#4
"Jadi kita akan kemana sekarang?." Tanya pak Bagas setelah mereka berempat menaiki mobil.
Fano duduk di kursi depan, sedangkan Lisa dan Fitri duduk di kursi belakang.
"Seperti biasa, aku ingin melihat mayatnya terlebih dahulu." Ucap Fano.
"Baiklah." Pak Bagas langsung memutar kunci mobilnya dan segera menginjak gas.
-
-
----------------------
Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai di rumah sakit tempat bu Erin bekerja.
"Permisi." Ucap pak Bagas saat memasuki ruangan forensik.
Saat pak Bagas membuka pintunya, terlihat sosok bu Erin yang sedang duduk dengan melipat kakinya, dan di tangan kirinya sedang memegang sebuah dokumen. Walaupun umurnya terbilang sudah berkepala empat, keanggunannya itu tak pernah pudar.
"Oh, kau sudah datang ya." Ucap bu Erin.
Kemudian ia melihat tiga orang yang datang mengikuti pak Bagas dari belakang.
"Ada yang ingin kami bicarakan tentang kasus itu." Ucap Fano.
"Aku sudah tau kau akan datang." Bu Erin tersenyum kecil.
"Dan sepertinya kau cukup kerepotan ya, karena harus menangani banyak kasus akhir-akhir ini." Lanjutnya.
"Ya.. kalau saja pak Bagas lebih serius lagi dengan pekerjaannya, mungkin kasus seperti ini akan lebih cepat selesai."
"Enak saja kau ini! Aku ini tidak pernah main-main dalam pekerjaanku tau!." Bentak pak Bagas.
"Iya, iya.. aku hanya bercanda tuan Inspektur." Ucap Fano dengan nada mengejek.
Cih! Padahal kasus kali ini kau sendiri yang meminta untuk membantuku.
Kemudian pandangan pak Bagas teralih kepada sosok seorang pria dengan perawakan kurus serta rambut tipisnya yang dipenuhi uban.
Pria yang mengenakan jas lab putih tersebut, terlihat sedang sibuk melakukan sesuatu di mejanya.
"Siapa itu?." Tanya pak Bagas.
"Oh, dia adalah Farmasis di rumah sakit ini. Namanya pak Darma." Jelas bu Erin.
"Dan dia juga yang mengurus mayat siswi smp itu."
Note : Farmasis/apoteker adalah seseorang yang diberi kewenangan untuk menjadi kepala atau pendiri sebuah apotek.
"Hah?! Seorang farmasis yang menangani mayat? Kenapa bukan kau yang mengurusnya?."
"Seharusnya begitu sih..."
"Lalu?."
Bu Erin mendekatkan wajahnya sambil berbisik pelan.
"Karena mayat siswi smp itu adalah anaknya."
Mereka pun terkejut dengan ucapan Bu Erin barusan, kecuali Fano yang wajahnya tetap dengan ekspresi datarnya.
Kemudian Lisa memperhatikan kembali pak Darma. Pundaknya seakan terlihat memikul beban yang sangat berat, tubuhnya-pun seakan tak kuat menahannya hingga ingin roboh.
Kantung matanya yang menghitam menandakan bahwa ia sangat stress dan terpukul dengan hal itu. Bagaimana tidak, ia baru saja kehilangan putri yang sangat dicintainya sepenuh hati.
Dilain sisi, Lisa juga teringat dengan Fano yang kehilangan sosok ibu yang paling ia cintai, sehingga membuatnya menjadi seorang yang banyak diam dan mungkin hal itupun membuatnya tak bisa lagi merasakan kasih sayang. Dan semua itu terjadi karena sifat buruk manusia.
Andai saja setiap manusia bisa saling mengerti satu sama lain. Pastinya tak ada lagi sebuah tindak kriminal yang di dasari dengan kedengkian maupun kebencian. Tapi sayangnya memang seperti itulah kehidupan di dunia ini. Kita tidak bisa lari dari lingkup itu.
Kadang Lisa selalu berfikir.
Apakah dunia ini akan terus menjadi seperti ini?.
Walaupun hanya sedikit perubahan, ia sangat mengharapkan hal itu.
"Apa aku bisa melihat mayatnya sekarang?." Ucap Fano dengan santai.
"Hmm.. kalau soal itu, sepertinya tidak bisa. Bahkan aku pun tidak di perbolehkan menyentuh mayat anaknya itu oleh pak Darma." Jawab bu Erin.
Fano melirik kearah sebuah tempat tidur beroda yang berada di tengah-tengah ruangan. Tempat tidur tersebut diisi oleh sebuah sosok yang tertutupi kain putih. Namun di bagian bawah kain putih tersebut, terlihat sepasang kaki yang sangat pucat. Cahaya redup dari ruangan forensik membuat sosok itu tidak enak dipandang.
"Dan sebaiknya kita jangan membahas itu dulu, karena suasana hatinya pasti sangat tidak baik." Lanjutnya.
Fano terdiam sejenak lalu menghembuskan nafas beratnya.
"Yasudah, kalau begitu aku ingin mengetahui tentang jari yang ditemukan itu saja."
"Baiklah, kalau begitu mari ikut aku."
Kemudian mereka dibawa oleh bu Erin pergi ke mejanya dan setelah itu ia menunjukkan sebuah potongan jari tangan di atas mejanya.
"Ini dia jari milik Angga."
Bu Erin memegang potongan jari tersebut menggunakan tangannya lalu mengoyang-goyangkannya seperti sedang memainkan potongan jari tersebut. Walaupun ia menggunakan sarung tangan, namun tetap saja bagi Lisa itu adalah hal yang menjijikan untuk dibuat main-main seperti itu.
"Apa kau berhasil mendapatkan sesuatu?." Tanya pak Bagas.
"Ya, coba kau lihat ini." Bu Erin menunjuk ke arah jari itu, sehingga mereka menatapnya dengan serius.
"Potongan jari ini sungguh berantakan alias tidak rapih." Jelasnya.
"Memangnya kenapa?." Tanya pak Bagas heran.
"Jadi, kemungkinan jari itu terpotong dengan cara yang kasar atau bisa jadi pemilik jari ini memberontak ketika jarinya terpotong kan?." Ungkap Fano.
"Tepat sekali, kau memang hebat nak. Aku kagum padamu."
"Jadi maksudmu kalau Angga ini di siksa ya?." Pak Bagas terlihat kebingungan.
"Tapi yang jadi pertanyaan, siapa yang melakukan itu?." Tanya Fitri.
"Itulah yang harus kita selidiki sekarang." Jawab Fano.
Namun keseriusan mereka terhenti seketika, saat ponsel pak Bagas berdering dan membuat ruangan forensik menjadi berisik.
"Arggh! lagi-lagi disaat yang tidak tepat begini!."
Pak Bagas segera mengangkatnya tanpa melihat dari siapa telepon tersebut.
"Halo?."
<Pak Bagas, saya sudah berhasil mengetahui pemilik dari cincin itu.>
"Benarkah?!."
<Iya, cincin itu milik seorang bernama Rose, diketahui ia tinggal di perumahan Blok L nomer 17.>
"Baiklah, terima kasih atas informasinya. Aku akan segera kesana."
-
-
"Apa bapak berhasil menemukan sesuatu?." Tanya Fano setelah pak Bagas mematikan teleponnya.
"Em, ini tentang cincin yang di temukan tak jauh dari TKP. Aku menduga kalau pemilik cincin itulah yang sudah membuang mayat siswi smp itu ke terowongan saluran air. Jadi aku menyelidiki kepemilikan cincin itu."
"Cincin?." Tanya Fano.
"Iya, dan sekarang pemilik cincin itu sudah di temukan. Katanya dia tinggal di perumahan Blok L nomer 17."
Fano mengerutkan dahinya setelah mendengar penjelasan pak Bagas tersebut.
Namun dibalik itu, Lisa merasa kalau pak Darma terus memperhatikan percakapan mereka sejak tadi dengan tatapan mata yang tajam.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita temui orang itu." Ucap Fano mengakhiri pembicaraan.
KAMU SEDANG MEMBACA
DETECTiVE LOLiPOP : Unlock Mystery
Mystery / Thriller[Mystery&Romance] High Rank Genre : #2 - Mystery/Thriller [27/04/2018] High Rank Tag : #1 - Detektif #1 - Riddle #1 - Kriminal #1 - Kejahatan Chapter : 1 - 38[END] Genre : Mystery, Thriller, Detective, Romance, Crime, Psychological ...
