31. Sebuah Usaha Memperbaiki (2)

12K 408 3
                                        

Sebuah kata-kata manis dan perlakuan romantis adalah dua hal yang paling disukai oleh wanita. Aku tahu karena aku adalah wanita. Sayangnya, aku adalah wanita yang tidak tahu bagaimana rasanya di cintai oleh seorang pria. Sangat miris memang, disaat teman-teman seusiaku sudah gonta-ganti pacar, aku malah sama sekali belum pernah merasakannya.

Aku akui bahwa aku pernah mengatakan pada Dewi kalau aku menyukai Dika karena ia gagah dan berwibawa. Dewi tertawa saat aku mengatakan itu padanya. Ia mengatakan kalau aku ini bukan hanya menyukai tetapi sudah jatuh hati pada Dika. Tentu saja aku tidak langsung percaya padanya, oleh karena itu diam-diam aku membaca sebuah artikel tentang cinta dan hasilnya adalah aku tidak jatuh hati padanya. Aku hanya mengaguminya secara fisik. Jadi aku tidak pernah memikirkan hal itu lagi semenjak saat itu. Aku juga tidak mungkin jatuh hati pada bosku sendiri terlebih ia adalah orang yang sangat otoriter. Begitupun sebaliknya, Dika juga tidak mungkin menyukaiku. Namun entah mengapa akhir-akhir ini Dika mulai berbeda. Ia melakukan hal-hal diluar dugaanku. Ia yang tiba-tiba datang menemuiku ke apartmen Dewi, menawarkan diri untuk mencuci piring hanya untuk sebuah kata maaf padahal aku sangat hafal bahwa pria itu tidak pernah mau melakukannya.

Aku tidak tahu apa maksud ia membawaku ke pantai saat keadaan tidur. Ia juga membatalkan semua jadwalnya hari itu hanya untuk menghabiskan waktunya denganku. Ia memberiku dua pasang pakaian yang harganya sama dengan gajiku selama tiga bulan. Aku selalu menolak saat ia mengatakan 'ini cocok untukmu' tetapi ia adalah Dika dengan semua otoritasnya. Ia langsung pergi ke kasir untuk membelinya padahal aku sendiri tidak menginginkannya. Aku mencoba menghentikannya dengan berpura-pura lapar lalu ia langsung mengajakku ke tempat makan. Aksi menghambur-hamburkan uang pun berhasil aku hentikan.

Tidak sampai disitu, aku tidak habis pikir saat Dika mengajakku memasuki tempat yang bertuliskan 'only korean food'. Aku sampai bertanya beberapa kali padanya apakah ia salah tempat atau tidak tetapi Ia menjawab 'aku tahu kau menyukai korean food jadi tidak ada salahnya aku mencoba' begitu katanya. Aku menepis segala pirikan negatif yang terlintas dalam otakku. Dika ternyata sangat pintar dan pandai meluluhkan hati wanita. Aku yang awalnya sama sekali tidak ingin bertemu dengannya kini di buat gelisah saat jauh darinya.

"Nilan, bisa kau ambilkan kotak biru disana." titah Dika seraya menunjuk kotak biru yang terletak di meja tamu.

Saat ini aku dan Dika sedang berada di kantor beraktivitas seperti biasanya. Mendengar perintah dari bos, aku pun segera bergerak untuk mengambil kotak biru yang ditunjuk olehnya.

"Itu untukkmu." ucapnya saat aku hendak menyerahkan kotak biru itu padanya.

Aku mengernyit, "Untukku?" tanyaku dengan alis bertaut.

Ia mengangguk seraya berkata, "Aku akan menjemputmu jam 7 malam. Jangan banyak tanya dan kembalilah ke tempatmu." ucapnya seraya tersenyum.

Setelah itu ia kembali berkutat dengan layar laptop dan komputer yang ada dihadapannya. Aku sangat penasaran dengan isi kotak ini ingin rasanya aku membukanya sekarang juga tetapi Dika tidak menyuruhku untuk membukanya jadi aku harus menahan rasa penasaranku sampai pulang dari kantor.

Saat istirahat tiba, Dika mengajakku makan siang di kantin tetapi aku menolaknya karena membawa salad. Ini sebenarnya hanya alasanku saja karena aku tidak ingin terlihat berdua dengannya. Aku bukannya takut tetapi aku hanya mencari aman saja. Aku tidak mau hal buruk menimpaku lagi hanya karena Siska terbakar api cemburu.

"Kau mencoba menghindariku lagi?" tanya Dika penuh selidik.

Aku menggeleng, "Aku sedang mencoba diet, lihat pipiku mengembang." ucapku mengada-ada padahal dari dulu pipiku memang sudah begini.

"Ini bagus, kau semakin terlihat menggemaskan." ucapnya seyara mencubit pipiku.

"Kali ini hanya pipi, bagaiama kalau besok perutku lalu kakiku?" ucapku.

He's The BossCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang