Chapter 23

9.9K 1.3K 27
                                        


#9


"Ada apa, Lisa?." Tanya Fitri segera.

"Fano baru saja meneleponku dan katanya Monic sedang dalam bahaya."

"Apa?! Jangan-jangan hal itu benar-benar akan terjadi!." Cetus Fitri.

"Aku tidak tahu, tetapi kita harus segera mencari Monic."

Mereka berdua langsung beranjak dari duduknya dan segera berlari keluar apartemen Monic.
-
-
-

--------------------

"Hmm.. segini cukup gak ya?."

Ucap Monic sambil mengangkat sekantung plastik cemilan yang baru saja ia beli di supermarket.

Karena supermarketnya sedikit jauh dari apartemen, akhirnya ia memutuskan untuk lewat jalan pintas. Yaitu melewati jalan yang ada di pinggir sungai.

"Ada-ada saja sih mereka itu, membuatku membahas tentang Santi lagi." Keluh Monic sambil menendang-nendang rerumputan.

Suasana sungai yang indah dengan kilauan lampu berwarna oranye yang membuat airnya menjadi berkilau di malam itu.

Membuatnya teringat kembali tentang dirinya saat bersama dengan sahabatnya.

Kenangan saat mereka menghabiskan waktu bersama di sekolah, canda tawa mereka sepulang sekolah.

"Aku tidak akan pernah melupakannya.." gumamnya.

Sreek!

"?!!"

Siapa itu?!

Ada seseorang yang mengikutiku dari belakang?. Pikirnya sambil menelan ludah.

Seketika ia langsung menghentikan langkahnya dan memberanikan dirinya untuk melihat ke belakang.
-

Tetapi saat ia menoleh ke belakang, tidak ada siapapun disana. Yang ada hanya suara desiran angin malam dan cahaya dari lampu tiang yang mulai redup.

Apa aku salah dengar ya?. Pikirnya sambil melanjutkan langkahnya.
-
-

Tap! Tap!

Tiba-tiba suara langkah kaki itu terdengar lagi.

Tidak salah lagi, ada yang mengikutiku dari tadi.

Ia pun langsung mempercepat langkahnya. Begitu juga dengan suara langkah kaki yang mengikutinya.

Ketika selesai melewati jalan di pinggir sungai, ia pun langsung berlari sekencang mungkin.
Saat ia menoleh ke belakang, terlihat seseorang yang memakai jubah coklat dan topi hitam sedang berjalan cepat mengikutinya.

Dengan panik ia langsung berbelok ke arah gang kecil yang penuh dengan belokan yang berliku dan gelap.

Setelah ia menelusuri gang kecil tersebut, ia pun berhenti dan bersembunyi di balik tong sampah yang ada di pinggir tembok sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.

"Siapa itu tadi?!." Ucapnya sambil terduduk lemas.

Semoga saja bukan om-om genit.

Ia pun mencoba mengintip dari balik tong sampah, terlihat bayangan hitam serta suara langkah kaki yang datang.

Tap! Tap!

Tetapi suara tersebut semakin jauh dan akhirnya lenyap.

Bagus, sepertinya dia sudah pergi.

Ia pun akhirnya bisa menghembuskan nafasnya yang ia tahan sejak tadi.

Huft..

Namun, ketika ia baru saja merasa aman dari orang tersebut. Ponselnya berdering dengan sangat kencang hingga jantungnya serasa hampir copot karena sangking terkejutnya.

Ia buru-buru menerima panggilan telepon tersebut dan segera menaruh ponsel itu ke telinganya.

<Monic, kau dimana?.>

Terdengar suara Lisa di ujung telepon, seketika hatinya mulai terasa lega dan air mata yang sejak tadi ia tahan kini mulai mengalir di pipinya.

"Lisa, aku takut.. ada orang yang mengikutiku dari tadi."

<Tenanglah, kau ada dimana sekarang?.>

"Aku sedang sembunyi di gang-."

Tiba-tiba suara langkah kaki itu mulai terdengar lagi, dan kali ini suara itu semakin mendekat dengan cepat ke arahnya.

Tap! Tap! Tap!

Kumohon jangan kesini.. Ucapnya dalam hati.

Tetapi permohonannya itu sia-sia, orang itu sudah sampai di hadapannya.
-
-

Sekilas terlihat wajah orang itu dibalik kegelapan, dengan senyuman sedingin es di wajahnya yang membuat Monic sangat ketakutan hingga tidak bisa bergerak sedikitpun.

Keringat Monic mulai bercucuran, air matanya mulai mengalir deras, detak jantungnya seakan memukul dadanya dengan kencang.

Orang itu mengambil sesuatu dari balik jubahnya, terlihat sesuatu yang tak asing dimatanya. Benda berwarna perak mengkilap dengan gagang berwarna hitam yang di genggamnya itu adalah.......

Sebilah Pisau.
-
-
-

-------------------

<Aaaaaaaa!!!>

"Monic ada apa?!."

Teleponnya langsung tertutup sebelum Lisa mendapat jawaban dari Monic.

"Apa yang terjadi dengannya?!." Tanya Fitri segera setelah Lisa menjauhkan ponsel dari telinganya.

"Sepertinya Monic dalam bahaya, kita harus cepat!."

"Tapi kita harus kemana?." Tanya Fitri.

"Monic bilang katanya dia sedang sembunyi di dalam gang."

"Tapi disini kan banyak gang!."

"Baiklah ayo kita berpencar saja, aku akan lewat sini."

Merekapun akhirnya berpencar untuk mencari Monic yang sedang dalam bahaya.
-
-
-

Akhirnya Lisapun menemukan sebuah gang kecil, ia pun memberanikan dirinya untuk memasuki gang kecil yang gelap tersebut. Tetapi saat ia baru sampai beberapa langkah ponselnya berdering.

"Halo?! Monic?!."

<Kau tidak apa-apa?.>

Suara yang terdengar di ujung telfon ternyata adalah suara Fano.

"Aku tidak apa-apa.. tapi sepertinya dia dalam bahaya."

<Baiklah, jelaskan dimana posisimu sekarang.>

"Aku ada di gang kecil yang tak jauh dari apartemen. Monic baru saja menelfonku, katanya dia sedang di ikuti oleh seseorang dan sekarang dia sedang bersembunyi di dalam gang." Jelas Lisa.

<Baiklah, aku akan segera kesana.>

"Baik-."

<Lisa.>

"Iya."

<Berhati-hatilah.>

Suara Fano terdengar sangat khawatir.

"Um.. kau juga."

Lisa langsung mematikan teleponnya dan menatap tajam ke dalam gang yang gelap tersebut.

"Tunggu aku Monic, aku pasti akan menyelamatkanmu."
-
-

🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭

Tuturuu~~

Pembunuhnya mulai beraksi 'o')3

Apa Monic akan selamat?

Baca di Chapter selanjutnya yaa~

Jangan lupa voment kalau kalian suka cerita ini~

Salam : Looky

DETECTiVE LOLiPOP : Unlock MysteryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang