Part 21

2K 56 0
                                        

"Raa " ucap Renno membalikkan tubuhnya sehingga menghadap Tara. Renno menatap mata Tara. Tangan Renno mencoba mengamit kedua lengan Tara.

Tara tertegun saat Renno menggenggan kedua lengannya. "Heuh.. " lirih Tara dengan ekspresi wajah bingung.

"Gua mau ngomong sama lo, tapi lo jangan potong omongan gua " ucap Renno menatap mata Tara. Tara menoleh pada Renno.

____________________________________

Tara hanya bisa mengangguk.

Renno menarik nafas lalu membuangnya perlahan. "Gua ngajak lo ke sini karena gua mau ngungkapin isi hati gua. Perasaan ini udah muncul saat gua pertama kali ketemu lo di Pulau Tidung " ucap Renno dengan jeda.

"Senja hari ini mungkin sebagai saksi. Gua sayang lo Ra mungkin bisa di katakan Cinta. Gua tau, mungkin ini terlalu cepat bagi lu. Tapi yang pasti. Will you be my girlfrend? " ungkap Renno dengan penuh keyakinan.

Renno sudah memikirkan ini matang-matang. Renno pun sudah siap menerima kenyataan jika Tara menolaknya. Ia juga sengaja sering mengajak Tara ke beberapa tempat. Itu bertujuan untuk Renno meyakinkan bahwa Tara lah yang ia cari.

Tara terkejut, mulutnya terbuka kaget. Seketika tubuhnya menegang dan tidak bisa berbuat apapun seperti batu. Apa yang harus ia lakukan dan katakan?

"Gu..gua nggak bisa jawab sekarang " ucap Tara gugup. "Kasih gua waktu " lanjutnya menundukan kepalanya.

Renno tersenyum lalu mengangguk. "Oke, tapi jangan lama-lama ya " ucapnya dengan kekehan.

Tara mengangguk. "I..iya "

Renno merogoh saku dalam jaketnya dan mengeluarkan setangkai bunga.
"Ini buat lo " ucap Renno sembari memberi setangkai bunga mawar merah pada Tara. Renno melirik Tara dengan wajah ragu. "Ambil aja " lanjutnya.

Tara mengangguk dan menerima bunga tersebut. "Thanks "

Jantung Tara berdegub. Namun, degupan jantungnya ini tidak sekencang saat ia bersama Ranno. Ternyata Renno pergi meninggalkan Tara saat makan kerak telor untuk membeli bunga.

Renno tersenyum dan mengusap pelan rambut Tara. "Yaudah, udah malem. Pulang yuk " ajak Renno yang masih menggenggam lengan kanan Tara. Tara mengangguk mengikuti langkah Renno.

Skip

"Renno nembak gua?" Gumam Tara seorang diri di kamar yang dominan berwarna merah maroon.

Tara masih tidak percaya apa yang terjadi tadi sore. Mimpikah? Halusinasi?
Ia sama sekali tidak mengharapkan kalimat itu keluar dari mulut Renno. Tapi, tidak juga dari mulut Ranno.

Tara memang menyayangi Ranno, bahkan mungkin mencintai. Tapi, ia masih takut untuk merasakan sakit hati lagi. Walaupun Tara tahu, berani jatuh cinta harus berani juga merasakan sakit hati. Karena jatuh cinta itu sepaket dengan sakit hati.

Tara harus membalas dengan apa perasaan Renno l?

¤~¤


Dentuman musik dan lampu kerlap kerlip berkilauan. Alunan musik DJ Menggema diseluruh ruangan yang dipenuhi berbagai macam orang dengan jogetan tubuhnya. Bebauan minuman keras menyeruak menusuk hidung dan tak lupa asap rokok yang sudah memenuhi ruangan pengap ini. Orang-orang begitu rileks berjoget ria ditempat ini seakan masalahnya hilang seketika. Tanpa terkecuali Ranno.

Sudah dua jam lebih ia ditempat ini. Pikirannya kalut, dirinya dengan Tara semakin menjauh layaknya tak saling kenal. Ini yang ia takuti sejak dulu setelah ia mengetahui Tara adalah Ala. Kejadian terulang lagi, memisahkan kembali mereka berdua.

Teman Spesial Senja [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang