Chapter 35

10K 1.1K 43
                                        


#11

Kasus seperti apa lagi yang meneror kami kali ini?.

Itulah yang di pikirkan oleh Lisa sambil duduk termenung di ruang tunggu bersama rasa khawatir yang menghantui dirinya.

Fano jatuh tergeletak lemas tak sadarkan diri, hingga akhirnya mereka langsung membawanya ke rumah sakit. Kondisinya yang mengkhawatirkan membuatnya harus di opname disana.

Note : (opname) rawat inap.

Lisa panik melihat keadaan Fano saat itu. Dia jatuh tergeletak di lantai dan seluruh tubuhnya terasa dingin.

Tiba-tiba pintu ruangan tempat Fano dirawat pun terbuka, sosok seorang dokter dengan baju putihnya dengan stetoskop yang tergantung di leher, berjalan keluar dari dalam ruangan.

"B-bagaimana dok, keadaan teman saya?." Ucap Lisa khawatir.

"Teman kalian sepertinya mengalami keracunan. Untuk keadaannya saat ini.. saya rasa dia belum bisa sadar. Dan kemungkinan terbesarnya racun itu bisa merenggut nyawanya."

"A-apa?! Merenggut nyawa?!." Ucap pak Bagas panik.

"Ya, bisa di bilang dia terkena jenis racun yang menyebabkan kelumpuhan sistem saraf."

"T-tidak mungkin." Lisa pun tak sanggup untuk mempercayai hal itu.

"Lalu, apa yang harus kami lakukan dok?." Tanya Fitri.

"Maka dari itu kami akan terus melakukan penanganan, dan kami mohon untuk saat ini biarkan teman kalian beristirahat sementara waktu."

Setelah berbicara seperti itu, dokter itu pun langsung pergi.

"Pak Bagas, kita harus bagaimana sekarang?." Fitri dan Lisa seakan sudah kehabisan akal.

"Kita akan meminta bantuan Erin."
-
-

*************

Brian kembali mengunjungi sekolah SMP tempat Nadira bersekolah. Namun, tujuannya kali ini bukanlah untuk menyelidiki tentang kasus kematian Nadira. Melainkan mencari adiknya Angga untuk menyelidiki lebih dalam tentang hilangnya Angga. Setelah melihat bukti video rekaman kemarin, ia menjadi sangat penasaran dengan kasus ritual yang menggunakan tumbal manusia itu.

"Lho? Pak Brian?."

Brian menengok ke arah panggilan tersebut, terlihat sosok bu Eka yang datang menghampirinya.

"Eh, bu Eka."

"Tidak perlu panggil ibu, panggil saja Eka."

"O-oh b-baiklah. Kalau begitu panggil saja saya Brian." Ucap Brian tersipu malu.

"Baiklah kalau begitu." Bu Eka tersenyum manis melihat tingkah Brian.

"Oh iya, ngomong-ngomong ada keperluan apa kau datang kesini?."

"Hmm.. sebenarnya aku sedang mencari Wulan, untuk memintai keterangannya lebih dalam tentang rekaman video kemarin."

"O-oh b-begitu." Bu Eka masih terasa merinding jika mengingat rekaman video waktu itu.
"Um.. tapi, hari ini Wulan tidak masuk sekolah."

"Oh, begitu ya."

"Tidak biasanya dia begitu. Wulan itu adalah anak yang rajin dan tidak pernah bolos sekolah. Ijin pun tidak pernah, tapi hari ini dia tidak masuk sekolah tanpa keterangan apapun." Ungkap Eka.

Sepertinya dia masih syok karena kemarin melihat potongan jari. Pikir Brian.

"Baiklah kalau begitu, saya akan kesini lain kali."

"Oh iya.. um.. bagaimana kalau aku meminta nomer telfonmu agar kau bisa menghubungiku kalau Wulan sudah masuk sekolah lagi." Ucap Brian.

"Baiklah."

Yes!

Setelah mereka berdua sudah saling bertukar nomer telfon. Brian pun pergi dari sekolah dengan tersenyum senang.
-
-
-

************

"Setelah kuteliti ternyata hasilnya memang benar, bahwa permen ini memang mengandung sebuah racun di dalamnya." Ucap bu Erin.

"Benarkah? Racun apa yang ada di sana?." Tanya Fitri.

"Racun itu bernama aconitine."

"Aconitine?." Mereka bertiga kebingungan.

"Aconitine adalah racun pelumpuh sistem saraf yang diekstrak dari daun dan akar spesies tumbuhan aconitum. Sebenarnya aconitine bisa juga untuk dijadikan obat. Namun ada beberapa orang yang menjadikannya sebagai racun pelumpuh. Bahkan jika takarannya sesuai, racun ini bisa sampai menyebabkan kematian." Jelas bu Erin.

K-kematian?. Pikir Lisa.

"Cih! Siapa yang berani melakukan ini pada Fano?!." Pak Bagas terlihat sangat kesal hingga memukul meja.

"Iya, aku juga ingin mengetahui tentang hal itu? Dari mana Fano mendapatkan permen ini?."

"A-anu.. sebenarnya permen itu pemberian dari senior di kampus kami, namanya kak Tania."
"Dia meminta bantuan Fano untuk menangani kasus hilangnya Angga." Ungkap Lisa.

"Untuk apa dia memberikan permen itu? Lagi pula ada sangkutpaut apa dia dengan Angga?." Tanya pak Bagas.

"Um.. dia bilang kalau Angga itu adalah pacarnya, jadi dia meminta bantuan Fano untuk mencari keberadaan Angga. Dan permen itu hanya untuk bayaran dari kasus yang  kami tangani." Jelas Lisa.

"Apa kak Tania berniat meracuni tuan detektif?."

"Entahlah.. aku... Tidak mengerti. Tapi kurasa itu tidak mungkin, setauku kak Tania itu orang baik. Mungkin ada sebuah kesalahpahaman."

"Kurasa menggunakan racun aconitine hingga tercampur ke dalam permen itu bukanlah sebuah kebetulan. Apalagi ia sengaja hanya membuat satu permen seperti ini."

Ucapan bu Erin memanglah benar, melihat keadaan Fano saat ini akibat permen tersebut, pastinya mereka akan curiga terhadap Tania. Namun, di dalam hatinya Lisa merasa ragu kalau Tania sampai tega melakukan hal itu.

"Begini saja, bagaimana kalau kalian menyelidiki orang yang memberikan permen itu." Usul bu Erin.

"Itu ide bagus. Bisa jadi kalau sebenarnya kak Tania itu memang ingin mencelakakan tuan detektif."

"Tidak, kita tidak ada waktu lagi." Ucap pak Bagas.

"Fano bilang kalau ritual itu akan di lakukan lagi malam ini." Lanjutnya.

"Ritual apa maksudmu?." Tanya bu Erin heran.

Kemudian pak Bagas pun mulai menceritakan semua penyelidikan mereka selama ini kepada bu Erin. Tentang kematian Nadira si siswi SMP yang mayatnya ditemukan di saluran pembuangan air bawah tanah. Begitu juga tentang hilangnya Angga sampai ditemukannya potongan jari tangan Angga yang di temukan didekat mayat Nadira.
Dan pada akhirnya penyelidikan mereka tersangkut ke dalam suatu kasus ritual yang menjadikan manusia sebagai tumbalnya dengan melakukan pembunuhan secara sadis.

"Ternyata kasusnya sudah sampai sejauh itu ya.. kalau begitu ini sungguh gawat. Kalian harus segera menemukan tempat mereka melakukan ritual selanjutnya sebelum korbannya akan bertambah lagi."

"Iya, itu benar. Kita tidak boleh mengecewakan tuan detektif."
"Kita harus segera menyelidikinya."

"Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas bantuanmu Erin."
Setelah berbicara seperti itu, pak Bagas langsung segera pergi keluar ruangan.

Kita memang tidak boleh menyerah, tapi..

Apakah kami mampu memecahkan kasus ini tanpa Fano?.

DETECTiVE LOLiPOP : Unlock MysteryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang