24 - Gelas

331 29 26
                                    


Braakk


Terdengar dengan lantang, suara tabrakan dari bertemunya pintu dan tembok secara tidak baik-baik. Suaranya menggema di seluruh penjuru ruangan, tapi sama sekali tidak mengejutkanku.

Di rumah, di pagi hari yang seharusnya indah ini.. aku yang melakukannya. Itu ulahku. Memasuki kamar mandi dengan emosi tertahan di kepala, dan hanya bisa menyalurkannya kepada pintu yang sama sekali tak berdosa.

Di bawah guyuran air ini, sedikit ku tenangkan diriku. Ku pejamkan mata sejenak, membiarkan butiran-butiran air membasahi seluruh tubuhku. Hujan di ruangan ini terasa dingin, tapi sepertinya masih tak sepadan dengan dinginnya hatiku pagi ini.

Rahangku semakin beradu, seolah sedang bermain tinju. Mataku juga tak mau kalah dalam perlombaan menutup dengan rapat. Dadaku hanya bisa naik turun untuk menenangkan sesuatu di dalamnya. Sedangkan di pipiku, bisa kurasa air terus mengalir melewatinya, entah itu air yang berasal dari shower di atasku ataupun dari tempat lainnya.

Semua yang kulakukan pasti ada alasannya, pasti ada penyebabnya. Pagi yang biasanya ku lalui dengan tenang berubah menjadi tidak menyenangkan.

Memang sebenarnya aku sering merenung atau bahkan menangis sendiri di pagi hari. Kebanyakan karena aku merindukan Eomma, atau saat aku mulai membenci serta menyesali sifat dan kelakuanku sendiri. Tapi kali ini, orang yang menyebabkan hancurnya pagi ini tidak lain adalah satu-satunya orang yang tinggal bersamaku di rumah ini.

“Eunbi-yah..” Itu dia suara dari orang yang mengacaukan pagiku. Bisa ku dengar samar-samar dari dalam sini, karena aku bahkan tak ingin mengecilkan sedikit suara lantunan musik dari gemericik air ini. “Apapun yang kau pikirkan sekarang, itu semua tidak-”

“Sudahlah. Toh, apa yang unnie katakan memang benar 'kan?!” Ku jawab masih dengan menikmati aktivitasku.

“Bukan begi-"

“Aku hanya beban bagi unnie!! Aku tahu itu!!” Air di pipiku terasa hangat, dan gerakan di dadaku semakin tak beraturan.

◀◀◀◀◀◀

10 menit yang lalu


Hari senin. Aku tak perlu menjelaskan apapun tentang hari itu, semua orang pasti memiliki kesan tersendiri tentangnya.

Tapi bagiku semuanya sama saja, setiap harinya aku hanya melakukan hal yang sama dan tidak banyak mengalami perubahan.

Seperti pagi ini, aku hanya ingin melakukan aktivitas rutinku. Tapi entah kenapa mata ini sulit untuk dibuka. Jadi yang ku lakukan sekarang, berjalan dengan mata setengah tertutup setengah terbuka serta tangan yang hanya meraba-raba di udara.

Mungkin karena efek jam tidurku yang mulai tidak beraturan. Saat malam minggu aku bisa tidur jam 8 malam, tapi saat malam senin aku justru tidak bisa tidur, dan berakhir hanya menutupkan mata saat jam sudah menunjuk pukul 5 pagi.


Pyarrr


Mataku terpaksa terbuka setelah mendengar itu. Ku lihat Sica unnie berada di depanku dengan ekspresi terkejut sama denganku. Dan di bawahnya, ada gelas pecah dan air yang ku yakin tadinya berada di dalamnya bersebaran di lantai.

“U-unnie ma...af.” Aku mencoba untuk duduk dan berniat membersihkan kekacauan yang ku sebabkan.

“Eunbi-yah!! Kenapa kau selalu ceroboh?!?! Hah!!!” Aku hentikan gerakan tanganku yang ingin mengambil pecahan gelas kaca yang berserakan di bawah sini.

Tembok EsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang