Disinilah aku. Merangkul lengan Ayah dengan kuat seperti lilitan ular phyton. Ayah pasti juga merasakan tubuhku yang bergetar hebat. Ayah mengelus jari-jari ku lembut agar aku tenang. Tapi ku tak bisa. Padahal aku sudah berusaha tenang sekuat tenaga.
Ayah berhasil mengantarku ketujuan dengan selamat. Menyerahkan ku kepada seseorang pangeran tampan yang sudah menunggu dengan senyuman tulus terukir diwajahnya.
Rasanya seperti ada seorang teroris yang membedah dadaku dan menaruh bom disana. Ini sudah saatnya untuk meledak.
Aku meraih tangan kekarnya yang menyambutku dengan lembut. Menggenggam jari-jari kecilku erat seperti tak ingin dia lepas. Tolong hentikan waktu untuk saat ini saja. Aku ingin lebih lama merasakan kehangatan dan kenyamanan saat dia menggenggam tanganku seperti ini. Seperti saat dulu. Saat pertama kali jari-jarinya berusaha bertautan dengan jari-jariku dan menggenggamnya erat. Sebisa mungkin aku hilangkan kegugupanku dan mengukir senyuman tipis yang kuusahakan juga terlihat manis dihadapannya.
Setelah janji-janji telah diucapkan kegugupanku pun belum juga hilang. Rasanya udara semakin panas saja. Aku sudah basah akan keringat.
Dia menatapku.
Sekali lagi seperti dulu. Dia menatap mataku dengan senyuman yang membuatku terhipnotis. Seperti dia mencoba mencuri sesuatu dariku. Mencari sesuatu didalam diriku lebih jauh. Dan dia mendapatkan semuanya.
Dia mengambil tangan kiriku dan memakaikan sebuah benda bulat yang cantik dan pas dijari manisku.
Kini giliranku.
Hal yang sama seperti yang dia lakukan padaku. Tanpa kusadari aku tersenyum sendiri saat memakaikannya cincin dijari manisnya.
Jung Hoseok. Nama pangeran yang sedang berdiri dengan gagahnya dihadapanku. Bagaimana bisa dia mengatasi kegugupannya dengan sangat mudah. Dia menatap mataku lebih dalam dari biasanya, dia juga mempersempit jarak dan mendekatkan wajahnya.
Semakin dekat.
Sehingga aku bisa merasakan benda kenyal nan hangat menyentuh bibirku. Tangan kanannya mengelus pipiku.
Dia menciumku.
Selama ini yang dia cerewetkan adalah ingin cepat-cepat menikah denganku karna tak sabar untuk mencium bibirku. Dasar bodoh. Aku memang melarangnya, menyisakan yang satu ini dan yang lainnya untuk nanti. Kini sepertinya sudah dan akan terbayar.
Dia melepas ciumannya dan tersenyum padaku. Lalu memelukku.
"Aku mencintaimu" bisiknya.
Jung Hoseok. Aku juga mencintaimu.
Aku mencintaimu lebih dari apapun.
Aku tidak inginkan apapun dari dunia ini selain dirimu.
Hanya pegang tanganku erat-erat dan jangan pernah kau lepas.
Just love me and stay with me forever.
.fin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Short Story With J-Hope
FanfictionAyo istri-istrinya J-Hope mampir. No plagiat please. Asli buatan author. Mohon maaf jika ada kesamaan cerita mungkin author terinspirasi dari ff yang pernah author baca sebelumnya.
