BAB 5 • Menang atau Kalah

1K 35 5
                                        

"Ups! Maaf, tapi gue yang menang."

-G-




Ada banyak makanan yang memenuhi ruang keluarga Sherin. Mulai dari cheeseburger keinginan Ica sampai martabak coklat makanan kesukaan Sherin, semuanya yang pasti enak ada. Meskipun sempat berseteru dengan Sherin ketika akan membeli itu semua terlebih ketika mengingat amanat Mama Ica lewat Dena, tapi pada akhirnya Ica tetap memesan itu semua via online. Dan martabak coklat itu bisa disebut sebagai sogokan untuk Sherin.

"Kapan camping?" Tanya Ica yang mulutnya belepotan dengan mayonais dan saus.

Sherin yang sedang menikmati martabaknya memberi jawaban,"mulai Jum'at," jawabnya singkat. "Lo mulai masuk sekolah hari Senin ya?"

Gadis yang berusia satu tahun diatas Sherin pun mengiyakan pertanyaan Sherin sesaat setelah ia melahap suapan terakhir cheeseburgernya. Lalu tangannya mengambil satu potong martabak dari dusnya dan ikut melahapnya.

"Kalau makan lo lelet gini, bisa-bisa kita berdua kena marah Ibu, Sher." Protes Ica terhadap Sherin yang memang selalu lelet ketika mengunyah makanan. "Gue udah ngabisin satu mangkuk mie sama satu beefburger dan lo baru beres makan mie, terus sekarang gue udah abis makan cheeseburger sama sepotong martabak yang bentar lagi abis dan lo masih bergelut dengan satu potong martabak."

Sherin yang tak mau kalah pun menimpali, "itu mah lo aja yang kelaperan cenderung rakus. Orang lo masak mie pake air termos bukan ngerebus mie di panci, ya iyalah cepet."

"Ngeles aja lu!" Dengus Ica sambil tertawa, diikuti Sherin.

Tawa yang membuat suasana hangat pun seketika lenyap saat Sherin sudah selesai dengan sepotong martabaknya. Ia mendadak mengakhiri tawanya.

"Mau sampe kapan lo begini? Ngelampiasin kekesalan lo dengan ngehabisin harta Papa lo." Nada bicara Sherin yang tadi penuh dengan canda kini menjadi penuh keseriusan, bahkan matanya tak lagi fokus pada martabak atau makanan lain melainkan pada Ica disampingnya.

Ica jadi terdiam. Ia yang biasanya cerewet mendadak diam seribu bahasa. Kunyahan dalam mulutnya pun terhenti dan ia segera menelannya. "Nggak tau. Mungkin sampai mereka paham dan mengerti kondisi gue." Katanya enteng sambil menjilati sisa saus dan coklat di jarinya.

Sherin tersenyum miring. Cewek blasteran itu menepuk jidatnya. "Mama lo lagi dirumah sakit, Ca. Seenggaknya lo bisa berubah selama dia sakit. Berhenti foya-foya, dengerin nasihatnya."

"Apa yang gue lakuin ini nggak seburuk perlakuan mereka ke gue sama Gia. Mereka sama-sama egois, sering berantem depan anak-anaknya." Air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk mata Ica kini tumpah merembesi pipinya. "Papa yang nyari duit jadi ngerasa berkuasa dirumah, dan Mama yang juga ngerasa bisa punya penghasilan sendiri selalu ngebantah perintah Papa."

Kala melihat Ica yang sudah tak bisa menahan air matanya, Sherin dengan sigap memeluknya. Ia mengelus punggung Ica dengan lembut. Sedikit memberi ketenangan.

"Tujuan gue cuma pengin bikin mereka sadar, kalau uang itu bukan yang paling berarti didalam hidup. Gue mau bikin image yang buruk tentang uang sama mereka, supaya mereka tahu kalau uang dan kekayaan itu nggak selamanya berharga. Semuanya jadi kacau, ditambah Papa yang ringan tangan bikin semua tambah kacau, yang terakhir inilah yang buat Mama sampe harus dibawa ke rumah sakit."

Sherin melepaskan pelukannya kala Ica menyelesaikan kalimatnya. Ia memegang kedua tangan Ica dan menatap kedua matanya. "Jadi... Mama masuk rumah sakit gara-gara Papa?"

ASCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang