kemudian menariknya ke salah satu tempat makan di situ. Dia makan seperti harimau yang tidak makan selama 3 hari.
"Tas-nya lepas dulu, gih," kataku sambil menepuk pundaknya.
"Hehe, kukira bajunya...," katanya sambil nyengir kuda.
"Idiiih, pulang-pulang jadi kotor, deh. Kebanyakan nonton Miyabi sih, ya?" tanyaku sambil geleng-geleng kepala.
"Becandaaaaaa. Nih, berat loh," katanya sambil mengangsurkan tasnya padaku.
"Wuih, berat amat. Aku rampok, nih," ancamku main-main setelah meraih tasnya yang besar dan menggembung.
"Rampok aja. Aku kan milikmu," balasnya dengan kerlingan menggoda.
"Idih, diajarin gombal ama siapa?" tanyaku sambil menimpuknya dengan tulang ayam, yang langsung ditangkap dan dilemparnya ke sudut lain meja makan. Lalu dia tertawa, mencocol sambal dan melahap potongan ayam berikutnya. Sebetulnya, aku senang juga sih digomabli olehnya, hehehe.
Entah karena porsi sushi di negeri empunya yang sebesar kacang hijau atau karena porsi Indonesia yang terlalu jumbo, dia bersandar kekenyangan dan mengaduh di kursinya. Aku hanya menunggui di sampingnya sambil melihat Blackberry Messenger-ku yang dari tadi ber-ping ria tak keruan.
"Jalan, yok," katanya sambil mengangkat tasnya yang sebesar buto ijo (hmmm, sebetulnya, aku juga belum pernah bertemu buto ijo, sih) itu ke punggungnya, lalu menggandeng-ku di sampinya. Aku sempat menilik ke arah lehernya, dan melihat bahwa kalung yang kuberikan pada malam Up All Night beberapa tahun silam masih tergantung manis di lehernya. Masih sama persis seperti hari ketika aku menyerahkannya.
Kami berkeliling Jakarta seperti tarzan yang melihat kehidupan metropolitan. Padahal, aku selalu mengitari bundaran HI ataupun jalan Sudirman, tapi rasanya, tempat-tempat di Jakarta berubah 180 derajat, menjadi lebih mewah dan gemerlapan.
Jam tanganku baru menunjukkan pukul lima sore, dan rasanya kami masih mempunyai banyak waktu untuk bersenang-senang. Dia menitipkan tasnya di rumah saudaranya, dan langsung hengkang ke tempat tujuan.
***
Grand Indonesia berubah menjadi 1000 kali lipat lebih mewah daripada biasanya. Aku seperti anak bayi yang diperlihatkan pada iPhone 5S. Rasanya semua lift berubah menjadi super mengkilat dan menyilaukan. Satu hal lagi yang membuatku kurang pede: Aku salah kostum! Harusnya tadi aku mengambil studded dress hitamku, memadukannya dengan high-heels dan clutch sewarna. Aku jadi terlihat seperti remaja udik yang akan pergi ke taman ria saja. -_-
Aku heran. Apakah selama di Jepang, ia memakan begitu banyak magnet, sehingga setiap bola mata yang berpapasan dengan kami langsung meliriknya? Bahkan ada juga cewek nekat yang sampai mengajak berkenalan. Hei, aku pacarnya, dan dia malah sok kecentilan di depanku! Ada yang bahkan nekat mengajak berkencan dan ber"senang-senang" di apartemennya.
Biasanya, dia hanya mengangkat tanganku dari gengamannya, mencium tanganku, lalu berkata, "Maaf, aku sudah mendapatkan semua impian hidupku, jadi aku tidak memerlukan yang lain."
Lalu, dengan muka masam, para cewek centil itu akan pergi dengan sendirinya dengan kaki dientak-entakkan layaknya tentara.
"Kayaknya aku perlu ganti baju, deh. Saltum nih," kataku sambil menarik-narik tas ranselku. Dia hanya menggeleng dan berkata bahwa aku sudah terlihat cantik, lalu melanjutkan derap langkahnya.
Aku juga wanita, dan aku tidak mungkin tidak tergiur dengan para high-heels menawan yang berjejermanis di display toko. Ibuku pasti akan mencak-mencak jika aku membeli high-heels baru lagi. Pasti dia akan berkata, "Kamu... Bukannya beli buku, malah beli high-heels. Menuh-menuhin gudang aja."
Memang sih, aku paling tidak bisa menahan diri untuk tidak memborong high-heels. Aku juga bingung, kenapa Tuhan menciptakan barang yang se-menggiurkan itu...
Kami baru pulang setelah jam tanganku menunjukkan pukul 7 petang. Dia tidak ingin aku dicap sebagai cewek jalang, jadi dia cepat-cepat mengantarkanku ke rumah. Suatu hari, aku ingin dia megantarkanku ke sebuah rumah. Rumah milik kami berdua...
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Aku, Kamu, Dia, dan Kita
RomancePilihannya hanya dua: menerima kenyataan bahwa dia telah memilih yang lain dan melupakannya, atau tetap hidup dalam bayang-bayang cinta yang semu. Tapi melupakan orang yang dicintai sama sulitnya dengan mengingat orang yang tidak pernah ditemui. Cer...
