20. Apa Maksudnya?

14.8K 565 5
                                        

Ku buka mataku dengan gerakan perlahan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam mataku. samar-samar aku melihat seorang wanita yang ada di sampingku yang tengah menatap ke arahku.

"Nilan, ah syukurlah akhirnya kau sadar juga." pekik suara wanita itu.

Sadar? Memangnya aku kenapa sampai ia memekik lega melihat aku membuka mata. Ku tajamkan penglihatanku melihat sekeliling. Ini bukan kamarku. Ruangan ini asing, aku belum pernah kesini.

"Dimana aku, Dew?" tanyaku.

"Kau tidak ingat?" tanyanya sambil menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

" Kau telah membuat heboh orang satu kantor." sambungnya dengan ucapan yang mendramatisir.

Aku memutar bola mataku mendengarnya ucapannya. Memangnya siapa aku sampai membuat heboh orang satu kantor. Petinggi bukan, pemegang saham juga bukan. Mengapa orang peduli denganku.

"Itu lebih terdengar seperti sebuah lelucon." ledekku.

"Pecyalah padaku." ungkapnya dengan ekspresi yang menjijikan.

"Apa yang harus membuatku percaya padamu." sahutku.

Ia memutar kedua bola matanya, "Akan ku ceritakan." ucapnya setelah mengambil napas banyak-banyak seolah-olah hal yang akan ia ceritakan adalah sebuah hal yang besar.

Dewi menceritakan kalau aku di gendong oleh Dika dari lift sampai kesini, ke unit kesehatan perusahaan. Akibat dari ulahnya, aku dan Dika sukses menjadi pusat perhatian semua karyawan kantor. Tidak berhenti sampai disitu, Dewi mengungkapkan bahwa Dika memarahi habis-habisan staff keamanan dan keselamatan kantor karena peristiwa ini. Aku hanya manggut-manggut dan merespon biasa saja saat mendengarkan cerita darinya. Aku tahu ia hanya mengarang cerita karena itu lebih terdengar seperti sebuah adegan yang hanya ada novel. Lagi pula aku tidak percaya Dika melakukan hal itu.

"Ada karyawan di lantai 20 yang melihat kau, emmm pak Davin..."

Dewi menggantungkan ucapannya. Aku mengangkat satu alisku, aku mencoba tidak mengatakan apapun dan menjaga ekspresi wajahku agar terlihat biasa saja walaupun sebenarnya aku sungguh penasaran dengan kata selanjutnya yang akan Dewi katakan.

"Mencium mu di lift." ucapnya berbisik.

"Dika menciumku?" tanyaku sambil menunjuk diriku untuk memastikan. Atas dasar apa ia melakukannya, sepertinya ini kesalah pahaman.

"Berhenti membuat lelucon Dew, itu sungguh tidak lucu sama sekali." ucapku sambil berdiri dari bed ku.

"Ehh duduk dulu." ucapnya sambil menarik tanganku dan berhasil membuatku duduk kembali diatas kasur.

"Ada apa? Aku harus ke ruanganku."alibiku.

Sebenarnya aku ingin menemui Dika. Aku ingin menanyakan apa yang terjadi sampai aku berada disini. Sungguh aku hanya akan menanyakan itu karena semua yang Dewi katakan ku rasa semuanya bohong, aku tidak akan membahas itu dengannya karena terdengar sangat tabu.

"Percuma, Nil. Coba kau lirik jam tanganmu." titah Dewi.

17.00 WIB. Astaga! Aku membulatkan mataku melihat angka yang tertera di jam tanganku.

"Aku baru membelinya kemarin, Dew. Ku rasa tidak mungkin kalau rusak. Asal kau tahu, ini keluaran terbaru." ucapku sambil meneliti jam tanganku, siapa tahu ada yang salah.

"Otakmu yang salah, Nil. Kau pingsan di lift dan tidak sadarkan diri. Dika sampai memanggil beberapa dokter. Ia sangat panik begitu kau tidak sadarkan diri dalam waktu yang lama." rentetnya.

He's The BossCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang