Aku terus memegangi bahu Ibu hamil tadi sambil menunggu kakak-ku keluar dari mobil. Namun ia tak kunjung keluar, merasa tak ada respon darinya, aku melepas sepatu yang aku kenakan dan melemparkannya ke bagian depan mobil. Benar saja ia keluar dari mobil dengan ekspresi yang sulit diartikan, antara terkejut dan bingung. Tapi mungkin memang sudah naluri seorang Dokter, ia langsung berlari menghampiri kami.
"Siapa ini ?" tanyanya dengan tergesa-gesa.
"Tolonnng..." ucap Ibu hamil dengan suara lemas.
"Kemana saja dari tadi, Nilan teriak tapi tidak direspon!" ucapku sewot.
"Tadi Bunda menelepon, ia menyuruh kita pulang." ucapnya yang membuat otak brilianku bekerja.
"Tepat! Sekarang ayo bawa ke rumah."
Kakakku langsung menggendong Ibu hamil tadi masuk ke mobil. Di perjalanan, ibu hamil tadi selalu merintih kesakitan. Aku yang disampingnya merasa gelisah tidak karuan, beruntung rumah kami dekat jadi tidak butuh waktu lama untuk menenangkannya .
Sesampainya di rumah, "Bundaaa ada pasien!" teriakku.
Bunda menghampiri kami dengan pakaian seragam yang masih menempel ditubuhnya.
"Siapa ini Nilan, Kevin?" tanya Bunda seraya melihat aku dan kakakku dengan wajah bingung.
"Bu, tolong..."
"Ayo bawa ke ruang praktek Bunda." titah Bunda.
Kakakku langsung membawa Ibu hamil tadi dan merebahkannya di bed tempat bersalin.
"Kalian tunggu diluar." titah Bunda.
Aku dan kakakku pun menuruti perintah Bunda untuk meninggalkan ruangan bersalin. Kami memutuskan untuk menunggu di depan pintu. Tidak ada yang mau memulai percakapan, aku dan kakakku seakan terhanyut dengan pikiran kami masing-masing.
Selang berapa menit terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan. Aku melihat bahu kakakku merosot seketika. Aku yang menyadari itupun sontak bertanya, "Kenapa Bang?"
"Akhirnya lahir juga bayinya." ucapnya disertai kekehan kecil.
Keningku refleks mengkerut, ada apa dengan kakakku ini. Ia seperti seorang suami yang sedang harap-harap cemas menunggu buah hatinya lahir.
"Hahaha." Aku terkekeh memikirkan hal itu.
Pletak..
Satu jitakan mendarat mulus dikeningku. Aku menatapnya sewot sambil berkata, "Apa sih!"
"Ya kamu kenapa tiba-tiba tertawa sendiri seperti orang gila."
"Siapa juga yang tertawa." ucapku melanjutkan perdebatan yang tidak penting ini.
"Malah pada ribut, ayo masuk kalian tidak tidak ingin melihat bayinya?" tanya Bunda.
Aku dan kak Kevin segera masuk untuk menemui Ibu dan bayi.
"Selamat ya Tante, bayinya sehat." ucapku sambil tersenyum setelah melihat bayi yang sedang dalam pelukannya.
"Makasih ya. Siapa namamu?"
"Nilan, Tante." ucapku memperkenalkan diri.
"Iya makasih ya Nilan dan?" ucap Ibu tadi melihat wajah Kak Kevin.
"Kevin, Tante." ucap Kakakku.
"Oh iya Kevin, Tante minta tolong hubungi suami Tante ya ini nomornya." ucap Ibu tadi yang ku yakini bernama Indri setelah melihat papan nama yang berada di depan bed bersalin.
Kakakku menerima kartu nama tadi dan berniat menghubunginya. Gerak mata kakakku terlihat sedang mencari sesuatu. Ku ikuti arah pandangnya dan matanya jatuh kepada ponsel yang tergeletak diatas meja praktek Bunda. Oh tidak itu ponsel-ku!
KAMU SEDANG MEMBACA
He's The Boss
Romance18+ Saat ini aku sedang menjadi anak pembangkang yang menerima karma. Aku mengatakannya karena saat ini sedang mengalami kesulitan atas keputusan egois yang ku buat 4 tahun yang lalu. Aku memaksa mengambil jurusan manajemen bisnis disaat tidak ada a...
