Bunda benar-benar serius dengan ucapannya. Aku sempat beradu argumen dengannya, tetapi tetap saja, aku kalah darinya, yang tidak bisa aku terima adalah semua fasilitasku di cabut termasuk ponsel kesayanganku. Ini benar-benar menyedihkan. Aku tidak bisa meminta pembelaan pada kakakku ataupun Ayah. Mereka benar-benar berpihak pada Bunda. Dan, disinilah sekarang aku berada, di sebuah apartemen pilihan Dika. Aku kemari hanya membawa pakaianku dan dompet yang berisi lima lembar uang seratus ribuan.
Dika benar-benar mengurus segala keperluanku disini. Apartemen ini sudah layak untuk di huni. Aku tinggal menata barang barang ku saja karena semuanya sudah lengkap aku tidak perlu menata apapun lagi. Bahkan design kamar ini sama persis seperti di rumah. Aku berterima kasih untuk ini, hanya untuk ini. Aku belum melihatnya lagi setelah ia mengantarkan aku kesini. ia masih bungkam pasca kejadian tadi malam, ia juga hanya menatapku sekali saat di rumah. Saat di perjalanan menuju ke apartemen pun ia diam saja. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya dan akupun tidak berniat mengetahuinya. Masa bodoh dengan Dika. Aku tidak akan menanyakannya, tidak. Tidak sama sekali.
Beruntung hari ini aku diberi libur untuk adaptasi dengan apatartemenku. Jadi aku tidak perlu melihatnya yang kaku seperti es berada dalam freezer. Seharian ini ku habiskan untuk menata barang-barangku, tidur dan menonton acara tv, itu saja yang aku lakukan sangat membosankan. Aku tidak bisa menghubungi Dewi karena ponselku di sita oleh Bunda. Aku tidak bisa berkomunikasi dengan siapapun tanpa ponselku. Aku melirik jam tangan yang berada dipergelangan tanganku.
19.00 WIB. Pantas saja dari tadi perutku terus saja berontak minta di isi ternyata ini sudah lewat dari jam makan malamku. Aku pun bangkit dari kasurku lalu berjalan menuju dapur. Sesampainya di dapur, aku melangkah mendekati kulkas kecil di samping pantry. Aku membukanya dan mengambil sekotak susu karena hanya ada susu di kulkas. Entahlah mengapa Dika menaruh banyak sekali susu disini. Aku sampai bingung mau di taruh dimana bahan dapurku nanti jadi aku memutuskan untuk membeli keperluan dapur besok saja sepulang dari kantor.
Saat aku tengah meneguk susu, bel apartemen berbunyi. Aku melangkah menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Aku membuka sedikit gorden untuk mengintip siapa yang datang. Aku melihat Dika yang masih memakai setelah kantornya berdiri di depan pintu apartemenku sambil membawa sebuah plastik yang ku yakini berisi makanan.
"Ada apa?" tanyaku saat sudah membuka pintu.
Dika memasuki apartemen tanpa seizinku, ia langsung menuju meja makan dan mengambil alat makan. Ia bertingkah seolah-olah ini adalah apartemennya. Astaga bahkan ia belum mengatakan sepatah kata pun.
"Dika apa yang kau lakukan?" tanyaku sambil menghampirinya.
"Kau sedang minum susu?" tanyannya sambil melihat susu kotak yang ada di atas meja makan, ia mengabaikan pertanyaanku.
Aku duduk di depannya yang sedang menata makanan. Banyak sekali makanan yang ia beli. Ku rasa ia pecinta makanan padang. Aku sudah sering memergokinya di rumah makan padang. Jangankan memergoki, aku bahkan sudah pernah di makan disana bersamanya.
"Ayo makan." titahnya saat makanan sudah tertata rapi.
Aku menghela napas kasar, ia masih sama. Bertindak sesuka hati, memerintahku ini dan itu. Jadi ia kemari hanya untuk mengajakku makan. Aku baru sadar kalau ia tidak pernah meminta persetujuanku terlebih dahulu dalam segala hal ia selalu membuat keputusannya sendiri. Ini Menjengkelkan.
"Aku akan menghabiskan ini." ucapku sambil mengangkat susu kotak yang berada di tangan kananku.
"Kau saja yang makan." sambungku.
"Kau bisa menghabiskannya dulu setelah itu makan." ucapnya sambil mengambil nasi dan lauk pauk ke piring.
"Aku bahkan sudah merasa kenyang setelah menghabiskan ini, tidak mungkin aku makan dengan kondisi perut yang terisi penuh." tolakku.
KAMU SEDANG MEMBACA
He's The Boss
Romance18+ Saat ini aku sedang menjadi anak pembangkang yang menerima karma. Aku mengatakannya karena saat ini sedang mengalami kesulitan atas keputusan egois yang ku buat 4 tahun yang lalu. Aku memaksa mengambil jurusan manajemen bisnis disaat tidak ada a...
