Tara melirik jam tangannya, 15.20. Tara menghela nafasnya. Tugasnya dari tadi belum selesai. hari sudah semakin sore dan tangannya pun sudah pegal.
"Semangat Tara, tiga bab lagi " ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Di lain tempat, Ranno sedang mengganti bajunya di kamar mandi. Ranno mengikuti ekskul Futsal. Walaupun, dulu ia sempat di tawarkan untuk menjadi ketua Futsal di SMA Nusantara ini. Ranno menolak, dengan alasan ia mengikuti ekskul futsal ini tidak serius. Ranno hanya ingin ikut atau latihan jika ia sedang mau saja.
Jam setengah empat, Tara pasti udah pulang batin Ranno melirik jam tangannya yang bertengger di lengan kirinya.
"Ran tadi gua liat si Tara di kelasnya" ucap Irfan menepuk pundak Ranno pelan. "Oh iya, gimana apartemennya? Gua belum maen kesono."
"Enak, lebihnya nyaman. Cuman pas gua bayar, terus gua bank eh nambah lagi duit gua" jawab Ranno.
"Dari bokap lo kali, berarti bokap lo masih sayang sama lo."
Ranno tersenyum. "Gua kesana dulu deh nyampe Tara " ucap Ranno berjalan menuju kelas Tara.
"Aksi lancar haha" gelak tawa Irfan.
Sesampainya di depan pintu kelas Tara. Ranno melihat sekeliling kelas, mendapati Tara yang sedang menenggelamkan kepalanya pada lengannya.
"Tara" Gumam Ranno kemudian duduk di depan meja Tara. Tara tak kunjung bangun. Ranno pun mengguncangkan bahu Tara, akhirnya Tara terbangun.
"Ranno?" ucap Tara mengerutkan dahinya. "Aduh tugas gua! jam berapa sekarang? aduh pake ketiduran segala lagi " lanjutnya terkejut menepuk jidatnya.
Ranno terkekeh melihat tingkah laku Tara. "Kenapa belum pulang? lagi ngapain?" Tanya Ranno pada Tara.
"Belum, gua lagi ngerjain tugas sejarah"
"Kenapa ngerjain di sekolah?"
"Ini banyak banget, gua doang yang belum ngumpulin. Hari ini harus dikumpulin" jelas Tara.
Ranno melihat jam tangannya. "Gurunya juga udah pulang kali, besok aja "
Tara menghela nafasnya. "Kalau ngumpulinnya besok, gua nggak bakal boleh ikut ulangan harian Ranno Wijaya"
"Disuruh ngapain sih?"
"Disuruh ngerangkum satu buku paket ini" ucap Tara lesuh menunjukan buku paket di mejanya.
Kali ini Ranno yang menghela nafasnya. "Dasar guru kurang kerjaan, ngapain coba suruh nulis lagi kalau udah ada dibuku paket " gerutu Ranno. "Gua bantuin deh" lanjutnya.
Tara menatap Ranno nanar. "Em..."
"Tulisan gua bagus kok " ucap Ranno memotong ucapan Tara.
"Kok...." ucapan Tara terpotong lagi.
"Gua bukan cenayang, gua tau dari ekspresi lu" ucap Ranno terkekeh melihat ekspresi wajah Tara melongo. "Sini pulpennya " lanjutnya mengambil alih pulpen dari tangan Tara.
Tara hanya bisa pasrah, toh ia juga sudah capek. Menatap wajah Ranno yang sedang serius menulis di bukunya. Tanpa sadar bibir Tara membentuk sebuah senyuman. Kemudian, senyumannya berubah menjadi nguapan. Mata Tara masih terasa berat.Tara mengantuk.
"Tidur aja, entar gua bangunin kalau udah selesai" ucap Ranno menatap Tara. " Nih pake jaket gua, biar empuk" lanjutnya.
"Thanks " ucap Tara mengambil jaket Ranno dan melanjutkan tidurnya yang tadi sempat terhenti karena kedatangan Ranno.
Ranno tersenyum menatap wajah tenang Tara saat tertidur. Ranno selalu merasa nyaman di saat ia bersama Tara. Ia mengusap pelan rambut Tara, berusaha tidak membangunkan sang empu. kemudian ia melanjutkan kembali tulisannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman Spesial Senja [Completed]
Jugendliteratur[SEDANG REVISI] [3 Maret 2017 - 4 Juni 2017] Tidak banyak yang kita lalui saat dulu. Tidak mengerti apapun namun mengucapkan janji yang sangat bermakna. Mungkin sebagian orang menganggap...
![Teman Spesial Senja [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/103882590-64-k368966.jpg)