Chapter 18

10.8K 1.1K 20
                                        


#4

"Um..A..anu.."

Aduh.. aku bingung harus bagaimana.

"Baiklah, ayo masuk dulu." Ajak Lisa.

Setelah lama berfikir, akhirnya Lisa mempersilahkan Monic masuk ke dalam apartemennya.

"Hehe.. terima kasih ya Lisa." Ucap Monic sambil memeluk manja Lisa dari belakang.

Pokoknya aku harus tanyakan hal itu kepadanya.
-
-

Lisa terus memperhatikan Monic yang sedang menghiasi bibir indahnya dengan lipstik berwarna nude miliknya, sambil berfikir bagaimana caranya untuk mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya itu.

Kalau tidak salah Mina berkata, kalau dalam mimpinya Monic berkata "Jangan bunuh aku Santi!.". Berarti bisa disimpulkan kalau Monic mengenal orang yang bernama Santi itu. Pikir Lisa.

"Um.. Monic.. boleh aku tanya sesuatu?." Tanya Lisa memulai percakapan.

"Mau tanya apa?." Ucap Monic sambil memonyongkan bibirnya di depan cermin.

"Apa kau memiliki kenalan bernama Santi?."

"Oh.. iya ada kok, dia teman ku sewaktu SMA dulu."

"Kalian berteman?."

"Iya, waktu itu aku dan salah satu temanku yang bernama Anis dihukum oleh guru untuk membereskan buku-buku yang ada di perpustakaan."
"Dan saat itu datanglah seorang wanita yang bertampang polos dengan kacamata bulatnya mencoba membantu kami.. dia adalah Santi yang kami kenal dengan sebutan sih kutu buku saat itu."

Lisa terdiam memperhatikan Monic yang sedang bercerita tentang masa lalunya dengan serius, pasti kenangan itu adalah hal yang benar-benar ia hargai.

"Lalu?." Tanya Lisa untuk melanjutkan penjelasan Monic.

"Semenjak itu kami bertiga mulai berteman bahkan sampai kami lulus.. aku selalu berfikir kalau kami itu tidak akan pernah bisa akrab, tetapi semakin lama aku bisa memahaminya dan sebaliknya.. ia juga menghargaiku.. maka dari itu kami bisa berteman dengan baik."

Mereka berdua berteman baik? lalu kenapa Santi ingin membunuh Monic?. Pikir Lisa heran setelah mendengar cerita Monic.

"Mungkin terdengar cukup aneh bagimu ya, mengapa orang sepertiku bisa berteman dengan seorang kutu buku." Ucap Monic sambil tertawa kecil.

"Tidak kok, menurutku perteman itu tidak hanya terbatas karena paras, hobi, ataupun status sosial. Cara kita untuk bisa berteman adalah harus bisa saling mengerti dan menghargai satu sama lain."

"Wah.. wah.. iya deh iya maria teguh." Ejek Monic yang akhirnya membuat mereka berdua tertawa lepas.

Huft.. sepertinya tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan. Pikir Lisa sambil menghembuskan nafas lega.

"Oh iya, ngomong-ngomong dimana Santi sekarang?." Tanya Lisa.

Setelah mendengar pertanyaan Lisa tersebut, Monic langsung menunduk dan termenung.
Matanya terlihat sangat sedih seperti orang yang amat kehilangan hal yang paling berharga.

"Dia.. sudah meninggal."

"Eh?."
Lisa sontak terkejut hingga matanya terbelalak setelah mendengar ucapan Monic tersebut.

"10 tahun yang lalu terjadi kecelakaan mobil yang terjatuh ke dalam jurang.. Santi dan Anis.."
"Ada di dalam mobil itu." Lanjutnya.

"B-bagaimana bisa?!" Tanya Lisa terkejut.

"Saat itu Anis yang baru saja di belikan mobil oleh ayahnya, mengajakku dan Santi untuk pergi bertemu dengan temannya.. mungkin semacam kencan buta. tetapi waktu itu aku tidak bisa ikut."

"Polisi bilang mobil yang di kendarai oleh Anis tidak terkendali dan terjatuh ke dalam jurang dan terbakar hangus." Ungkap Monic dengan wajah sedih.

Lisa benar-benar tidak percaya setelah mendengar penjelasan Monic tersebut..

Bahwa Santi sudah...

Meninggal.
-
-
-

Note : Blind date/kencan buta adalah kencan dengan orang yang belum di kenal.

*************

Keesokan harinya pak Bagas langsung pergi kerumah seseorang yang menjadi tujuannya. Yaitu seorang wanita bernama Dania yang katanya adalah mantan kekasih dari Algi Ardhana. Sebelumnya pak Bagas sudah menghubungi wanita itu setelah ia mencari-cari nomer teleponnya di ponsel yang ditinggalkan Algi.

Ting! Tong!

Tak lama setelah pak Bagas menekan bel rumah tersebut, pintupun terbuka dan terlihat sosok seorang wanita dibalik pintu, wanita itu terlihat menggunakan rok pendek dengan kaus putih polos.. tetapi riasan wajahnya benar-benar terlihat sangat jelas.

"Saya Bagas, dari kepolisian." Ucap pak Bagas memulai perkenalan.

"Oh pak Bagas ya.. mari silahkan masuk." Ajak wanita itu.
-
-

"Jadi.. apa yang ingin bapak bicarakan dengan saya?." Tanya wanita itu setelah mempersilahkan pak Bagas duduk.

"Sebelum itu, boleh saya merokok disini?." Tanya pak Bagas, tetapi tangannya sudah menyulut rokok.

"Tentu saja.. kebetulan saya juga merokok."

Wanita itupun menaruh asbak di atas meja lalu mengeluarkan bungkus rokok dan mulai menyulutkannya sebatang.

"Sebenarnya saya ingin memberitahu anda bahwa.. Algi Ardhana meninggal dunia."

Wanita itu langsung terkejut setelah mendengar ucapan pak Bagas.

"Apa?! Algi meninggal?!."

"Iya, dia ditemukan tewas terbunuh di parkiran apartemennya."

Wanita itu langsung menunduk, wajahnya terlihat sedih. Tetapi pak Bagas merasa keheranan setelah mendengar tawa kecil dari arah wanita itu.

"Kenapa anda tertawa?." Tanya pak Bagas dengan tatapan tajam.

"Huh! kurasa itu pantas ia dapatkan."

"Apa maksudmu?!."

"Ya.. itu adalah karma untuk orang yang suka mempermainkan wanita. Kurasa dia dibunuh oleh salah satu wanita simpanannya." Ucap wanita itu dengan tersenyum kecut.

Pak Bagas ingin mencoba membantah perkataan wanita itu, tetapi ia tidak berhasil mencari kata-kata yang tepat, karena ia sadar bahwa dirinya tidak mengenal sosok Algi yang sebenarnya.

Cih! Wanita ini... Benar-benar tak memiliki rasa kasihan!! Apa jangan-jangan benar dia adalah orang yang telah membunuh Algi.

"Apa anda tau siapa orang yang memiliki dendam padanya?."

"Tentu saja.. semua wanita yang sering ia permainkan pasti sangat membencinya, terutama saya."

"Jadi kau yang membunuhnya?." Tuduh pak Bagas.

"Hah?! Aku membunuh lelaki bajingan itu?! Tidak perlu repot-repot untukku melakukan hal itu. Karena aku yakin akhirnya pasti dia akan begini."

"Kenapa kau sangat yakin kalau Algi akan mati?!."

"Karena dia adalah laki-laki bajingan yang suka meniduri wanita manapun, tetapi tidak pernah mau bertanggung jawab."

Seketika pak Bagas terkejut sekaligus mengerti maksud dari perkataan wanita itu.
Dan tentu saja untuk seseorang yang suka memperlakukan wanita seperti itu, pasti banyak orang yang sangat membenci kelakuannya.

"Kalau tidak ada lagi yang harus pak Bagas bicarakan, silahkan pergi." Ucap wanita itu sambil mematikan rokoknya yang tinggal sedikit itu ke asbak.

"Baiklah.. kalau begitu terima kasih atas penjelasannya dan sudah mau bersedia bertemu dengan saya."

Pak Bagaspun menunduk sopan lalu segera pergi dari rumah wanita itu.
-
-
-

DETECTiVE LOLiPOP : Unlock MysteryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang