(12) Papa

3.7K 137 0
                                        


Naina sedang belajar memasak bersama salah satu pembantu yang ada di rumahnya, dengan senang ia terus mengiris bawang dan bahan yang lainnya senyum nya menghiasi bibir yang sering mengeluarkan isakan-isakan tangis yang menyayat hati saat mendengarnya.

"Saya seneng deh lihat Non Naina terseyum bahagia gitu!"bisik salah satu pembantu ke pembantu yang berada di sebelahnya, sedangkan orang yang dibisikinya hanya mengangguk seolah mengiyakan atas ucapan tersebut.

Mereka berdua terus melihat Nona mereka yang sedang dalam mode senang, tak hanya mereka hampir semua orang yang ada di situ memperhatikan, tak terkecuali papanya Naina.

Semua dalam keadaan diam sampai akhirnya sang tuan rumah yang berbisik ke salah satu supir keluarga Koziara yang membuat suasana menjadi sedikit berisik karena orang-orang yang mulai melakukan aktivitasnya kembali, sedangkan sang empu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat orang-orang yang bekerja padanya sedang sibuk mencari kerjaan karena takut di pecat oleh sang tuan rumah.

"Bi Nani ini pada kenapa kok ke sibuk gitu?"tanya Naina yang heran saat mendengar suara-suara yang sebelumnya tidak ada dan orang-orang yang berjalan kesana-kesini membuat kepalanya sedikit pusing.

"Ternyata banyak pembantu di rumah itu gak baik, bisa bikin kepala pusing!"ucap Naina dalam hati.

"Bibi juga gak tau non"Naina hanya mengangkat bahunya acuh dan tak sadar jika papanya sudah berdiri di belakangnya.

"Naina!"yang dipanggil langsung mengalihkan perhatian ke pada orang yang memanggilnya, ia menggit bibir bawahnya takut dan gugup dengan segala keberaniannya ia bertanya walaupun dengan gugup.

"I...i...ya..pah, a..da ap..pa?"

"Kamu gak usah gugup ke gitu papa gak balal ngapa-ngapain kamu kok, papa cuma mau ngomong sesuatu sama kamu!"

"Tumben papa mau ngomong sama aku biasanya cuek-cuek aja lah sekarang sekali mau bicara serius banget, males sih"ucap Naina melirih

Naina hanya menganggukan kepalanya dan mengikuti kemana perginya sang papa setelah mendapatkan intruksi dari papanya supaya ia mengikutinya.

Setelah sampai di ruangan kerja papa, aku duduk di salah satu kursi yang ada berhadapan dengan kursi yang diduduki oleh papa yang hanya dihalangi oleh satu meja coklat yang banyak dengan berkas-berkas yang tak sama sekali ia pahami, aku melihat ke arah muka papa yang sudah memasang muka serius, aku gugup dan tak lupa takut dengan mata hitam legam yang dimiliki sang papa.

"Papa mau cerain mama kamu dan kamu harus memilih untuk ikut mama atau papa, dan papa tunggu jawabannya besok!, sekarang kamu boleh pergi"ucap papanya dingin dan tegas dan tak lupa juga muka yang datar sehingga membuatnya menatap tak percaya kepada papanya yang sangat hobby berbicara langsung ke intinya saja, karena menurutnya bicara berbelit-belit hanya akan membuat waktunya terbuang sia-sia.

Papanya sudah berhenti bicara tubuhnya menegang, pikiran-pikiran aneh mulai memenuhi kepalanya ia menatap papanya tak percaya, ia menggap ini mimpi. meskipun tak jarang mamanya suka menyakitinya karena kesalah pahaman namun ia tetap sayang kepada mamanya, karena bagaimana pun mamanya adalah orang yang sudah melahirkan dan merawatnya sampai sekarang, sedangkan orang yang sedang ditatap tidak tau jika orang yang masih berada di hadapannya menangis diam ia hanya pokus ke pekerjaan yang masih menumpuk di depanya.

Isakan kecil lolos dari bibir Naina perlahan tangisan itu mulai mengeluarkan suara, papanya menonggakan kepalanya dan melihat anaknya menangis dengan tatapan yang heran ia mulai mendekati anaknya dan memeluknya sayang. bagaimana pun dan gimanapun Naina adalah anaknya yang harus selalu ia jaga dalam keadaan apapun, Anton-papanya Naina mengerti perasaan anaknya, tapi ia tak bisa melakukan apapun lagi ini dia jalan satu-satunya. ia sudah tak kuat akan kelakuan yang dibuat oleh istrinya kepadanya dan anaknya.

Ia hanya dapat berharap jika keputusannya ini benar dan tak membuat hati anaknya sakit, ia akui jika ia juga merasakan sakit yang sama seperti Naina, siapa sih yang tak sakit jika harus merelakan orang yang masih kita sayang harus menjadi milik orang lain?, pasti tak akan ada yang mampu atau pun kuat.

Sekarang Anton hanya dapat memeluk anaknya erat, dengan penuh kasih sayang sambil mengelus rambut panjang anaknya ia membisikan sesuatu kepada Naina yang mampu membuat Naina menangis hebat.

Ia lelah dengan hidupnya, besok ataupun lusa atau kedepannya tak akan ada lagi sosok seorang ibu yang memenuhi hari-harinya, hanya ada sang ayah yang katanya siap menjadi seorang ayah sekaligus ibu tapi ia tak percanya jika papanya mampu memenuhi janji itu, tapi tetap saja ia menginginkan seorang ibu bukan satu orang yang berusaha menjadi dua orang sekaligus.

Hari sore itu kedua orang yang berbeda umur hanya bisa merenung memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya, sampai akhirnya Naina melepaskan pelukan sang papa dan menatap papanya dengan mata sembab ia membisikan sesuatu kepada papanya yang dapat membuat papanya terseyum, walaupun sangat kecil ia pamit pergi ke kamarnya dengan pikiran yang terus berkecamuk di dalam otaknya kepalanya sakit ia memijit pelipisnya pusing, ia memustuskan untuk tidur dan berharap kedepannya tidak akan tambah kacau atas kepustusan yang diambil oleh papanya dengan perlahan ia mulai menutup matanya dan tertidur pulas melupakan masalahnya sejenak.

***

Sedangkan Anton-papanya Naina masih melamun di ruang kerjanya memikirkan masa depan sang anak yang sepertinya sudah kacau kerena dirinya sendiri, ia bingung harus bagaimana ia sungguh benar-benar pusing kepalanya sakit, niat untuk mengerjakan pekerjaan yang masih banyak ia urungkan ia hanya dapat melamun pikirannya kacau dan teringat kemasa-masa dimana mereka keluarga kecilnya masih selalu tertawa lepas bahagia.

***

Flashback

Gadis kecil yang berbando kelinci putih sedang bermain dengan kembaranya yang lebih memilih memakai jepit berwarna putih yang sama bergambar kelinci, mereka nampak akur.

Mereka berdua sedang bermain boneka di taman yang khusus dibuat untuk mereka supaya mereka dapat bermain dengan leluasa dan tak takut akan kotor saat mereka ingin bermain suatu permainan sambil duduk dan tak jauh dari mereka terdapat dua ayunan yang juga khusus dibuat untuk mereka, mereka sangat senang karena dengan begini mereka dapat bermain diluar sepuasnya tanpa takut akan sesuatu yang tak pernah siapapun harapkan.

dari kejauhan ada sepasang suami-istri yang melihat anak-anaknya yang sedang bermain dan sangat gembira mereka terseyum, di dalam hati masing-masing mereka bersyukur karena sudah memiliki dua bidadari yang lucu dan pintar mereka berharap jika hal ini akan selalu seperti ini sampai tuhan memanggil mereka, sang suami hanya dapat memeluk istrinya dari belakang dengan sayang.








***

Sorry kalau garing,sumpah deh ini bagian paling absurd,jangan lupa vote&coment ditunggu walaupun nanti komenya pedes saya terima dengan senang hati

Love From Fake Nerd ( End )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang