Part 28

1.7K 53 0
                                        

Tara sedang duduk sendirian. Ralat, sedang duduk bersama tas kedua temannya. Ia duduk disalah satu bangku sepanjang koridor sekolah. Menunggu kedua temannya--Zahra dan Nita--yang sedang ke toilet. Biasa si Onet bocor.

Lamunannya buyar disaat ada yang menepuk pundaknya. "Ra Nita mana?" Ucap si penepuk lalu duduk di samping Tara--Reza.

"Kekamar mandi sama Zahra " singkat Tara menjawan pertanyaan Reza.

Reza melirik wajah Tara, ia menyerinyitkan dahinya. Raut wajah Tara seperti banyak pikiran. Tatapan matanya kosong, kantung matanya sedikit hitam seperti selalu tidur larut malam.

"Mikirin apa?"

"....."

Reza tersenyum tipis dan menghela nafasnya. "Ranno?" Ucapnya santai tahu pasti bahwa Tara sedang memikirkan sicurut satu itu.

Yang memerhatikan Tara saat Ranno menyatakan perasaannya pada Dinda bukanlah hanya Tari--bunda Ranno--tapi juga Reza. Saat itu Reza sangat melihat jelas raut wajah Tara yang sangat amat terpukul melihat kejadian tersebut berlangsung didepan mata kepalanya sendiri.

Tara mengerutkan dahinya.

"Gua tau dari Nita dan tau dari ekspresi lo pas dia nembak Dinda " ucap Reza dengan santainya. Kemudian, Nita dan Zahra datang dari arah kamar mandi.

Tara mendengus kesal ke arah Nita. "Nit lu cerita ke Reza, gua sama Ra...--"

"Keceplosan Ra " ucapnya cengengesan tanpa rasa bersalah. Tara menatap tajam kearah Nita.

"Bentar yaa Za, aku ke kamar mandi dulu " izin Nita alay pada Reza.

"Lah bukannya tadi udah?" Tanya Reza heran.

Nita cengengesan. "Urgent Za, bentar yaa" ucapnya sembari mengambil tasnya lalu menarik lengan Zahra menuju kembali ke kamar mandi.

"Kenapa sih bulak balik kamar mandi ? Sakit perut?" Gumam Reza heran dengan tingkah laku ceweknya itu.

"PMS "

Mulut Reza pun berubah bentuk menjadi huruf O. Kemudian, matanya kembali lagi teralih pada Tara.

"Eh.. wait wait wait lo sama Nita ja-- ?" Ucap Tara yang baru sadar apa yang terjadi.

"Baru dua hari lalu " ucap Reza dengan senyum tipis.

"Jadi lo minta Id LINE Nita buat.." ucapan Tara tergantung.

"Iya buat PDKT lah, anjay " ucap Reza dengan sombong.

Tara mengidikan bahunya. "Kok nggak bilang gua "

"Idih lo siapa gua, sampe harus bilang dulu mau jadian sama Nita?"

Tara memanyukan bibirnya. "Elah kembali ketopik utama " ucap Reza dengan tegas.

"Dan sekarang hati lo makin ancur karena liat Ranno ciuman sama Dinda." Ucap Reza menatap lurus kedepan.

Tara tersentak. "Lo--"

"Ranno cerita sama gua, disaat itu mobil dia mogok dan mutusin untuk jalan ke cafe. Hp dia mati makannya dia nggak ngabarin lo. And then kenapa adegan ciuman itu terjadi, si Domba tiba-tiba ada dateng meluk dia dan langsung nyosor gitu aja. Mungkin naluri cowoknya Ranno keluar dan diem aja pas Domba nyosor. Ternyata si Domba mabok Ra, dia nafsu. Geuleh yak, tapi gua berharap Nita begitu ke gua wkwk. Oke lupakan." Ucap Reza panjang lebar menjelaskan apa yang Ranno ceritakan padanya.

Tara menghela nafasnya. "Percuma walaupun alasan itu logis, gua udah terlanjur benci sama dia Za. I don't know tapi sakit hati gua nggak segampang itu pudar karena penjelasan lo."

Reza menaikan alis sebelahnya dan mengangguk pelan. "Eh Ra, Cinta itu nggak harus memiliki kan? Lagi pula lu juga udah punya Renno sekarang "

"Iyaa gua tau, tapi kenapa dia dateng cuman ngasih harapan palsu doang. Setelah dia buat gua baper sama dia terus dia pergi." Mata Tara memerah. Ia sekuat tenaga membendung air matanya.

"Tuhan udah kasih pengganti Ranno Ra. Disaat luka muncul pasti ada seseorang untuk ngobatin luka tersebut. Dan itu Renno--

--Karena hati yang luka nggak akan bisa diobati oleh orang yang melukainya. Walaupun ada beberapa luka yang harus diobati oleh orang yang melukai tersebut" ucap Reza Final.

"Udah? Mau kemana kita?" Ucap Reza yang beralih pada Nita.

Nita tersenyum tipis. "Langsung pulang aja, lagi mager " ucapnya dengan cengengesan.

"Gua balik duluan semua " pamit Reza kepada Tara dan Zahra.

"Pulang duluan ya Zah Ra " Nita mengikuti langkah besar Reza menuju parkiran.

"Si Nita kalau depan cowok alim banget yak, giliran sama kita sompral banget " gerutu Zahra.

Pasti ada seseorang yang sembuhin luka gua? Batin Tara. Renno kah orangnya? Tapi bukankah pengganti itu lebih baik dari yang sebelumnya? Tara berasa Rannolah segala-galanya dibanding Renno. Tiga minggu ini ia berpacaran dengan Renno tak sama sekali membuatnya melupakan sosok Ranno. Walaupun Ranno dan Renno adalah kembar. Tapi, keduanya sangatlah berbeda--sungguh berbeda. Jujur Tara sangatlah lebih nyaman jika disamping Ranno. Sangatlah nyaman jika ia bertemu dengan senja bersama Ranno.

Apa yang bisa ia lakukan saat ini jika semuanya sudah terjadi?

"Raa.... lo kok bengong?" Ucap Zahra yang sedari tadi memanggil Tara dan tak ada jawaban.

"Heuh .. nggak kok" ucap Tara yang sudah kembali kesadarannya.

"Lo nggak dijemput Renno?"

"....."

"Ra lo bengong lagi, kenapa sih? Ranno?" Ucap Zahra yang kesal pada temannya ini. Tara terlalu sering melamun belakangan ini.

"Udahlah Ra, gua tau lo sayang banget sama Ranno. Tapi yaa jangan nyakitin diri lo sendiri lah. Gua kasian tau nggak sama lo, kebanyakan ngelamun. Katanya mau move on--

---Eh tapi, gimana ketemuan lo sama dia?."

"Ranno ciuman Zah." Ucap Tara dengan tatapan kosong kedepan.

Zahra menganga kaget. "GIILAA! yang bener lo?!"

Tara hanya mengangguk lemah.

"Gila ya tu orang, gua kira dia ngajak ketemuan sama lo buat baikin kalian biar kaya dulu lagi, dia nggak dateng? Dan malah ciuman sama si Dinda? Sumpah yaa gua nggak habis pikir sama dia!!" Geram Zahra.

"Udah Zah, gua nggak papa."

"Nggak papa lo itu berarti ada apa apa Ra, i know you. Lo harus MOVE ON." Ucap Zahra tegas.

"Entah gua bingung Zah, udah tiga minggu gua pacaran sama Renno. Tapi, gua sama sekali belum bisa lupain Ranno. Gua sama sekali nggak nganggep Renno jadi pelampiasan Ranno. Tap.. tapi--"

"Move on emang nggak gampang Ra. Lo perlu tau apa yang memang milik lo, pasti akan jadi milik lo. Tapi, kalau bukan ditakdirin untuk jadi milik lo, bagaimana pun caranya lo milikin dia nggak akan pernah jadi milik lo--

--Lo masih mau nunggu dia yang nggak tau kapan sadarnya atau mungkin yang nggak pernah sadar itu hah?!"

Tara mengangguk lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Makasih Zah "

Tanpa sadar keduanya diperhatikan oleh seseorang yang sedari tadi mendengar obrolan kedua sahabat tersebut. Awalnya ia akan menjenguk pacarnya yang sedari tadi menunggunya latihan basket. Apalah daya ia mendengar sebuah pernyataan yang membuatnya tersakiti sekaligus merasa bersalah yang sangat mendalam terhadap kedua belah pihak. Walaupun, dia sangat amat tau perlakuan yang membuat orang tersayangnya itu menangis adalah bajingan. Tapi ia juga harus melakukan ini, ia tak mau menyakiti dan memaksakan perasaan orang ia sayang bahkan ia cintai secara tulus. Gua harus akhirin semua ini batin si cowok tersebut.

Sicowok tersebut mengirim pesan kepada pacarnya. Ia akan mengajak pacarnya tersebut makan malam dan mengakhirinya.

.
.

.
.

.

.
.
Votment manteman.
Berilah semangat saat puasa seperti ini.

Teman Spesial Senja [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang