Satu bulan setelah kejadian itu terjadi. Kejadian di saat Ranno membuat Tara menangis kedua kalinya dan kejadian di saat Ranno berciuman untuk pertama kalinya dengan Dinda. Selama sebulan ini juga, Tara selalu menjauhinya. Ia selalu menghindar jika bertemu Ranno. Malah ia menjadi dekat kembali dengan Renno.
Tara kembali berpas-pasan dengan Ranno. Ia menghela nafasnya dan memutar balik badannya mencari jalan lain. Namun terlambat, dengan cepat Ranno menarik siku Tara.
"Raa..... kenapa sih lo selalu ngehindar dari gua. Gua mau ngomong sama lo Ra " ucap Ranno dengan nada memohonnya.
Tara mendengus sebal dan mengela nafasnya. Ia menghentakan lengannya sehingga cengkraman Ranno terlepas. "Apa? Lo mau ngomong apa sama gua? Mau ngejekin gua karna gua suka sama lo? Cinta sama lo? Iya kan?--
--gua akan berusaha move on kok Ran, tenang aja. Dan satu lagi tolong bilangin pacar lo, gua udah sama sekali jauhin lo." Ucap Tara dengan nada datarnya.
Ranno mengusap kasar wajahnya. "Raa bukan itu yang gua maksud. Dan soal ciuma itu...ahk lupain. Ra dengerin gua bahkan gua juga suk--"
"Udah cukup Ran, cukup!" Potong Tara meninggalkan Ranno yang terdiam tanpa melakukan apapun.
"Aaaakhh!! Bangsat" ucapnya gusar menjambak rambutnya kasar.
Hanya itu yang diucapkan Ranno beberapa hari lalu. Entah apa yang terjadi, seketika lidahnya kaku tak bisa mengucapkan satu kalimat pun.
Pernah sekali Ranno menemui Tara bersama Renno disalah satu mall ternama di Jakarta. Keduanya tampak dengan wajah yang gembira. Sepulangnya Ranno menanyakan pada kakaknya itu. Apakah mereka kembali berpacaran? Tara adik perempuan gua ucapan itu yang keluar dari mulu Renno.
Kenapa menjadi seperti ini? Kenapa serumit ini? Otak Ranno terlalu penuh untuk memikirkan hal serumit ini. Apalah Dinda yang semakin hari semakin membuat Ranno risih dan muak dengan tingkah lakunya. Dinda selalu menuntutnya. Selalu melarang apa yang Ranno suka. Saat ini Dinda bukanlah orang yang sama seperti cinta pertamanya dulu.
Drrt drrrt.
Irfan Pradipto
Mengirim video
Ranno mengerutkan dahinya. "Video apaan nih?" Gumamnya. "Awas aja kalau ngirim video bokep" lanjutnya lalu memplay video tersebut.
Dalam video tersebut. Terpampang beberapa cewek sedang berkumpul di sebuah cafe--Dinda dengan teman-temannya.
"Eh Din, si Ranno gimana?"
"Hah Ranno? Dia masih jadi pacar gua" ucap Dinda dengan sombongnya.
"Lo suka nggak sih sama dia?" Ucap salah satu cewek yang berbaju merah maroon.
Dinda menyeringai. "Suka?... haha gila lo. Dari dulu gua nggak pernah suka sama dia. Lagi pula gua macarin dia cuman numpang tenar kali"
"Gila hebat banget lo Din, oh iya lu bener pacaran sama Genta yang anak Pancasila?"
Dinda mengangguk. "Iya, gua kan yang nyuruh Genta ngajak tawuran Ranno"
Semua teman Dinda tertawa. "Sadis lo Din haha"
"Dinda gitu lho haha"
Rahang Ranno mengeras, matanya terbelalak melihat video tersebut. Ia tak habis pikir pada Dinda. Kurang apa dirinya bagi Dinda? Hanya memanfaatkan ketenaran Ranno. Cih.. sampah banget anjing orang kaya gitu didunia! batin Ranno geram.
Ranno menjambak rambutnya frustasi. Ia telah salah memilih orang, salah menanggapi perasaannya sendiri. Salah membedakan antara cinta dan obsesi.
"Akh, bego banget sih gua!!" Umpat Ranno pada dirinya sendiri.
Terukir senyuman menyeringai di bibir Ranno. Ia akan memberi sedikit kejutan untuk Dinda. Kebetulan besok adalah hari jadinya yang ke-2 bulan. Ranno pun mengirim pesan untuk Dinda di aplikasi LINE.
Besok kita mensiv yang ke-2 bulan.
Besok kamu dateng yaa ke cafe
tempat kita biasa dinner.
Dinda Fanesya
Kamu sosweet banget sih sayang.
Oke. Aku juga bakal tampil
cantik untuk kamu.
Ranno tersenyum hambar saat melihat balasan pesan Dinda. Busuk kesalnya dalam hati.
¤~¤
"Dia pernah bilang ke gua. Katanya, gua nggak boleh ninggalin dia. Tapi apa nyatanya, dia yang ninggalin gua lebih dulu. Picik banget" geram Tara tanpa sadar meluapkan isi hatinya. Ia menangis tanpa sadar.
"Eh eh kalo lo nggak mau cerita nggak papa. Nggak usah di paksa, gua juga nggak maksa kok"
"Dia yang bikin gua nyaman, dia yang ngenalin ke gua tentang cinta dan juga yang buat kepercayaan gua sama cowok balik lagi. Tapi malah yang ngancurin semua itu"
"Lo--" ucap Ranno terpotong.
Tara tersenyum tipis. "Kenapa sih cowok selalu kaya gitu. Kenapa dia selalu ngucapin hal yang nggak pernah dia pegang ucapannya sendiri. Kenapa hah! Hiks.. hiks kenapa?" Ringis Tara. Tangisnya semakin kencang dan menjadi-jadi.
Ranno tidak tega dengan Tara. Ia mengamit bahu Tara kedalam pelukannya.
"Bo..boleh gua tau siapa cowok itu?" Ucap Ranno yang masih memeluk Tara dan lengannya yang masih mengusap pelan punggung Tara. "Tapi ka-"
"Dia...dia Ranno" potong Tara sedikit gugup.
Ranno mengingat kembali kejadian sebulan lalu. Ia menjambak rambutnya frustasi. Ia selalu mengingat saat Tara berada dipelukannya. Tara menangis dalam dekapannya karena dirinya sendiri.
Gua terlalu bodoh batin Ranno menyalahkan dirinya sendiri.
Ranno benar-benar pusing saat ini, ia sekarang sedang berdiri bersandar di pagar pembatas balkon kamarnya. Mengambil sebatang rokok, lalu menjepitnya di antara kedua bibirnya. Menyalakan pemantik, Ranno mengarahkan pada ujung roko tersebut. Rokok itupun tersulit dan mulai mengeluarkan asapnya. Ranno menghisap dengan nikmatnya lalu mengepukannya kesembarang arah.
Disaat ia sedang penat, pasti ia menghisap rokok. Dua bungkus rokok bisa ia habiskan selama satu hari. Papahnya? Ia sama sekali tak mengetahui tingkah anaknya ini. Tak ada ciri-cirinya didiri Ranno. Ia sangat pecandu rokok tapi bibirnya tetaplah berwarna alami. Kenalan Ranno hanya sebatas pecandu rokok dan minuman keras. Ia sudah membuat janji dengan kedua temannya--Irfan dan Reza--tidak akan menggunakan narkoba. Cukup rokok dan minuman keras yang merusak hidupnya.
Mungkin bisa dikatakan Ranno terlalu bodoh merusak tubuhnya karena, hanya ingin menghilangkan keresahannya saja. Ia juga sudah terlalu bodah dalam masalah hati.
Ranno telah mengabaikan orang yang mencintainya dengan tulus. Ia malah mencintai seseorang yang terobsesi pada ketenarannya saja.
"Maafin gua Ra, gua udah salah mahamin perasaan gua sendiri" gumam Ranno seorang diri.
Mata Ranno berair, air matanya sebentar lagi akan keluar. Dengan cepat ia menghapusnya sendiri. Come on dude!! Lo nggak boleh secengeng ini dude! Batin Ranno.
Tara adalah cinta terakhir lo Ran hatinya berkata.
"Cinta terakhir?" Ucapnya menanggapi apa yang dikatakan oleh lubuk hatinya.
Ranno mengambil pulpen dan kertas di meja belajarnya. Mungkin ini satu-satunya cara agar Tara kembali lagi percaya padanya. Ini akan menjadi surat terakhir setelah surat-surat yang ia kirim sebelumnya. Entah cara ini akan berhasil atau tidak. Tapi Ranno akan terap menerima konsekuensinya. Indah ataupun buruk.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Votment teman teman spesial.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman Spesial Senja [Completed]
Roman pour Adolescents[SEDANG REVISI] [3 Maret 2017 - 4 Juni 2017] Tidak banyak yang kita lalui saat dulu. Tidak mengerti apapun namun mengucapkan janji yang sangat bermakna. Mungkin sebagian orang menganggap...
![Teman Spesial Senja [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/103882590-64-k368966.jpg)