Aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Dengan sebuah kemeja putih dan rok biru. Aku sama sekali tidak menyembunyikan sehelai besi pun di balik baju kainku.
Hari itu hari Senin. Pada hari itu, ada jam pelajaran Bahasa Indonesia, dan kami disuruh menceritakan tentang tokoh idola kami di depan kelas. Aku masih terus berkutat pada lembaran data idolaku. Ssshhh, ini rahasia. Sebetulnya, aku lebih mengidolakan Leonardo DiCaprio, Tom Cruise, Omar Borkan Al Gala, ataupun para cowok bertampang super duper rupawan itu dibandingkan Profesor Bacharuddin Jusuf Habibie, sang ilmuwan sekaligus negarawan yang berhasil mendapatkan 42 hak paten dan lulus dengan predikat summa cum laude. Tapi, akan sangat tidak lucu jika aku berdiri di depan kelas dan berkata, "Alasanku memilih bla bla bla sebagai idolaku adalah karena dia cakep banget, dan bikin aku melting tiap hari cuman gara-gara ngeliat mukanya yang aduhai itu."
Aku bisa kena gampar dari guru BK deh...
Aku menarik napas dalam-dalam, menekan degup jantungku yang terus berkejaran liar tak karuan. Masalahnya bukan terdapat pada seisi kelas yang akan memandangiku dari ujung kepala sampai ujung kaki, tapi Kamga! Dia akan melihatku dengan matanya, mencerna penglihatannya dengan otaknya, dan menilai seberapa bagus atau buruknya aku. Itu tentu saja membuat kakiku ikut-ikutan merinding. Kujamin, aku belum pernah sekalipun merinding saat menonton film horor ataupun saat pergi ke kuburan. Bahkan, aku biasanya tertawa-tawa melihat hantu-hantu di film horor yang lebih mirip udang kering--yang berjalan saja tidak becus--daripada makhluk yang bisa menakuti manusia sampai menjerit-jerit histeris dan memekakkan telinga.
Aku memulai penampilanku dengan data-data yang kuperoleh dari sisa-sisa memoriku. Jujur, mulutku bergerak begitu saja tanpa kusadari, menguras sisa-sisa ingatanku tentang B. J. Habibie yang mungkin pernah kulihat atau kudengar sekilas dari program TV. Hey, jangan salah sangka dulu. Bukan aku yang memandangi TV dengan setia, menunggu setiap iklan dengn sabar demi melihat dan mendengar Habibie berbicara untuk beberapa menit. Tapi orangtuaku. Mau tidak mau, aku mendengar juga fakta-fakta tentang Habibie itu. Meskipun aku sudah menutup telingaku, rasanya mustahil aku bisa tidur sambil masih menutup kedua telingaku. Dan aku juga tidak ingin menjadi tuli.
Tak dinyana-nyana, tahu-tahu Kamga sudah duduk di deretan depan, di sebelah Ran. Di bangkuku. Ya ampun, di BANGKUKU! Aku akan pingsan karena sesak napas jika aku tidak melihat seisi kelas yang sedang memandang heran ke arahku. Aku tahu bahwa penampilan yang menguras debar jantung ini harus terus berlanjut. Dengan otot mata yang super kram, aku berhasil mengalihkan pandanganku ke seluruh teman-temanku. Setiap kali aku menatap Kamga, pasti ada saja hal tidak beres yang terjadi. Seperti artikulasi yang awut-awutan lah, mata yang tiba-tiba menjelajah tak karuan lah, sampai rasa kebelet pipis seolah-olah seluruh tubuhku ini dikontrol oleh kandung kemih.
Dia juga sesekali tersenyum padaku dan mengacungkan jempolnya. Itu cukup untuk membuatku merasa berdiri dengan beban satu kuintal di setiap bahuku. Pada senyuman berikutnya, seluruh tubuhku terasa panas dan terbakar, solah-olah aku akan meleleh dalam waktu beberapa detik setelahnya.
Ketika aku sudah selesai bercerita, kusuruh dia pergi dengan cara yang normal-normal saja, seperti yang biasa dilakukan teman kepada teman, bukan seorang gadis kepada kekasihnya. Aku kemudian disibukkan dengan pembuatan narasi. Itu sangat menguras tenaga dan pikiran, karena aku harus menuliskannya dengan cara yang benar. Kata depan harus dipisah lah, apalah, inilah, itu lah... Haiiihhh, bikin lelah saja...
Aku menarik napas panjang, mengembuskannya dan menarik napas lagi. Tanpa sengaja, kepalaku menoleh. Dan aku melihat Kamga sedang menggenggam tangan Freya, persis seperti saat Freya masih belum menjadi pacar John-Dean. Aku sebetulnya sedih juga melihat temanku harus menjalani hubungan yang tidak bahagia dengan John-Dean. Maksudku, mereka tidak pernah jalan berdua. Saat mereka disuruh berfoto bersama--dan ini Kamga yang menyuruh--mereka langsung pergi menjauhi satu sama lain seolah-olah mereka adalah magnet dengan kutub yang sama.
Pergolakan di dalam hati itu muncul lagi. Hatiku kembali mencelus, terkoyak kecil di pinggirannya. Rasanya perih sekali, seperti ketika seseorang menorehkan garam di atas lukamu yang masih baru. Aku membiarkan mereka berdua begitu. Aku ingin mereka berdua bahagia, meskipun kebahagiaan mereka berdua harus terhalang oleh status Freya yang kini telah menjadi pacar John-Dean.
Aku kembali menoleh ke kertasku. Dan sebelum aku kembali menulis, aku sempat melihat Freya menarik tangannya dari genggaman Kamga. Aku mengikuti lirikan matanya, dan kulihat John-Dean--di pojok ruangan kelas--sedang melihat ke arah mereka berdua.
Cinta memang bisa menjadi begitu rumit dan menyusahkan...
***
Novel Refrain-ku akhirnya selesai juga. Hari ini, aku lebih baik membaca buku karangan Raditya Dika saja. Judulnya Radikus Makankakus. Oke, judulnya memang menjijikkan dan bisa membuatmu muntah. Tapi, isinya lucu sekali, bahkan sampai membuatku terpingkal-pingkal. Aku melihat-lihat sekelilingku, mencari barangkali Adam ada di sana, bersiap untuk melompat dan mengolok-olokku lagi. Aku heran, kenapa ada orang yang mau menjadi pacar anak se-bengal Adam.
Kulirik jam tangan pink-ku. Jam tangan ini lebih pantas disebut ban, karena besarnya dua kali jam tangan normal. Kalau alarmnya sudah berbunyi, jangan harap kau bisa terhindar dari amukan warga satu kampung di pagi buta. Yah, kecuali aku. Aku expert sekali dalam hal terlelap, jadi, bukan perkara yang sulit bagiku untuk terlelap dan bermimpi indah dengan alarm yang merongrong gila 5 cm di depan lubang telingaku.
Aku sebetulnya tidak begitu suka dengan jam tangan raksasa ini. Masalahnya, aku alergi sekali dengan barang-barang yang berbau pink. Kau tahu kenapa aku membeli jam itu? Ya iyalah, karena orang tua. Mereka bilang, aku akan jadi lebih feminin. Karena waktu itu aku sedang kepincut seorang cowok yang sedang mencari cewek feminin, tanpa pikir panjang, kusambar jam itu dan kubawa lari ke kasir. Betapa bodohnya aku waktu itu...
Saat sedang melirik jam tanganku, kutangkap sesosok bayangan. Aku sudah tahu, itu pasti bayangan si bengal Adam. Mungkin akan tidak sopan jika kau memanggil orang yang lebih tua dengan nama saja. Tapi, siapa yang akan peduli jika orang yang lebih tua itu se-bengal Adam?
Aku juga menangkap sesosok bayangan tinggi dan langsing yang berjalan di depannya. Oh, pasti itu pacarnya, yang behasil membuat Adam bertekuk lutut di hadapannya seperti itu. Aku makin ternganga ketika melihat tas belanjaan setinggi gunung Everest dibawa oleh Adam, mengekor di belakang sang pacar. Aku mengenal pacar Adam. Kalau tidak salah, dia anak cheers, namanya Charlotte. Sebelumnya, dia memacari Gavin, kapten tim basket. Tidak berselang beberapa lama, akhirnya mereka putus. Aku ingat itu sempat menjadi gosip hangat di kalangan "Gavin Fans Club" di kelasku.
Lama-lama, aku jadi keheranan sendiri. Adam itu pacarnya Charlotte atau budaknya? Mau-maunya membawa belanjaan sebanyak itu. Apakah nanti Kamga akan begitu juga padaku jika kami sudah berpacaran? Apakah cinta butuh pengorbanan sebegitu besar?
Bagaimanapun beratnya belanjaan yang kubawa, aku tidak akan membiarkan pacarku (jika nantinya aku sudah pacar) mengangkatnya sendiri. Paling tidak, aku juga akan membawanya, meskipun hanya satu persen. Dan itu karena cinta.
Sepertinya Adam telah memilih wanita yang salah...
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Aku, Kamu, Dia, dan Kita
RomancePilihannya hanya dua: menerima kenyataan bahwa dia telah memilih yang lain dan melupakannya, atau tetap hidup dalam bayang-bayang cinta yang semu. Tapi melupakan orang yang dicintai sama sulitnya dengan mengingat orang yang tidak pernah ditemui. Cer...
