"Nilan?" panggil Tante Indri.
"Iya Tante." sahutku.
"Makan siang disini saja ya, nanti Tante telepon Dika agar ia juga makan di rumah." ucap Tante Indri.
"Maaf Tante bukannya Nilan menolak tetapi Nilan sudah ada janji lain." ucapku tidak enak.
"Dengan pacar kah?" tanya Tante Indri.
"Bukan." sahutku seraya tersenyum pahit.
"Maaf nyonya, ada tamu di depan." ucap salah satu bodyguard.
"Siapa?" tanya Tante Indri.
"Seorang laki-laki memakai seragam putih abu-abu bernama Wisnu." ucap bodyguard bernametag Hasan.
"Wisnu?" ucapku refleks membuat Tante Indri melihat ke arahku.
"Kamu mengenalnya, Nil?" tanya Tante Indri.
"Iya Tante maaf sepertinya Nilan harus pamit." Ucapku sebelum anak itu menbuat keributan.
"Ah iya-iya, kapan-kapan main ya Nil." ucap Tante Indri.
Akupun menanggapinya dengan senyuman saja lalu berjalan cepat menuju ke luar rumah untuk mengambil mobilku kemudian menghampiri Wisnu.
"Darimana kau tahu aku ada disini?" tanyaku kepada Wisnu.
Saat ini aku dan Wisnu sedang di perjalanan menuju sekolah karena anak itu sangat berisik sehingga membuatku menurutinya agar janjiku segera berakhir.
"Dari hati." jawabnya seraya memegang hatinya dan mengedipkan matanya.
"Ish." desisku sambil memutar bola mataku.
"Mengapa mobilmu bisa ada disana?" tanya Wisnu.
"Kau tidak membawa motor mu?" tanyaku mengabaikan pertanyaannya.
"Kabur lewat belakang." ucapnya seraya cengengesan.
Saat ini kami sudah di perjalanan dengan aku yang menyetir karena anak itu tidak membawa motornya, jadilah ia sekarang satu mobil denganku.
"Mengapa sampai kabur, aku kan sudah katakan padamu kalau nanti aku akan ke sekolahmu." omelku.
"Aku takut kalau kau malah jalan dengan si Dika itu." ucapnya.
"Apa yang kau bicarakan itu Wisnu, Dika pasti sedang bekerja."
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Nil." ucapnya serius.
"Yang mana lagi?" tanyaku kesal.
"Itu, mobil kamu kenapa bisa ada di sana." ucapnya dengan nada kesal.
"Urusan pribadi." ucapku yang sudah tak ingin merespon pertanyaannya lagi. Ia membuatku tidak fokus menyetir.
"Ya apa?" ucpanya lagi mmebuat emosiku sampai di ubun-ubun.
"Kalau sekali lagi kau bertanya, aku akan men—"
"Cium pipiku." ucapnya mendahului ucapanku.
Aku berdecak, "Sekali lagi kau bercanda akan ku turunkan kau ditengah jalan." ancamku.
"Iya ampun Nil ampun." ucapnya.
Setelah itu, tidak ada lagi percakapan diantara aku dan Wisnu. Ia benar-benar bungkam setelah aku ancam. Wisnu memang sangat menurut bila denganku. Tiga puluh menit berlalu, mobilku sudah sampai di depan gerbang sekolah Wisnu.
"Ada perlu apa ya mbak?" tanya satpam sekolah.
"Saya ingin bertemu dengan Pak Angga." ucapku.
"Silahkan masuk." ucap satpam tadi. Mobilku pun masuk ke dalam parkiran sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
He's The Boss
Storie d'Amore18+ Saat ini aku sedang menjadi anak pembangkang yang menerima karma. Aku mengatakannya karena saat ini sedang mengalami kesulitan atas keputusan egois yang ku buat 4 tahun yang lalu. Aku memaksa mengambil jurusan manajemen bisnis disaat tidak ada a...
