6. Gift

9 1 0
                                    

"Hei," aku memanggilnya dari atas kasur. Aku sedang membaca (berusaha setidaknya tapi tidak konsen sama sekali). Dia sendiri sedang berselancar di internet dengan laptop di atas mejaku.

"Ya?" Dia menjawab sambil mengetik.

"Kamu mau hadiah apa untuk ulang tahunmu?"

Dia sempat berhenti mengetik sejenak sebelum melanjutkannya.

"Terserah."

"Jawab yang serius." Aku menutup bukuku dan melihatnya.

"Aku tidak ingin apa-apa."

"Bohong, manusia pasti punya keinginan."

"Tapi saat ini aku tidak ingin apa-apa."

"Beri aku jawaban. Jangan kabur."

"Aku tidak kabur." Dia langsung berhenti memainkan trackpad dan berbalik memandangku. Bingo!

"Jadi daritadi kamu sedang apa kalau bukan lari dari pertanyaanku?"

"Baiklah. Kau yang meminta ini ya."

"Tentu saja. Apa yang kamu inginkan untuk ulang tahunmu?"

"Teman baru yang tidak menggangguku."

"Ditolak. Coba lagi."

"Kuliah tanpa tugas."

"Ditolak."

"Semua dosen mata kuliah yang baik."

"Serius dong, yang bisa kukasih."

"Laptop baru."

"Kantong mahasiswa, tolong."

"Beri aku pacar?"

"Kupukul nih."

"Hati kamu?"

Aku langsung turun dari kasurku dan berjalan satu langkah satu untuk memukulnya. Kami bergulat sejenak dan dia tertawa. Salah satu tangannya kutahan sedangkan tangan lainnya berusaha menghalangi tanganku. Dia memintaku berhenti di sela-sela tawanya. Sekarang aku benar-benar berhenti.

"Serius nih, mau hadiah apa?"

"Jadi pacarku?"

"Gak lucu, bego!"

Kali ini aku serius ingin memukulnya. Tawa dia kembali lepas. Kami bergulat dan saling menggelitik sampai dinding kosku diketuk oleh tetangga sebelah.

Aku masih tetap tidak tahu apa hadiah ulang tahunnya.

Aku dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang