Naina menatap aneh ke arah Dito yang sedang enak-enakan makan camilan.
"Dito?"
"Apa!"jawab Dito yang masih mengunyah makanan di mulutnya, karena kesal pada Dito Naina merampas bungkus makanan yang dipegang Dito dan menyimpannya di meja yang ada di antara mereka.
Dito yang melihat reaksi Naina hanya menatap Naina heran dan ia mengambil kembali bungkus makanan tersebut, tapi sebelum ia mencomot makannya Naina keburu merampas kembali makan itu dan menyembunyikannya di belakang punggungnya.
Dito yang merasa heran dengan kelakuan pacarnya memutuskan untuk bertanya "Kamu kenapa?"
"Yang harus nanya kayak gitu tuh! Harusnya gue!!"ucap Naina sambil menahan marah.
Dengan polos Dito menjawabnya "Ohh!! Yaudah kalau gitu silahkan pertanyaan diulang kembali"
"Dosa apa gue sampe punya pacar ke ni orang yang kagak punya kepekaan sedikit pun"rintihan Naina dalam hatinya.
Mereka berdua diam,Dito melanjutkan kembali makannya setelah mengambil makanan lain yang ada di meja di sampingnya dan mengabaikan Naina yang sedang cemberut, sesekali ia melirik ke arah Naina saat kesepuluh kali ia melirik Naina masih cemberut.
"Bodo ah! Yang penting gue kenyang!"
Naina sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan pacarnya, ia berdiri dan meninggalkan Dito sendirian yang masih makan walaupun Naina sebagai pemilik rumah sudah pergi.
Hana yang baru selesai dari dapur melihat Naina yang akan naik ke tangga dan ia melihat Dito yang sedang makan sendirian di kursi yang ada di taman rumahya "Loh Nai! Kok Dito ditinggalin?!"
Naina membalikan tubuhnya menghadap ke arah Mamanya dengan muka yang lemas "Dia lagi selingkuh!"
Hana yang mendengarnya kebingungan, ia melihat kembali ke arah Dito dan melangkahkan kakinya ia tidak melihat siapa-siapa, disana hanya ada Dito yang sedang makan.
Saat Hana akan menemui Naina kembali ia lihat Naina sudah tidak ada, ia pun memutuskan untuk menemui Dito tapi suara teriakan membuatnya membatalkan rencana itu dan pergi ke kamarnya.
"Mama! Gilang bangun!"teriak Naina
Dito yang mendengar teriakkan Naina kaget!, "Kenceng juga suaranya ya! Lumayan buat wasit nanti pas tanding bola sama sekolah musuh biar gak usah pake mic!"
Naina yang dapat melihat Dito dari Balkon kamarnya, ingin sekali menjailinya tapi hal itu sangat bertentangan dengan perilaku nya.
"DITOO!"
"APAAA?!"
"Lah cuma dijawab doang! Gak nengok sama sekali!, Tu orang emang bener-bener pengen dijalin ya?!"
Naina masuk ke dalam kamarnya dan mengambil bedak bayi dan lipstik yang ada di meja riasnya dan ia pun turun lalu pergi menemui Dito yang masih makan.
"Dito!"panggil Naina, tanpa meminta izin terlebih dahulu ia menaburkan bedak bayi ke mukanya Dito menggunakan tangannya, lalu memoleskan lipstik ke dua pipi Dito dengan bentuk lingkaran.
Dito yang menerima perlakuan itu hanya duduk tenang sambil melihat muka sebal Naina yang masih memoles wajahnya.
Tak butuh waktu lama Naina selesai mempercantik Dito, ia pun mengambil kaca yang ia simpan di saku celananya dan mengarahkan nya ke arah muka Dito.
Saat Dito melihat wajahnya yang sudah putih dan merah, ia malah tertawa terpingkal-pingkal sampai tak sadar jika ia sedang duduk di kursi dan saat ia berdiri sambil tertawa kursinya malah jatuh dan mukanya terjembab ke rumput taman yang tebal.
Naina Yang menyaksikan hal tersebut kaget dan langsung menolong Dito dan melihat muka Dito,dan untungnya muka Dito tidak kenapa-napa, ia mengelus dada bersyukur.
"Ciee perhatian banget sih kamu!"
Naina hanya pergi entah kemana meninggalkan Dito yang sedang happy dengan meledeknya, dan ia kembali lagi menemui Dito yang sedang tertawa di kolam renang sambil berenang kesana-kemari.
"Kok dia gak minta izin dulu buat berenang!"
Naina menghampiri Dito yang sedang berenang, Dito yang melihat Naina menghampirinya hanya mengabaikan Naina.
"Dito!"Dito hanya menengok ke arah Naina
"Dito tadi Bunda Lo nelpon katanya Lo harus cepetan pulang!"
"Lo ngusir gue?!"
"Nyaelah ngapain juga sih gue ngusir Lo! Itu emang nyata kata nyokap Lo!
Kalau gak percaya Lo bisa telpon balik ke nyokap Lo!"ucap Naina sambil memutar matanya sebal.
"Oke!, Siniin dong Hp gue!"perintah Dito
Naina pun pergi ke ruang keluarga untuk mengambil Hp Dito.
"Dasar orang gak tau malu!"
***
Dito sudah sampai di depan rumahnya, ia membuka pintu dan langsung nyelonong gitu aja tanpa mengucapkan salam atau mengetuk pintu.
Ia melihat-melihat kesekeliling rumahnya, namun tak ada siapa-siapa ia pun pergi ke ruang keluarga namun disana tak ada siapa-siapa, lalu pergi ke halaman dan hasilnya sama tidak ada siapa-siapa.
"Ni orang-orang pada kemana ya!"
Ia pun pergi ke kamarnya dan melihat secarik kertas yang tertempel di depan pintu kamarnya, ia mencopotnya.
"Dito! Kamu ini di suruh pulang lama amat sih! Jadi Bunda tinggalin aja kamu."
"Surat apaan ini! Gue! Ditinggalin! Kemana?"
Dito membawa masuk surat tersebut kedalam kamarnya, ia pun memilih untuk mandi dan berpakaian santai.
Saat ia ingin membawa sisir yang ada di meja, disana ada secarik kertas lagi.
"Dito!! Pokoknya Bunda gak mau tau! Kamu harus bisa nemuin bunda, sekarang!!!"
"Bunda aneh banget sih!"
"Bunda pergi?!"
"Terus dia suruh gue nyariin, tapi gak ada alamat atau petunjuknya sama sekali."
"Apa Bunda lagi pusing ya!"
"Tau ah, pusing gue mikirinnya!"
"Mending tidur aja! Perut udah kenyang karena pas di rumah Naina gue makan mulu, terus badan udah bersih dan udah harum jadi.... waktunya tidur."
Dengan gaya ala kadarnya ia menghempaskan badannya ke kasur dan langsung tidur sambil berharap jika esok adalah hari dimana ia akan menikah dengan Naina.
***
Update lagi nih guys!
Gimana yang ini boring banget gak?
Kalau pendapat aku sih, ini chap boring banget gak ada kesan istimewanya gitu
KAMU SEDANG MEMBACA
Love From Fake Nerd ( End )
Ficção Adolescente'Seperti cinta yang datang tanpa di undang, dan seperti perasaan ini yang muncul tanpa ada undangan, melainkan sinyal dari dirimu yang seakan-akan menyuruh ku untuk mencintai dirimu.' Dito Angga Bawisana 'Entah apa yang membuat ku menyukai dirimu, t...
