#12
Pak Bagas mempercepat langkahnya menuju kearah seseorang yang baru saja keluar dari mobil sedan putihnya.
"Brian, aku ingin bicara denganmu."
"Hoo.. lihat siapa yang datang. Inspektur Bagas yang selalu handal menangani setiap kasusnya. Apa kau sudah kehabisan akal tuan inspektur?." Ucap Brian dengan nada sombong.
"Brian, kumohon bekerja samalah denganku.. tidak, kumohon tolong bantulah aku."
Pak Bagas sudah kehabisan akal, dan benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi menangani kasus yang semakin bertambah rumit itu, bahkan belum ada satupun yang terpecahkan.
Ditambah lagi dengan tumbangnya Fano, membuatnya strees hingga terpaksa harus meminta bantuan kepada saingannya itu.
"Apa ini?! apa aku tidak salah dengar? Kau memohon bantuan kepadaku." Namun Brian malah mentertawakan pak Bagas tanpa belas kasihan.
"Kubilang, AKU MINTA TOLONG!!!!!."
Pak Bagas mengangkat kerah baju Brian, hingga Brian terbentur ke mobilnya sendiri.
"Hoi, apa-apaan kau ini! Lepas-."
"Ini bukan waktunya untuk bersaing.. sudah banyak korban yang sudah berjatuhan di kasus ini, dan akan ada lagi, lagi, dan lagi orang yang akan terbunuh."
"Apa kau menyebut dirimu sebagai polisi?! HAH?!." Pak Bagas membentak Brian.
Tatapan tajam matanya yang bercampur aduk dengan rasa sedih itu membuat Brian terdiam seribu bahasa.
"Apa.. benar-benar sampai separah itu?." Tanya Brian serius.
Pak Bagas melepaskan genggamannya dari Brian. Lalu mengangguk.
"Ya, bantu aku kali ini saja."
"Ck, yasudahlah kalau begitu mau bagaimana lagi. Aku juga tidak akan membiarkan korban makin bertambah karena keegoisanku, karena sepertinya kasus ini memang makin berbahaya. Jadi, jangan menyebutku seperti itu lagi."
Brian akhirnya mengerti betapa berbahayanya kasus ini. Dari awal dia menonton rekaman video ritual itu pun, sudah membuatnya penasaran akan apa yang di lakukan oleh orang-orang kejam itu selanjutnya. Dan kemungkinan besar Angga pun juga sudah menjadi korbannya.
"Hanya ini yang bisa kuberitahukan padamu." Brian memperlihatkan sebuah video di ponselnya kepada pak Bagas.
"I-ini kan?!." Pak Bagas terbelalak melihat rekaman video tersebut.
Lagi-lagi rekaman video sadis seperti yang ia lihat sebelumnya. Namun, ada perbedaan dengan video yang ia lihat sebelumnya. Yaitu korban dan juga waktu rekaman video tersebut.
"Pembunuhan ini terjadi di gedung sekolah lama waktu itu. Dan video ini di rekam diam-diam oleh Angga."
"Apa?! Angga yang merekam ini?." Tanya pak Bagas heran.
"Dalam akhir video, Angga ketahuan oleh orang-orang berjubah itu. Ini hanya asumsi ku saja. Tidak, lebih tepatnya aku sangat yakin kalau Angga juga sudah menjadi korbannya." Jelas Brian.
"Begitu ya." Aku juga sudah berasumsi seperti itu semenjak melihat rekaman video ritual tadi. Tapi, apa motif mereka sebenarnya? Apa mereka memang benar-benar membunuh hanya sebagai tumbal?. Pikir pak Bagas.
"Lalu, sampai dimana penyelidikanmu?." Tanya Brian.
Kemudian pak Bagas menceritakan semua penyelidikannya kepada Brian. Mulai dari ia pergi menyelidiki kerumah si pelaku yang menabrak dan membuang mayat Nadira hingga akhirnya ia melihat rekaman video ritual yang terjadi dua tahun lalu saat ia pergi ke ruangan klub penjelajah misteri.
"Sudah kuduga, korbannya tidak hanya satu." Pantas saja Bagas semarah itu. Pikir Brian.
"Lalu, sekarang kita harus bagaimana?."
"Rekan penyelidikanku bilang, kalau ritual itu akan dilakukan lagi malam ini." Ungkap pak Bagas.
"Benarkah? Dimana?."
"Itu dia yang sedang kupikirkan saat ini."
