3. Menolak Kesempatan

22.2K 781 7
                                        

Wisnu adalah seorang brondong yang mempunyai cita-cita menjadi pacarku. Aku tidak sedang mengada-ada memang itulah kenyataanya. Sedikit cerita, awal aku bertemu dengannya yaitu saat pertama kali aku berkunjung ke rumah Dewi untuk kepentingan tugas kuliah. Dewi adalah kakaknya Wisnu. Pada saat itu, Wisnu sedang dimarahi oleh Dewi karena ia ditangkap polisi karena balapan liar. Polosnya aku, disitu aku membela Wisnu. Aku pikir wajar saja karena memang sejatinya remaja seumuran Wisnu itu sedang mencari jati diri tidak perlu samapi dimarahi cukup dinasehati dari hati ke hati. Aku membelanya bukan karena aku suka padanya. Yang benar saja, aku hanya melihat Wisnu sebagai adik karena umurku lebih tua tiga tahun darinya. Tetapi kebaikanku disalah artikan oleh Wisnu sehingga sampai sekarang Ia masih mengejar-ngejarku. Jangan tanya Ia mendapat nomorku dari siapa, jelas dari Dewi, kakaknya. Tidak hanya nomor ponsel saja bahkan semua akun media sosialku pun ia mengetahuinya.

Aku membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Wisnu.

From Wisnu
Good news Nil, ada lowongan kerja untukmu. Nanti malam ku jemput.

Wisnu memang tak pernah memanggilku dengan embel-embel 'kak'. Menurutnya memanggilku 'kak' hanya akan membuat dirinya seperti adik kecil jika denganku.
Ia ingin lebih dari adik. Itulah jawaban Wisnu ketika aku bertanya mengapa ia tidak memanggilku dengan embel-embel 'kak'. Aku membalas pesan dari Wisnu dengan senang hati. Jelas saja aku senang karena ini berita baik. Pekerjaan? Ah aku sudah tidak sabar ingin merasakan bagaimana rasanya bekerja. Katanya lelah tetapi biarlah daripada dimarahi Bunda setiap hari itu lebih lelah.

To Wisnu
Ok, cafe pink pukul 19.30 wib no late.

Setelah membalas pesan dari Wisnu, aku berjalan menuju kamar. Setibanya di kamar aku menyimpan ponselku diatas nakas lalu bergegas ke kamar mandi karena waktu sudah menunjukan pukul 17.00 wib.

Pukul 18.30 semua keluarga sudah berkumpul di meja makan. Aku duduk berdampingan dengan Kakakku dan di depanku ada Bunda dan Ayah.

"Besok jadi kan kamu ke rumah bu Indri?"

Aku yang hendak memasukkan makanan ke dalam mulutku berhenti mendengar pertanyaan Bunda. Sebelum menjawab, ku sempatkan mataku untuk melirik ke arah Ayah dan Kakak-ku. Benar saja mereka semua kini tengah menatapku.

"Nilan ingin usaha sendiri dulu Bun." ucapku sembari memasukkan makanan yang tadi sempat tertunda. Ku lihat wajah Bunda yang terlihat tidak bersahabat setelah mendengar jawabanku.

"Bu Indri siapa, Bun?" Tanya Ayah. Oh iya aku belum memperkenalkan Ayah-ku.

Perkenalkan nama Ayahku Randi Pradana. Beliau seorang polisi berpangkat brigadir sekaligus bergabung di tim rangers atau tim khusus di kesatauan kepoliasiannya. Saat masih menjadi pelajar SMA aku sering ikut patroli malam dengan Ayah. Pernah juga aku ikut operasi target seorang bandar narkoba. Walaupun aku hanya duduk didalam mobil tapi aku merasakan ketegangan dan ketakutan yang amat dalam tetapi percayalah itu adalah pengalaman yang paling seru dalam hidupku. Sebenarnya aku tidak boleh ikut tetapi aku tetaplah aku.

"Pasien Bunda, Yah, tadi menawarkan pekerjaan kepada Nilan." sahut Bunda.

"Oh, ya diambil saja nak lumayan 'kan kamu tidak harus mencari-cari lagi." ucap Ayah.

"Tapi, Nilan ingin mencoba mencari sendiri Yah, Bun." ucapku menegaskan apa yang ku katakan.

"Kamu itu dikasih enak maunya susah." ucap Bunda.

Aku melirik ke arah kakakku siapa tahu ia akan membelaku tetapi ia malah sibuk makan samapi aku pun sudah merasa tidak nyaman hingga memutuskan menyudahi makan dan pergi ke kamar.

"Mau kemana?" tanya Bunda.

"Kamar." ucapku datar.

"Begitulah adik kamu Vin, tidak pernah terima kalau diberi saran." ucap Bunda.

He's The BossCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang