Teruntuk, sang objek tulisan

404 32 0
                                    

Halo.

Masih ingat saya?

Saya adalah penyair yang sering menjadikan kamu objek tulisannya, dulu.

Atau mungkin, sampai saat ini.

Kalau kamu lupa, saya jelaskan kembali.

Saya penyair yang mudah menerjemahkan patah. Saya penyair yang melahirkan aksara penuh luka. Saya mampu menerjemah mereka seakan mereka bernyawa, bermanifestasi menjadi puisi-puisi kelam yang diperuntukan untuk orang-orang hilang arah.

Saya memang tidak pernah mengenal jatuh cinta. Saya tidak pernah membuat puisi-puisi merah jambu. Puisi saya gelap, segelap pakaian yang saya kenakan sehari-hari, segelap ruangan yang saya pakai setiap saya bercumbu bersama papan ketik.

Hidup saya gelap. Namun, pada hari itu kamu datang dan mengubah semuanya. Semesta memberi saya cahaya yang membuat hidup saya tak melulu soal gelap. Dan kamu berhasil membuat lembar-lembar hidup saya dibubuhi warna lain selain hitam.

Sialnya, saya sudah positif jatuh cinta. Ya, saya bahkan berhenti menulis hal-hal yang menyakitkan dan menyedihkan seperti sebelumnya, saya berhenti menulis. Karena saya sadar ada yang lebih menarik daripada papan ketik saya. Kamu membuat aksara kelam saya mati seketika.

Kamu terasa nyata, sangat nyata sampai saya rasanya ingin selalu memeluk kamu. Bukan apa-apa, saya ingin kamu tidak hilang seperti yang sebelum-sebelumnya, saya ingin kamu pergi seperti mereka yang tidak pernah menganggap saya ada.

Saya kira, kamu dapat terus bersama saya selamanya. Saya belum sempat merancang bagaimana tegar saat kamu melangkah pergi. Saya mengesampingkan semua hal-hal itu dan sibuk dimabuk bahagia.

Namun, semesta kembali, merenggut apa yang ia telah pinjamkan.

Setelah sekian lama, tiba-tiba semesta menjauhkan kamu dari saya. Kita terhalang waktu. Bahkan, kita menjelma asing. Dunia saya terasa berhenti, berdiam di satu titik begitu saja, dan saya bingung dengan apa yang harus saya lakukan selanjutnya.

Semesta jahat, waktu jahat, semua yang membuat kamu pergi begitu saja tanpa lambaian tangan dari saya terasa jahat, tidak adil. Dada saya sesak, dihujam oleh kata-kata puitis yang tak lagi saya keluarkan. Kepala saya dijejali oleh banyaknya aksara mati. Semua kembali gelap, cahaya itu hilang secepat kedipan mata. Dunia saya runtuh, semuanya gelap, saya hancur. Atau mungkin lebih dari hancur.

Saya menghilang. Menghilang bersama luka yang menggerogoti saya dengan cepat. Saya meninggalkan tempat-tempat yang berstokastik membuat saya semakin sakit. Saya menghilang, mengubur dalam-dalam fragmen kenangan bersama kamu yang melekat pada otak saya.

Dan kini, kamu hanyalah sosok yang arkais pada hidup saya. Namun hari ini, saya tak sengaja melihat kamu. Hari ini, saya tidak sengaja menggali lagi lusinan kenangan saya bersama kamu.

Dan sialnya, saya tidak munafik. Saya ingin menatapmu, lagi.

28-05-2017
23:57

Kulminasi RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang