Kamga... Kamga... Ya, aku mencintainya. Sangat-sangat mencintainya. Aku lebih mencintainya dibandingkan mencintai diriku sendiri. Aku berharap agar suatu hari, dia akan menjadi separuh nafasku...
"Ngapain lo ngelamun? Ha! Pasti lo lagi ngelamunin barang yang jorok-jorok 'kan? Ngaku aja deh," cecar Bianca, memergoki aku yang sedang asyik-asyiknya melamun.
"Kebalik. Lo aja tuh yang pikirannya udah ngeres duluan," balasku sambil masih membayangkan hal-hal menyenangkan yang akan diperbuat Kamga padaku.
"Masalahnya, Bu Magdalena udah mau dateng," katanya sambil mendelik ke arah Bu Magdalena. Tak lupa, satu cubitan juga ia sarangkan ke pinggangku. Kontan saja, aku meringis kesakitan. Aku tidak berani bersuara sama sekali. Bu Magdalena adalah guru paling killer. Sekali kau macam-macam, nilai dipotong 50%. Jika masih macam-macam, nilaimu langsung menjadi telur busuk sempurna.
Dengan ketentuan seperti itu, jelas aku langsung beubah menjadi tentara Inggris yang siap setia dengan sikap duduk sempurna ketika ia datang.
Sepanjang pelajaran, aku tetap duduk dalam diam. Bukan karena serius memerhatikan Bu Magdalena, tapi karena membayangkan orang yang kucinta. Kamga.
***
Ran masih perlu mengikuti bimbel, apalagi dengan waktu yang makin menyerempet menuju olimpiade. Aku juga makin malas pulang ke rumah, terutama karena internet di rumahku sedang mati. Sebetulnya, aku malas juga datang ke pagar sialan itu lagi. Tapi, ego-ku mengatakan bahwa aku tidak boleh kalah oleh rasa malas. Setidaknya, aku harus berani menghadapi si keparat Adam.
Dengan langkah gontai, aku berjalan menyusuri tangga, kemudian berbelok beberapa kali sebelum akhirnya aku sampai ke pagar itu. Suasananya sepi sekali. Aku bahkan bisa mendengar napasku sendiri.
Aku melongok ke kanan dan kiri, berharap agar tidak menemukan Adam di dekat sini. Nyatanya, memang tidak ada dia, kok. Aku begitu gembira dengan situasiku sekarang ini. Dengan cepat, kutarik buku Perahu Kertas karangan Dee dari tasku.
Tak perlu waktu lama bagiku untuk hanyut dalam ceritanya. Sekali lagi, aku menengok ke sekelilingku, mencari-cari Adam. Dia tidak ada. Napasku langsung terasa longgar, dan aku kembali hanyut dalam bacaanku.
Tak membutuhkan waktu yang lama untuk menyadari bahwa ada seseorang yang datang ke sini. Dari kejauhan saja, aku sudah tahu kalau itu si anak keparat yang paling kubenci. Aku yang duduk di sudut merasa bebas memperhatikannya. Tak lama kemudian, Adam duduk bersandar di dinding. Aku berani bertaruh bahwa ia akan mengambil rokok dari kantong celana ataupun tasnya, menyulutnya, kemudian bersenang-senang dengan imajinasinya.
Eh?
Tunggu, ini tidak mungkin!
Tidak, ini...
Dia hanya duduk bersandar di pagar, menatap langit seolah-olah langit adalah satu-satunya tempatnya untuk mengadu. Jakunnya naik-turun seirama napasnya. Kaki kanannya yang tadinya ditekuk kini menjadi lurus. Tangan kirinya bersandar pada lutut kirinya.
Tak lama kemudian, air mata membasahi pipinya. Satu persatu. Aku belum pernah melihatnya seringkih ini. Aku belum pernah melihatnya serapuh ini. Dia seperti kupu-kupu tak bersayap. Lebur menjadi debu yang terbawa angin.
Makin lama, isakannya makin terdengar. Air mata makin deras membasahi bajunya. Aku sadar aku tidak bisa berlama-lama di sini dan harus segera berteduh karena langit sudah mulai menjatuhkan titik-titik air.
Aku berteduh sambil memandangnya. Dia seperti tidak peduli dengan keadaan sekitar. Ia menangis dan terus menangis, tidak peduli dengan semua hal. Seperti yang pernah terjadi kepadaku beberapa waktu lalu...
Dia makin tidak peduli dengan turunnya air. Bajunya mulai menampakkan badannya yang kekar berotot. Tapi, badan kekar itu kalah. Oleh air mata yang makin lama makin deras. Oleh isakan yang makin lama makin menyayat hati.
Dia seperti sebuah boneka kecil yang lemah. Boneka kecil yang tak berdaya. Boneka kecil yang telah dicampakkan oleh pemiliknya.
Aku sadar, semua orang punya kesedihannya masing-masing. Orang paling kuat dan tangguh sekalipun. Orang paling hebat dan perkasa sekalipun.
Adam pun memiliki kesedihannya sendiri, menyimpan lukanya sendiri...
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Aku, Kamu, Dia, dan Kita
RomansPilihannya hanya dua: menerima kenyataan bahwa dia telah memilih yang lain dan melupakannya, atau tetap hidup dalam bayang-bayang cinta yang semu. Tapi melupakan orang yang dicintai sama sulitnya dengan mengingat orang yang tidak pernah ditemui. Cer...