"Hmm.. kalau aku jadi mereka pasti aku akan melakukan ritualnya di tempat yang sama seperti gedung sekolah lama itu."
"Gedung sekolah lama..." kemudian pak Bagas berpikir keras mencari kemungkinan tempat ritual itu dilakukan selanjutnya.
Tempat yang tak banyak orang melewatinya..
Tempat yang cukup luas untuk melakukan ritual itu..
Tempat yang sudah usang seperti gedung sekolah lama itu..
Kemudian terlintas sebuah jawaban di kepalanya.
"Jangan-jangan tempat itu!."
-
-
-
****************
Tak lama setelah Lisa dan Fitri keluar dari rumah sakit tempat Fano dirawat, mereka duduk dikursi taman sambil memikirkan bagaimana cara mereka untuk mencari petunjuknya. Sedangkan, pak Bagas pun malah pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ahh! pak Bagas itu bagaimana sih! Kenapa dia malah meninggalkan kita. Pakai acara bilang 'aku tidak mau kalian terlibat lebih jauh lagi.'."
"Apa-apaan coba!"Keluh Fitri.
"Kurasa dia tidak mau kita dalam bahaya." Ucap Lisa sambil meluruskan kakinya.
Lisa mengerti maksud pak Bagas. Setelah melihat keadaan Fano yang seperti itu, pasti pak Bagas tak ingin merekapun juga dalam bahaya.
"Iya, aku mengerti. Tapi kan kita tidak punya waktu lagi, kau tau kan kalau ritual itu akan dilakukan lagi malam ini?."
"I-iya, aku tau itu."
"Tapi, yang jadi masalah sekarang adalah bagaimana caranya agar kita bisa menemukan tempat ritual itu?." Ucap Fitri yang sudah kehabisan akal.
"Kita akan pikirkan itu nanti." Lisa beranjak dari duduknya.
"Kau mau kemana?." Tanya Fitri.
"Aku ingin beli minuman sebentar. Kau ingin minum apa?."
"Oh, kalau begitu aku teh saja."
"Baiklah, aku akan cari mesin minuman."
-
-
----------------
Lisa menyusuri jalan untuk mencari minuman, dan akhirnya ia terhenti di sebuah mesin penjual minuman yang berada di samping gang kecil.
"Mungkin, kopi hangat lebih enak kalau diminum saat ini." Ucapnya sambil melihat-lihat beragam minuman yang berada di balik mesin itu.
Setelah selesai memutuskan pilihannya. Ia mengeluarkan uang recehan dari dompetnya lalu memasukkannya ke mesin penjual. Setelah itu, ia menekan tombol untuk memilih minumannya.
Ketika ia menunggu keluarnya kaleng minuman itu, muncul banyak sekali pertanyaan di benaknya.
Apa benar kak Tania lah yang sudah meracuni Fano?.
Tapi, apa alasannya dia melakukan itu?.
-
Apa, Fano akan baik-baik saja?.
Hatinya sedih saat memikirkan Fano. Air matanya jatuh menetes bersamaan dengan keluarnya kaleng minuman tersebut.
Namun, Lisa segera menghapus air matanya dan segera mengambil minuman itu. Saat ia melihat sekitarnya ternyata tak ada satu orang pun yang terlihat sejauh mata memandang.
Tiba-tiba terdengar suara mesin mobil dari arah belakangnya. Saat ia menoleh, terlihat mobil tipe van yang berjalan menghampiri sisi Lisa dengan perlahan.
Pintu mobil itu pun langsung terbuka, seseorang berjubah merah keluar dan menarik Lisa masuk dengan cepat ke dalam mobil tersebut. Akibat hal itu, minuman yang di pegangnya terjatuh ke jalanan.
"Mmnnnnn!!."
Mulut Lisa di bekap oleh orang itu hingga teriakannya tak mampu di dengar oleh siapapun saat itu.
🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭
Chapter selanjutnya di privat, silahkan follow @lookylolipop untuk melanjutkan.
Salam: Looky
KAMU SEDANG MEMBACA
DETECTiVE LOLiPOP : Unlock Mystery
Misteri / Thriller[Mystery&Romance] High Rank Genre : #2 - Mystery/Thriller [27/04/2018] High Rank Tag : #1 - Detektif #1 - Riddle #1 - Kriminal #1 - Kejahatan Chapter : 1 - 38[END] Genre : Mystery, Thriller, Detective, Romance, Crime, Psychological ...
