Pintu lift terbuka, aku masih berdiri dengan kepala menunduk berada di pojok kiri bagian belakang lift. Aku melihat ada sepasang sepatu high heels berwarna merah menyala masuk ke dalam lift.
"Loh kau siapa?" tanyanya sinis.
Aku berniat keluar lift tanpa menjawabnya, aku tahu aku pengecut, oke aku mengakuinya. Tangan wanita itu menghalangi langkahku dan mendorongku ke belakang lift, tempat yang persis tadi aku tempati padahal sebentar lagi aku bisa keluar. Aku melihat ia menekan tombol angka satu, yang artinya aku akan turun lagi ke lantai dasar. Shit!
"Apa maksudmu?" tanyaku padanya dengan nada sedikit tinggi. Ku beranikan diri untuk menatapnya, walaupun dengan kaki yang sedikit gemetar.
"Ku rasa resepsionis sudah memberitahumu, lift mana yang seharusnya kau gunakan." ucapnya dengan nada angkuh.
Aku memutar bola mataku mendengar ucapannya padahal tinggal satu langkah lagi aku sampai di lantai lima, tetapi wanita ini mengacaukannya. Sial, ini sungguh sial. Lihatlah gayanya, apa yang sebenarnya Ia kenakan. Rok kah? Aku tidak tahu harus menyebutnya rok atau bukan karena itu tampak sangat pendek. Aku yakin kalau ia membungkuk sedikit saja, celana dalamnya pasti akan kelihatan dan asal kalian tahu, aku bisa melihat bra pulkadot yang Ia kenakan dibalik kemeja putihnya. Astaga warna heels yang Ia pakai sangat mencolok. Aku bingung, sebenarnya Ia berniat pergi ke kantor atau klub malam.
Ting. Pintu lift terbuka.
"Silahkan keluar." titahnya.
Angkuh sekali wanita ini, aku ingin tahu apa jabatan Ia di kantor ini. Sampai berani-beraninya memperlakukan aku seperti ini. Dengan perasaan kesal aku keluar lift dengan menghentak-hentakan kakiku dan mengepalakan tanganku. Awas saja, kalau aku sudah bekerja disini, akan ku balas.
Bruk. Aku menabrak seseorang di depanku.
"Sepertinya kau hobi sekali menabrak orang." ucapnya.
Aku mengangkat kepalaku untuk melihat siapa yang ku tabrak. Ternyata Dika.
"Sorry." ucapku dengan senyum penuh rasa sesal.
"Apa kau tidak interview?"
"Aku baru akan kesana." ucapku.
"Aku permisi." tambahku seraya berjalan menuju lift sebelah kiri.
"Ikut denganku." ucapnya sambil menarik tanganku. Dika menyeretku menuju lift sebelah kanan.
"Ini bukan lift untukku, tadi aku memakai lift ini dan dimarahi oleh jal- seorang wanita." ucapku dengan nada kesal meralat kata jalang yang hendak ku katakan.
"Waktu interview mu sudah hampir dekat, lihatlah antriannya masih panjang kalau kau memakai lift itu aku tidak yakin kau bisa mengikuti interview mu." ucapnya.
Benar juga apa yang dikatakan oleh Dika, aku bisa kehilangan kesempatan lagi kalau aku sampai terlambat. Lagi pula sepertinya aku tidak perlu takut dimarahi karena melanggar aturan toh aku memakai lift ini atas persetujuan Dika yang notabene adalah seorang CEO di kantor ini. Ya you knowlah CEO kan bebas.
"Oke terserah kau saja." cetus ku.
Ting. Pintu lift terbuka, aku dan Dika memasuki lift. Sedari tadi kami berbincang sampai memasuki lift, tanganku pun tidak lepas dari genggaman Dika. Entah ia lupa atau memang sengaja tetapi kurasa opsi pertama lebih meyakinkan karena kalau sengaja sepertinya tidak mungkin. Aku ingin melepaskan tanganku dari genggamannya tetapi ada perasaan nyaman ketika tanganku di genggam olehnya. Tangan Dika begitu besar dan lembut, aku merasa terlindungi berada di genggamanya sehingga aku membiarkannya sampai kami berada dilantai tiga. Menginjak lantai empat,
KAMU SEDANG MEMBACA
He's The Boss
Storie d'Amore18+ Saat ini aku sedang menjadi anak pembangkang yang menerima karma. Aku mengatakannya karena saat ini sedang mengalami kesulitan atas keputusan egois yang ku buat 4 tahun yang lalu. Aku memaksa mengambil jurusan manajemen bisnis disaat tidak ada a...
