Steps
.
.
Pagi ini seharusnya berjalan seperti biasa dengan adanya sinar matahari dan kesempatan merevisi kehidupan.
Seharusnya.
Karena napas pria separuh baya itu tengah tercekat saat menilik tab besarnya.
Headline hari ini memiliki font lebih besar dari pada biasanya. Komentar memenuhi setiap artikel dengan kritikan tajam nan panjang.
Keputusan yang dibuatnya membuat berita makin menyebar dan justru menjadi makanan lezat bagi penikmat berita.
Ia mengambil langkah mundur.
Ini hanya tahap awal dari perjalanan negosiasi yang sedang ia ambil.
Teleponnya berdering beberapa kali dengan pemberitahuan yang sama. Media meminta klarifikasi.
Tetapi itu hanya dijadikan sebuah musik pengantar kepanikan.
Ya, pria itu tengah panik dalam wajah kerasnya.
PD-nim menaruh tabnya, berusaha tak memerhatikan lebih layar lebar tersebut.
Keadaannya seperti berada pada sebuah papan dengan penumpu di tengah dengan dua tokoh skandal ini pada dua sisinya. Sayangnya ia berada di posisi terberat sehingga sisinya hampir terjatuh.
Ini berat. Ini sangat berat.
Negosiasinya tak akan berjalan lancar.
Karena negosiasinya hanya akan berjalan seperti ia ingin bergilir meraih sisi yang tertinggi.
***
Senyum pria itu mengembang seperti biasa.
Mengobrol ringan dan sekedar pertanyaan kecil ia lempar seperti biasa.
Seul Hee memelankan sedikit volume radio ketika ia tak bisa menangkap apa yang pria itu katakan.
"Ya, sunbae?"
Panggilannya masih sama seperti dulu.
Dae Yeol menggeleng, "Lupakan."
Seperti janjinya semalam, Dae Yeol mengantarnya menuju kampus. Entah hanya perasaan Seul Hee atau memang suasana agak hening kali ini.
Gadis itu mengamati Dae Yeol yang tak berheti terfokus pada jalanan. Ini yang tidak biasa.
Karena biasanya Dae Yeol akan tetap menatapnya sekalipun hanya sepersekian detik saat mereka berbicara.
Garis ekspresi pria itu yang tidak Seul Hee mengerti.
"Apa Myung Soo memberatkanmu?"
Dae Yeol sedikit terhenyak mendengar pertanyaan itu. Ia tak pernah berpikir bahwa Seul Hee bisa berpikir hingga hal itu.
"Tidak." singkat Dae Yeol. Kekehan yang sengaja ia buat untuk meringankan suasana justru terdengar aneh di telinga Seul Hee.
"Turun lima ratus meter sebelum kampus, kan?" Dae Yeol mengulang pesan gadis itu.
Seul Hee mengangguk. Setelahnya ia merasa mobil memelan di bagian yang tak banyak orang. Hampir tak ada.
Diam-diam Dae Yeol menepikan mobilnya secara perlahan.
Namun hingga rodanya berhenti berputar, Seul Hee belum melepaskan seat beltnya.
"Tidak turun?"
Seul Hee mengernyit. Alisnya bertaut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unknown
Fanfictiond a l a m p r o s e s r e v i s i Seul Hee tak memperkirakan apapun tentang sebuah ketukan secara sengaja atau tidak sengaja ikut mengetuk hatinya. Gadis itu tak pernah tahu siapa yang menyimbangi sebelah unit apartemennya. Bahkan ia tak tahu ji...
