Tidak ada yang menarik dari upacara penerimaan siswa baru ini. Justru sangat membosankan bagiku. Apalagi saat kepala sekolah menyampaikan pidatonya. Aku sudah lelah mendengarkan hal yang sama berulang kali. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus begini, haris begitu. Toh juga peraturan yang dibuat pasti juga akan dilanggar dan hanya sedikit yang benar-benar mematuhinya.
Disini semuanya tampak baru bagiku. Aku tak mengenal siapapun kecuali 2 makhluk kurang tinggi yang berada di sampingku ini. Dan sangat sialnya aku harus berada di kelas yang berbeda dengan kedua orang itu. Mereka dikelompokkan di kelas yang sama dan aku di kelas yang berbeda.
Sebelum berpisah, mereka terlihat khawatir padaku.
“Kau benar-benar tak apa sendiri?” tanya Umji dengan ekspresi cemas yang terpasang jelas di wajahnya.
Padahal dia lebih muda dariku, walau hanya 2 bulan, aku tetap saja lebih tua darinya. Tapi dia selalu bertingkah seolah-olah aku ini adalah adik kecilnya. Dia selalu mengkhawatirkanku. Bagaimana cara membuatnya percaya bahwa aku baik-baik saja.
“Sudah ku bilang aku baik-baik saja. Kau tahu aku sudah terbiasa sendiri.” Ucapku tersenyum sambil memegang kedua pundak jempol kecilku.
“Sudahlah Umji-ah, si makhluk es ini pasti baik-baik saja. Justru aku mengkhawatirkan teman-teman sekelasnya, takutnya mereka nanti beku jika dekat-dekat dengannya.” Dasar kelinci menyebalkan. Sepertinya kau yang minta dibekukan.
“Oh ya, SinB-yah.. Kau jangan galak-galak, hilangkan wajah datarmu itu, banyaklah tersenyum, carilah teman, berbicaralah dengan orang lain, jangan kencan dengan pensil. Eh spidol maksudnya. Lalu...”
Hah, daripada aku harus mendengar ocehannya, lebih baik aku cepat menyusul siswa-siswa lain yang sekelas denganku. Aku tak mau salah jalan lagi, dan aku tak mau berakhir dipermalukan lagi.
“Yah! Hwang Eunbi!! Kebiasaan. Orang belum selesai ngomong, dianya pergi.”
Aku hanya mengangkat tangan kananku dan melambaikannya sambil terus berjalan dan tanpa menoleh sedikitpun.“SinB-yah! Ingat, jangan makan orang!”
Ku kepalkan tanganku mendengar suara kelinci kecil itu. Ingin ku berbalik dan menghajarnya, tapi sudahlah biarkan saja.“Eunbi-ah!!” Kali ini Umji yang memanggilku. Apa dia masih khawatir kepadaku.
Aku berbalik sebentar dan melihat ke arahnya dengan alis terangkat.
“Keep smile.” Dia tersenyum menang setelah mengerjaiku.
Segera ku berikan death glare ku padanya dan kelinci di sebelahnya yang sedang tertawa puas sekarang.“Awas beruang kutub marah.” Eunha berlari dengan menyeret tangan Umji yang hanya ikut saja dengannya. Sesekali Umji menoleh ke arahku dengan mengangkat 2 jarinya. Tak lupa juga senyum manis terpasang di wajahnya.
Ujung bibirku terangkat lagi karena ulah mereka. Melihat kedua temanku yang baru saja bertemu akrab sudah membuatku senang. Walaupun mereka selalu bekerja sama untuk menggangguku, tapi entah kenapa aku menerimanya dengan senang hati.
Sampai lupa aku harus cepat-cepat ke kelas. Saat berbalik, untung saja aku masih melihat salah satu siswa kelasku yang juga masih tertinggal. Aku langsung mengikutinya diam-diam dari belakang.
Ku percepat langkahku dan sampailah aku di depan kelas baruku. Aku berhenti sejenak di depan pintu dan mengamati sekitar. Didalam sudah banyak siswa yang duduk, dan tentunya semuanya wajah baru yang tidak aku kenal.
Tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing, mungkin karena suasananya yang sedikit ramai. Atau mungkin karena aku belum sarapan tadi.
Aku berjalan tanpa menghiraukan sekitarku dan terfokus untuk mencari tempat duduk yang kosong. Akhirnya aku menemukannya, bangku paling belakang dan tidak ada yang menempati. Sempurna.

KAMU SEDANG MEMBACA
Tembok Es
Teen FictionSetelah kau pergi, aku membangun tembok es tinggi di sekitarku. Baru ku sadari, rasa dingin ini menyiksaku. Akankah kau kembali dan menghancurkan tembok ini ? Hangatkan aku lagi.. My Buddy...