Ia yang bernama Luka
Tak terlihat, tak terjamah pula
Diselimuti senyuman dan tawa
Yang perlahan membunuh jiwa
Ia yang bernama Luka
Sulit disembuhkan, mudah dibuatnya
Membuat hati gundah gulana
Dan akhirnya menampik bahagia
Ia yang bernama Luka
Mendestruktifkan banyak cerita cinta
Tak lupa mengundang air mata
Yang sungguh menyesakkan dada
Dan akhirnya, telah mati hatinya
Wahai Luka
Mengapa kau tidak lenyap saja?
Terlalu lama aku menanggung derita
Yang tak kunjung surut juga
Dan wahai, pemberi Luka
Pergilah jauh hingga tak teraba
Hilang dan lenyaplah kamu selamanya
Karena aku pun berhak bahagia
21-02-2017
KAMU SEDANG MEMBACA
Kulminasi Rasa
Puisi(Complete) Dan pada kesempatan sisa-sisa hujan terakhir di bulan September aku meminta, berdoa, sekiranya mampukah semesta barangkali sekali saja mendengar laungan doa-doa panjangku. Yang berisi tentang kamu, rangkaian doa yang masih memintamu untuk...
