Ranno memiliki saudara kembar, Renno. Mereka memiliki kepribadian yang sangat jauh berbeda. Ranno pandai bergaul, hipperaktif tapi, berbeda dengan Renno. Renno terlahir dengan sikap yang pendiam, dingin tak tersentuh. Akibatnya sewaktu kecil tak pernah keluar dari rumah. Mungkin Ala hanya mengetahui bahwa Ranno memiliki saudara kembar.
Saat ini Renno bersekolah diluar negeri. Ia memiliki otak yang cerdas sehingga ia bisa mengikuti program tukar pelajar di SMPnya dulu. Mungkin Renno terlalu betah di Singapura dan memutuskan untuk tetap bersekolah di sana.
"Ranno ayo kita makan malem" ucap pria paruh baya selaku Papa Ranno.
"Udah lama lho kita nggak makan bareng" lanjut Papanya yang melihat anaknya mulai menaiki tangga.
Ranno menghela nafas. "Iya Ranno ganti baju dulu" ucap Ranno datar.
Setelah menunggu lama. Akhirnya Ranno pun terlihat sembari menuruni anak tangga dan berjalan menghampiri orang tuanya di meja makan.
"Gimana sekolah kamu?" Tanya Papa Ranno memecahkan keheningan.
"Biasa aja"
"Oh iya, kakakmu akan pulang ke Indonesia. Ia akan pindah kesekolah kamu. Mungkin ntar pas semester dua. Udah nggak betah katanya"
"Hmm" ucap Ranno berusaha tak peduli.
Walaupun mereka kembar, Ranno dan Renno memiliki wajah yang tidak terlalu mirip dalam artian indentik. Ketampanan mereka setara. Dengan hidung mancung, bulu mata yang bisa dibilang menjadi dambaan kaum hawa, dan kulit putih yang diturunkan oleh Mamanya. Makin heboh sekolah kalau wajah yang hampir serupa seperti Ranno ada dua.
"Mau nambah lagi?" Ucap wanita di samping Ranno. Tari, Ibu Tirinya.
"Nggak, makasi Tan" ucap Ranno masih terfokus pada piringnya.
Ranno memang menyebut Ibu tirinya, Tante. Sebutan Ibu ataupun Bunda terlalu tinggi tingkatannya bagi wanita dihadapannya ini. Ia selalu menganggap perhatian ibu tirinya ini hanyalah cari perhatian semata didepan Papahnya. Ia masih belum terima kalau mamanya di gantikan posisinya oleh wanita di sebelahnya ini. Papanya menikahi wanita ini tanpa persetujuan Ranno.
"Apa yang kamu bilang? TANTE LAGI?!" Sentak Bara mengalahkan detingan sendok yang beradu dengan piring.
"Ada yang salah, aku emang udah kenyang Tante Tari" ucap Ranno dengan menekankan kalimat Tante Tari.
"Ranno! Berapa kali sudah Papa bilang. Sebut BUNDA!!" Ucap Papanya dengan nada yang meninggi.
"Sampai kapan pun Ranno nggak akan manggil dia dengan sebutan itu!
DERAJAT ITU BAHKAN TERLALU TINGGI BUAT DIA!! " Emosi Ranno tidak terbendung lagi.
"Ranno!!" Bentak Papa Ranno sembari bangkit di bangkunya saat melihat Ranno menuju ke kamarnya.
"Sudah mas, biarin aja" ucap Tari menenangkan suaminya.
Ranno terlalu sensitif jika membahas tentang meninggalnya sang mamanya dan seperti tadi, membahas wanita itu. Lagi pula pemandangan seperti tadi hanyalah hal biasa bagi Ranno, ia terlalu sering bertengkar dengan Papahnya hanya karena Tari--Ibu tirinya. Hal itu sudah terlalu biasa semenjak 4 tahun lalu bagi Ranno. Bahkan ada yang lebih dari itu, Ranno yang membentak dan melempar piring atau Bara yang kelewat emosi sampai menampar Ranno.
Ranno menuruni tangga dengan emosi yang masih memenuhi dirinya. Dengan celana yang robek dibagian lutut dan kaos hitam polos, ia berjalan dengan santainya tanpa memperdulikan orang sekitar. Entah mau kemana ia sekarang. Ranno memilih pergi dari pada harus menghadapi Papanya yang sudah terlalu mudah melupakan mamanya, dengan menikahi wanita yang tidak berguna bagi kehidupannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman Spesial Senja [Completed]
Novela Juvenil[SEDANG REVISI] [3 Maret 2017 - 4 Juni 2017] Tidak banyak yang kita lalui saat dulu. Tidak mengerti apapun namun mengucapkan janji yang sangat bermakna. Mungkin sebagian orang menganggap...
![Teman Spesial Senja [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/103882590-64-k368966.jpg)