26. Pengalaman di asrama

25.5K 1.1K 4
                                    

Tak terasa ternyata sudah satu minggu aku tinggal di rumah dinas Jafran, sudah bersosialisasi bersama ibu persit lainnya. Ada yang sangat ramah seperti Mbak Deri, ada juga yang sangat menegakkan sikap senioritas seperti Mbak Jaya. Warna warni sikap ibu-ibu persit disini membuatku bisa lebih mudah bersosialisasi, ya sama saja seperti bertemu dengan keluarga pasien yang berbeda karakter.

Sore ini aku ada kegiatan untuk bermain voli bersama ibu-ibu persit, kebetulan tadi siang Mbak Deri mengajakku untuk bergabung bersama ibu-ibu di lapangan. Katanya sambil besosialisasi bersama ibu-ibu lainnya.

"Tumben pakai baju olahraga, mau kemana ?" Tanya Jafran yang baru keluar dari kamar mandi

"Ada deh, kepo banget sih?" Ucapku sambil membenarkan kerudungku

"Kamu ini ya, kalau ditanya suami itu jawab yang bener" ucapnya lembut sambil memelukku dari belakang

"Sayang! Nanti baju aku basah ih" teriakku mencoba melepaskan diri dari Jafran

"Coba saja kalau bisa" Ucapnya disertai tawanya yang kencang

"Iya deh iya" Ucapku sambil terus berontak dari Jafran

"Iya apa?" Tanya Jafran yang mengeratkan pelukkannya

"Iya aku jawab, aku mau ke lapangan mau main voli sama ibu-ibu persit" ucapku yang mendapatkan tatapan tajam dari Jafran

"Tunggu, memangnya kamu bisa main voli?" Ucapnya sambil melepaskan pelukannya dan mengangkat sebelah alisnya

"Yee, aku bisa tau" Ucapku sambil mencubit perutnya

"Gak yakin" Ucapnya sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya

"Eh, jangan sombong gitu ya. Aku ini juara voli tau" Ucapku sambil menatapnya tajam

"Aku ikut, aku mau lihat seberapa hebat Dek Jafran ini bermain voli?" Ucapnya lalu menaik turunkan alisnya

"Jangan sampai menyesal lihat kehebatanku" Ucapku lalu beranjak pergi meninggalkannya di dalam kamar

---
Akhirnya setelah perjalanan yang cukup melelahkan aku dan Jafran sampai di lapangan tempat ibu-ibu persit bermain voli dan bapak-bapak tentara bermain futsal. Bagaimana tidak lelah kalau dari rumah ke lapangan dengan berjalan kaki bahkan berlari karena Jafran menantangku untuk mengalahkannya berlari. Menyebalkan memang.

"Dek Jafran, sini gabung" Ucap Mbak Deri yang tengah melambaikan tangannya padaku

"Aku kesana ya" Ucapku pada Jafran yang berada di sampingku dan hanya dibalas anggukan kepala saja.
Setelah aku bergabung bersama ibu-ibu persit lainnya, semua menyapaku dan menerimaku sebagai bagian baru. Tak lama permainan voli pun dimulai.

Aku berada di paling depan, saat aku mengedarkan pandanganku tak sengaja aku melihat Jafran sedang berbincang dengan seorang wanita yang asing bagiku, dia menggunakan baju lorengnya. Dia kowad ? Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi aku lihat Jafran tertawa sangat lepas bersama wanita itu.

"Dek Jafran awas bolanya" ucap Mbak Jofi sebelum akirnya aku rasakan tubuhku terjatuh ke lantai dan semuanya menjadi hitam.

---
Saat aku tersadar, aku melihat foto prewedding yang tak asing bagiku yang tertempel pada dinding hijau. Setelah aku tajamkan penglihatanku ternyata ini adalah kamarku dan Jafran, loh kenapa bisa ada di rumah ? Bukannya tadi aku di lapangan sama ibu-ibu persit ya ? oh iya, aku kan pingsan tadi

"Lain kali saya mohon agar ibu-ibu lebih berhati-hati lagi karena saya tidak mau terjadi hal yang tidak-tidak pada istri saya" Terdengar suara Jafran yang cukup kencang dari luar pintu kamar

Destiny(END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang