Part 13

2K 70 1
                                        

Tara gelisah. Ada dua orang preman berpakaian sobek-sobek menghampirinya. Tara mengutuk dirinya sendiri. Coba saja tadi ia tidak menolak ajakan Ranno. Pasti dirinya tidak akan terjebak pada situasi seperti ini.

"Jangan takut neng. Tenang" ucap si Preman memegang siku Tara. Tara tersentak kemudian menepis lengan kotor Preman tersebut.

Tara menatap sekitarnya. Kenapa halte ini sepi sekali? Padahal tadi ramai. Lengan Tara bergetar. Ia takut. Siapa pun itu bantuin gua batinnya berkata. Bagamana ini?

____________________________________

Disaat lengan si Preman hendak menyentuh pundak Tara. Gerakannya terhenti saat mendengar teriakkan dari belakang.
"Wooy!!"

"Ranno, tolongin gua!!" ucap Tara bergetar masih berusaha melepaskan cengkraman preman tersebut.

"Beraninya sama cewek lo!" ucap Ranno tak mau basa-basi. Ia mencoba mendekat ke arah preman tersebut yang sedang mencengkram lengan Tara.

"Ohh ada pahlawan kesiangannya ternyata, dasar bocah ingusan !" ucap si preman melepaskan cengkramannya di lengan Tara.

Ranno tersenyum sinis. "Bangsat!" teriaknya sambil melayangkan bogemannya pada si preman tersebut.

Mata Tara melebar. "Ranno awas, belakang lo!" teriak Tara saat melihat teman si preman itu membawa balok kayu di belakang Ranno. Ranno terpukul.

"Akh" ringis Ranno saat balok kayu tersebut menimpa punggungnya hingga ia terjatuh. Ranno bangkit dari jatuhnya. Ia mengambil ancang-ancang, lalu menendang selangkangan si preman itu dari belakang. Preman itupun tersungkur kebelakang sembari meringis kesakitan. Kedua preman yang berhasil dilumpuhkan Ranno pun tergeletak di jalanan.

"Pergi lo bedua!!" usir Ranno. Kedua preman itu pun lari terbirit-birit.

Tara ketakutan, Tara terduduk di pinggir trotoar. Memeluk kedua kakinya sendiri, bahunya bergetar naik turun. Ini kali pertama Tara di ganggu oleh preman. Tara menangis.

Ranno menoleh ke arah Tara. kemudian, ikut terduduk di sebelah Tara. "Lo nggak papa?" ucapnya menyentuh pundak Tara.

Tara terkejut menenggakan kepalanya. "Gua takut" lirih Tara tanpa sadar langsung memeluk Ranno.

Ranno membalas pelukan Tara. Bibirnya membentuk sebuah senyuman. Ia mengusap bahu Tara pelan, mencoba untuk menenangkan Tara.

"Cup cup udah dong jangan nangis" ucap Ranno merenggangkan pelukannya pada Tara. Ia meraih dagu Tara. Mengarahkan lengannya menuju wajah Tara, mencoba menghapus air mata dipipi Tara. 

"....." Tara terdiam tanpa membuka suara.

"Makannya kalo di ajakin pulang bareng, mau. jangan nolak" ucap Ranno di sertai senyuman. "Lo tenang aja yaa. Gua bakal terus ngelindungin lo kok "

Tara tersentak karena kalimat terakhir yang di ucapkan Ranno, ia mengerucutkan bibirnya. "Makasih " ucap Tara pelan menundukan kepalanya lagi.

Ranno menyunggingkan bibirnya.
"Gua anterin pulang ya?" ajak Ranno untuk kedua kalinya pada Tara sembari mengucap puncak kepala Tara pelan.

Tara mengangguk.

Skip

Ranno dan Tara sudah sampai tepat di depan rumah Tara. Ranno mematikan mesin motornya dan membuka helmnya. Di saat Tara hendak membuka gerbang rumahnya, sudah ada yang lebih dulu membukanya. Bunda Tara yang membukanya.

"Kamu dari mana sih, kenapa baru pulang?" ucap Bunda Tara pada anaknya lalu matanya beralih pada Ranno.

Ranno membungkukan badannya sedikit. "Maaf tante, tadi ada kendala sedikit " ucap Ranno sopan.

Teman Spesial Senja [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang