11. Listening

6 1 0
                                    

Dia itu jarang sekali bicara. Namun ada satu momen saat dia berubah menjadi cerewet sekali. Ketika dia marah.

Sudah 15 menit dia bicara tanpa henti. Awalnya aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Namun ekspresinya sudah tidak enak sejak kita bertemu tadi. Jadi aku memaksanya untuk bercerita.

Hal terindah dalam dirinya bagiku adalah suaranya. Biasanya dia berbicara dengan suara kecil, tetapi artikulasinya jelas. Intonasinya datar dan sedikit berubah-ubah. Perubahan itu akan semakin terlihat kalau sudah terbawa emosi. Suaranya tidak termasuk rendah tetapi tetap menenangkan dan merdu.

"Kamu dengerin gak?"

"Ah? Ee, enggak sih."

"Padahal kamu yang minta aku cerita. Tapi kamu malah tidak mendengar."

Sebetulnya secara garis besar aku sudah tahu permasalahannya. Aku juga sudah tahu apa yang akan kulakukan pada orang yang membuatnya tidak nyaman itu.

Tapi aku pura-pura bodoh dan memintanya untuk menjelaskan beberapa bagian lagi. Karena aku masih ingin mendengar suaranya lebih lama lagi.

Aku dan DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang