#7
Dengan di bawa oleh bu Eka dan Wulan, akhirnya Brian sampai di tempat tujuannya. Yaitu, gedung sekolah lama. Atau bisa dibilang, tempat terjadinya pembunuhan yang ada di rekaman video tadi.
"Jadi inikah tempatnya." Brian menengadahkan wajahnya ke gedung di depannya.
Gedung tersebut memiliki 3 lantai. Walaupun sudah tak terurus lagi, Namun gedung tersebut masih terlihat kokoh.
"Baiklah, kalau begitu kalian tunggu disini. aku akan masuk kedalam." Brian membulatkan tekatnya.
"Aku ikut." Ucap Wulan.
"Hah? Kau yakin?."
"Iya, aku yakin." Wulan berjalan mendahului Brian.
"K-kalau begitu aku akan menunggu disini saja." Ucap bu Eka gemetaran.
Sepertinya ia masih ketakutan.
"Baiklah." Kemudian Brian mulai melangkahkan kakinya ke arah gedung tersebut.
-
-
-
------------------------
Brian dan Wulan mulai menelusuri lorong koridor. Karena gedung tersebut sudah puluhan tahun terbengkalai, dinding-dinding pun menjadi sangat kusam dan hanya meninggalkan rontokan catnya saja. Bahkan ruangan kelas menjadi tak terlihat melalui jendela akibat tebalnya debu yang menempel.
"Sangat disayangkan, kalau tempat ini hanya di diamkan saja. Bisa-bisa malah jadi sarang hantu." Gumam Brian.
"Saat aku menjadi siswi baru disini, kami para murid baru menjalani orientasi dan harus melakukan uji nyali di gedung ini. Dan salah satu guru di sekolah ini pernah berkata, katanya pernah ada murid yang kerasukan mahluk halus di tempat ini." Jelas Wulan.
"Begitu ya, hal itu pasti membuat para murid menjauhi gedung ini."
Namun, terbesit sebuah pertanyaan di hati Brian.
Mengapa anak ini tidak takut?.
Apa karena dia memang tidak takut dengan hal semacam itu, atau.. dia melakukan ini karena demi mencari kakaknya.
"Kita sudah berjalan hingga lantai 2, tapi aku belum tahu letak tempat ritual itu." Ucap Brian sambil melirik-lirik sekitar.
"Kita sudah sampai." Wulan menghentikan langkahnya lalu menghadap ke kanan.
Terlihat sebuah pintu dengan papan nama bertuliskan 7-A.
"Apa kau yakin ini tempatnya?."
"Ya, kakakku yang bilang kalau disinilah terjadinya ritual itu."
Brian memegang gagang pintu lalu membukanya perlahan. Saat Brian masuk, ruangan kelas terlihat kosong. Jendela di tutupi dengan balok kayu sehingga sudut ruangan terlihat gelap. Hanya ada satu kursi dan gambar lingkaran dengan bintang di tengah lantai yang mengisi ruangan itu.
Tidak salah lagi, tempatnya sama percis seperti yang terlihat di video itu. Brian menatap seluruh ruangan kelas.
Setelah melihat video rekaman tadi, membuatku jadi berfikir kalau Angga juga sudah dibunuh oleh orang-orang berjubah itu. Apalagi dengan fakta bahwa ditemukannya jari tangan Angga yang semakin menguatkan spekulasi-ku. Pikir Brian.
Saat Brian berjalan-jalan untuk melihat sekitar ruangan tersebut. Kakinya seperti menginjak sesuatu.
"Hm?."
Brian menundukkan wajahnya untuk melihat sesuatu yang ada di bawah sepatunya itu.
"I-i-ini kan?!."
Brian sontak menjauh setelah melihat sesuatu yang berada di lantai.
"A-a-apa itu?." Wulan gemetaran.
Keberanian Wulan yang sejak tadi terlihat, tiba-tiba sirna begitu saja. Kemudian ia pergi menjauh dengan panik.
"T-tidak kusangka aku akan menemukan Potongan jari lagi." Ucap Brian.
-
-
-
***********
Setelah selesai menemui bu Erin, akhirnya mereka berempat memasuki mobil jeep hitam milik pak Bagas.
"Huftt.. Mayat yang ada disana membuat hawa diruangan forensik menjadi mengerikan." Ucap Fitri yang duduk di belakang.
Kurasa hawa mengerikan itu bukanlah karena adanya mayat disana. Akan tetapi, hawa mengerikan itu datang dari sebuah amarah dan kebencian seseorang. Ucap Lisa dalam hati.
Entah mengapa akhir-akhir ini, Lisa bisa merasakan perasaan seseorang. Apa mungkin karena akhir-akhir ini ia sering di datangi dengan kasus-kasus kriminal.
"Apa pak Bagas sudah mendapatkan alamat pemilik cincin itu?." Tanya Fano yang sedang mengeratkan sabuk pengamannya.
"Ya, kali ini pasti penyelidikanku akan berhasil."
"Berarti sebelumnya penyelidikan bapak tidak pernah ada yang berhasil ya?." Ejek Fano.
"Enak saja kau ini! Memangnya kau kira aku ini siapa?! Aku ini inspektur!!." Bentak pak Bagas.
"Iya, iya.. maafkan aku tuan inspektur yang hebat." Balas Fano dengan nada mengejek.
Pak Bagas tak membalas ejekan Fano tersebut. karena ia tahu kalau berbicara dengan orang menyebalkan ini hanya akan membuatnya naik darah saja.
Saat pak Bagas mulai menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Tanpa pikir panjang pak Bagas langsung mengangkat ponselnya itu tanpa melihat dari siapa telepon tersebut.
"Argh! Apa lagi sih?!." Bentak pak Bagas.
<Jadi begini ya cara kau berbicara dengan atasanmu?.>
Suara di ujung telepon ternyata adalah suara pak Broto.
"A-a-aa.. anu.. b-bukan begitu pak. Saya tidak tahu kalau bapak yang menelepon saya."
Fano menahan tawa gelinya ketika melihat pak Bagas yang sedang di omeli atasannya itu.
"Diam kau!." Teriak pak Bagas jengkel.
<Kau sekarang juga berani menyuruhku diam ya?.>
"M-maksud saya bukan bapak."
Ya ampun.. mereka ini.
Pikir Lisa yang melihat kelakuan dua orang di depannya itu.
<Sudah, itu tidak penting. Sekarang juga kau harus pergi ke tempat Brian.>
"Memangnya kenapa?."
<Brian menemukan potongan jari lagi.>
"Apa?!."
<Iya, dia baru saja menemukannya. Dan tim penyidik juga sudah menuju ke TKP.>
"Dimana Brian sekarang?."
<Dia ada di sekolah SMP tempat bersekolahnya Nadira Octavia.> Jelas pak Broto.
Setelah mendengar penjelasan dari atasanya itu, pak Bagas segera membaca berkas dokumen tentang Nadira Octavia.
Ternyata sekolahnya tak jauh dari tempat ia di temukan tewas ya?. Pikir pak Bagas.
"Baik pak, Saya akan segera kesana."
-
-
"Ada apa?." Tanya Fano segera setelah pak Bagas mengakhiri teleponnya.
"Polisi menemukan satu potongan jari lagi."
Ekspresi Fano tiba-tiba menjadi serius. Begitu juga dengan Lisa dan Fitri yang duduk dikursi belakang.
"Kalau begitu kita pergi kesana." Ucap Fano tanpa pikir panjang.
"Lalu, pemilik cincin itu bagaimana?."
"Belum tentu pemilik cincin itu pembunuhnya. Masih banyak kemungkinan yang bisa di jelaskan mengapa cincin itu bisa berada di sana. Sekarang yang lebih penting adalah kita harus menyelidiki tentang potongan jari itu."
"Baiklah kalau begitu." Ucap Pak Bagas yang langsung menjalankan mobilnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DETECTiVE LOLiPOP : Unlock Mystery
Misterio / Suspenso[Mystery&Romance] High Rank Genre : #2 - Mystery/Thriller [27/04/2018] High Rank Tag : #1 - Detektif #1 - Riddle #1 - Kriminal #1 - Kejahatan Chapter : 1 - 38[END] Genre : Mystery, Thriller, Detective, Romance, Crime, Psychological ...
