Untukmu, teruna yang pernah singgah dan memberikan kenangan manis dan––pahit.
Terimakasih telah datang, meski kepergianmu yang terlalu cepat masih sangat terasa sakitnya, nyatanya, aku tidak bisa apa-apa.
Aku tidak bisa menahanmu. Ini hidupmu, pada siapapun kau jatuh cinta aku tidak bisa marah kepadamu. Lagi-lagi aku terluka, setelah sekian lama rasanya hati yang patah ini telah membaik dan sekarang lagi-lagi hancur tak berbentuk. Aku sudah terlalu terfiksasi olehmu, yang sebenarnya–hanya salah satu manifestasi dari kulminasi anganku.
Silahkan kau pergi, dengan siapapun kamu melanjutkan hidup, aku harap dia akan selalu membuat senyum diwajahmu itu.
Silahkan kau pergi, meski impresi kenangan yang kau tinggalkan membuatku berdarah, aku akan mencoba merelakanmu.
Karena setidaknya, takdir pernah membuat kau tinggal sejenak dan memberi banyak kebahagiaan.
Meski untuk berujung lenyap dan membuat malamku suram.
Dari aku,
Yang berdarah, ditinggal pergi olehmu.
3-11-2017
KAMU SEDANG MEMBACA
Kulminasi Rasa
Poesía(Complete) Dan pada kesempatan sisa-sisa hujan terakhir di bulan September aku meminta, berdoa, sekiranya mampukah semesta barangkali sekali saja mendengar laungan doa-doa panjangku. Yang berisi tentang kamu, rangkaian doa yang masih memintamu untuk...
