hari h

1.8K 138 9
                                    

Satu pekan telah berlalu dengan begitu cepatnya. Tibalah saatnya sekarang dua pasang insan yang tengah menjadi sorotan kamera dan semua orang yang berada di pesta ini sekarang.

Acara begitu meriah. Tentunya kedua orang tua aldi tidak ingin melewatkan acara pertunangan ini begitu saja. Setidaknya peristiwa ini harus menjadi kenangan bagi mereka nantinya. Sebab itulah banyak wartawan yang datang merekam acara pertunangan putra semata wayang dari seorang pengusaha sukses liston siregar yang nantinya akan mewarisi perusahaan ayahnya.

Saat yang begitu di nanti nanti akhirnya tiba.

"tangan lo"kata aldi dengan ekspresi seperti biasanya dengan cincin permata yang begitu indah kecil namun dapat memikat hati siapapun yang melihatnya telah berada pada genggaman aldi.

Di sisi lainnya.wanita itu nampak acuh tanpa mempedulikan omongan aldi.

Dengan terpaksa aldi mengangkat tangan salsha hingga cincin mungil itu telah berada pada jari manis salsha.

Sorak riuh telapak tangan telah terdengar sedari tadi. Hingga satu persatu tamu terlihat pergi meninggalkan pesta.

"nah. Kalian kan sudah tunangan. Jadi sekarang kalian bisa tinggal serumah"

"kata tante melina memecah keheningan di antara kami. "

"tentunya aku tidak akan terkejut lagi dengan hal ini. Toh memang begitu seharusnya.

#part history salsha#
Usai makan malam bersama dengan keluarga aldi. Aku bergegas naik ke kamar yang telah di tunjukkan oleh tante melina sebelumnya.

Tentu kali ini sangat beda dengan biasanya. Tidak ada lagi mama yang akan aku lihat setiap harinya. Sebenar nya bisa saja mama tinggal bersama kami disini. Tapi mama sendiri lah yang menolak lantaran ingin tetap berjualan dan menjaga rumah peninggalan ayah dengan baik.

Suara knop pintu terdengar. Muncul sosok pria dari balik pintu.

"lo ngapain kesini? "tanyaku.

"memang harus yah gue jawab? "katanya tanpa permisi langsung mengambil posisi baring di dekatku.

Aku terkesiap. Tentu saja aku sudah mengerti dengan maksud dibalik ucapannya barusan.

Tentu aku masih tau diri. Mana mungkin aku mengusirnya keluar dari kamar padahal aslinya dia lah yang seharusnya berkata demikian padaku.

"lo mau ngapain? "tanya nya saat melihat ku mengambil bantal dan guling.

"gue mau tidur di sofa"kata ku baru akan melangkah pergi.

"nggak. Nanti gue kena omel. Lo tidur di ranjang aja. Gue aja yang tidur di sofa"

"gue aja"kataku masih bersi keras.

Namun dia telah lebih cepat memposisikan dirinya di atas sofa.

Mau bagaimana lagi.malas juga kalau gue harus berdebat lagi dengannya sekarang. Bukannya ini bagus buat gue.

Setelah acara tadi. Rasanya semua badan ku pegal. Hal ini membuat ku tidur lebih cepat dari biasanya.

Rasanya aku langsung begitu nyaman dengan posisi tidurku sekarang.

Cahaya mentari seolah menusuk nusuk ke dua kelopak mataku untuk segera terbuka. Pelan namun pasti mataku terbuka secara sempurna. Kurasakan sesuatu yang menimpa perutku.sedikit berat namun aku merasa nyaman dengan posisi sekarang.

"whats up. Oh my god. Apa yang lo lakuin? "kataku segera merubah posisiku menjadi duduk dengan ekspresi terkejut.

Ia masih belum meresponku. Ia menggeliat dalam balutan selimut putih yang membuat tubuhnya nyaman.

"bangun lo"kataku tidak bisa santai.

"ada apaan sih sa. Lo udah gangguin tidur orang aja. "

"apa yang lo udah lakuin? "ulangku.

"gue nggak ngelakuin apa-apa"

"terus kenapa lo meluk gue? "

"yang namanya orang tidur nggak sadar lah sa. Lagi pula gue masih waras. Gue nggak mungkin ngapa ngapain lo.udah ah. Gue laper"katanya lalu beranjak turun ke lantai bawah.

"sa"teriaknya.

"apa lagi. "balasku balik berteriak.

"siapin gue makanan"

"ogah. Lo masak sendiri. "

Entah apa yang terjadi sekarang dengannya. Percakapan jarak jauh kami berakhir setelah kalimat terakhir yang ku ucapkan.

Setelah mencuci muka dan sedikit merapikan penampilan. Aku turun ke bawah untuk melihat keadaan di bawah.

Komen kalau suka part kali ini. Dan mau gue next ceritanya.

Dan apa yang terjadi. Saat pertama kali menginjakkan kaki di area dapur aku sudah di sambut dengan panci dan wajan yang berjatuhan di lantai. Bukan hanya itu. Bahkan semua rempah rempah yang tadinya tersusun rapi kini berhamburan di lantai dengan percampuran tak karuan.

"aldi. Apa lagi yang lo lakuin sekarang? "geramku.

"lo nggak liat gue lagi masak"katanya enteng.

"lo masak bukan lagi perang. Nggak perlu sampai buang panci segala. "

"oh itu. Gue tadi lagi milih panci. Eh malah semua ikutan jatuh. "

"lo santai banget ya kalo lagi ngomong"kataku menahan emosi.

"emang."

"lama lama gue gunting gunting noh mulut lo"batinku.

"gue tau lo laki-laki. Tapi nggak ada yang seburuk lo di. Lo itu ergh... "kataku tidak bisa meneruskannya.

"dari pada lo ngomong sendiri. Mending lo makan. Gue udah siapin juga buat lo. Seharusnya lo berterimakasih sama gue.dan satu lagi lo harusnya beruntung punya suami kayak gue"katanya terdengar santai namun ekspresinya sangat serius.

"aku terpaksa menurut. Walau sebenarnya aku merasa tidak mood untuk makan. Namun tidak bisa aku pungkiri kalau perutku sekarang meminta untuk di beri makanan.

Suapan pertama akhirnya berhasil mendarat di mulutku.

"HUEK..... "

"ini makanan apa huek. ..an

"di. Lo bisa masak apa enggak sih"kataku sedang susah payah mengontrol emosiku. jadilah sekarang aku semakin tidak ada nafsu makan setelahnya.

"perlu yah gue jawab? "kata kata itu lagi.

"lo kalau nggak bisa masak kenapa masak? "

"kan lo tadi yang bilang sendiri"

"lo tolol bego atau oon sih? "

"gue nggak ada diantara yang ketiga lo sebutin tadi. "

"shit. Mimpi apa gue semalam"

"lo semalam nggak mimpi kok. Orang tidur lo pulas banget"

"diam.... "teriakku.

"sial. Kayaknya gue harus sabar ngehadapin si kunyuk ini" batinku.

04 agustus 2017
Like kalau suka part kali ini


Mungkinkah Cinta?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang