Bian mentup pintu kamarnya dan mendudukkan dirinya di kursi depan meja belajarnya yang membelakangi ranjang. Jinyoung menatap seisi kamar seorang gadis yang masih berusia enam belas tahun, seperti Bian.
"Ini pengalaman pertama saya masuk ke kamar perempuan enam belas tahun." Ucap Jinyoung. Bian memilih tidak menggubris apa yang dikatakan Jinyoung dan berfokus pada prnya. "Oh iya dua hari lagi kamu izin lagi ya, kita harus foto prewedding."
Dari ucapan Jinyoung barusan dapat Bian simpulkan, sebenarnya Jinyoung menginginkan pernikahan yang sama sekali tidak Bian inginkan ini.
"Hm."
Bian membuka tas sekolahnya dan mencari kotak pensilnya. Pikirannya teralihkan oleh uluran tangan Jinyoung yang memberikan kotak pensilnya.
"Ini tadi ada di kasur,"
Bian menerimanya tanpa mau mengatakan terima kasih.
Jinyoung berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, ia melihat-lihat bentuk soal yang ada di ponsel yang Bian berdirikan. Bian mendesah sebal, kenapa ia harus mengerjakan tugas ini kalau ia tau bahwa Jinyoung tidak mungkin menagihnya.
"Ah soal ini, pernah keluar di ujian dua tahun yang lalu."
Jinyoung merebut pensil di tangan Bian dan menggoreskan sesuatu di selembar kertas.
"Kamu faktorkan dulu, lalu seperti ini."
Bian berdecak.
"Mas pulang aja deh mending."
Jinyoung menatapnya dengan tatapan datar dan juga dingin, "Kamu ngusir saya?"
Bian tertunduk lemas, bukan itu juga maksudnya. "Bian ngerasa enggak nyaman kalau ada Mas Jinyoung."
"Kenapa? Lagipula sebentar lagi kita pasti tinggal bersama. Jadi mau enggak mau kamu harus nyaman dan terbiasa dengan saya."
Oke. Bian mulai mendoktrin dirinya kalau ia harus nyaman dan terbiasa dengan kehadiran Jinyoung yang labil mulai sekarang. Dia harus bisa untuk terbiasa dengan Jinyoung yang akan selalu ada di dekatnya. Harus mulai terbiasa apapun yang terjadi.
"Jadi, Jaehyun itu si Jeprey-Jeprey itu?"
Bian mengangguk lesu sambil menyalin pekerjaan Jinyoung di bukunya.
"Masa saingan saya harus murid saya sendiri?"
Bian mencibir, "Padahal nanti istrinya muridnya sendiri." Ujar Bian berbisik.
"Apa?"
Bian menggeleng lemah, "Bukan apa-apa."
"Kamu enggak ada kursi lagi? Masa saya harus berdiri terus? Atau kamu mau saya pangku?"
Bian bersumpah kalau Jinyoung itu sangat cerewet dan menyebalkan.
"Lagipula Bian enggak minta Mas Jinyoung ngajarin Bian, Bian kan pernah bilang kalau Bian enggak punya uang buat bayar guru les privat."
Jinyoung menghela nafasnya pelan lalu menarik buku Bian dan meletakkannya di ranjang. "Kerjakan di kasur saja, saya pengen rebahan."
Bian berdecak. Gurunya ini sinting atau gimana sih. Sudah masuk ke kamarnya sesuka hatinya, tidur di ranjangnya dengan bantal dan gulingnya, dan sudah membuat Bian ambyar dalam sehari.
Walaupun Bian seharian ini kesal, tapi tetap saja, dia kan anak SMA yang nasih dalam fase baper-bapernya. Nonton sinetron bareng Jaehyun, baper. Ditemenin Jungkook makan siang di kantin, baper. Disapa Kak Bobby, baper. Dimasakkin makanan sama Seokjin, baper.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teacher; Park Jinyoung
FanfictionLika-liku Park Jinyoung yang istrinya itu muridnya di sekolah. "Lho berarti kamu istri saya dong?" alvatair, 2018
