Jinyoung masih bertahan di tempatnya tadi walaupun Nayeon masih mengganggunya dengan pertanyaan yang sangat melukai harga dirinya. Tetapi Jinyoung diam saja, ia tidak mau membuat keributan lalu dianggap tidak sopan karena telah bertengkar dengan wanita hamil.
"Maaf buat Mas Jinyoung menunggu lama." Bian datang dengan wajah menunduk lalu meletakkan barang miliknya di celah sempit di dalam troli belanjanya.
"Enggak papa, habis gini mau makan di mana, istriku?"
Jinyoung sengaja menekankan kata terakhirnya seraya menatap Nayeon dengan tatapan mengejek.
Benar kan, Nayeon mengerutkan keningnya tanda tidak suka.
Repot deh, mantan belum nikah dikatain terus, dibilang belum bisa move on terus merasa menang sendiri. Mantan sudah nikah dan istrinya jauh lebih cantik dan manis, jadi iri dan mendadak menyesal memutuskannya.
"Oh iya, Nayeon, kenalkan, ini istriku."
Bian menatap wanita hamil yang dimaksud Jinyoung lalu menampilkan senyum terbaik ketika ia mengingat kalau belum pernah bertemu dengan wanita hamil tersebut.
"Hai. Saya Kim Bian."
Keduanya berjabat tangan dengan perbandingan ekspresi yang berbeda, Nayeon kesal sedangkan Bian tenang.
"Senang berkenalan dengan anda Kim Bian, saya Im Nayeon, mantan pacarnya Jinyoung."
Bian awalnya terkejut tapi dia berusaha santai. Rencananya sih kalau mendapat kesempatan bertemu dengan mantan pacarnya Jungkook, dia mau acting savage, berhubung dia bertemunya dengan mantan pacarnya Jinyoung, yaudah.
"Oh mantan pacar." Balas Bian santai.
Jinyoung sih rasanya sudah ketakutan sendiri, takut Bian mendadak minder dan mengurungkan niatnya untuk belajar mencintai Jinyoung yang telah menyukainya. Padahal sih lebih cantik Bian daripada Nayeon.
"Ternyata selera Mas Jinyoung enggak main-main ya kalau milih pacar." Bian tetap mempertahankan senyum menawannya walaupun Nayeon memasang wajah bangganya.
"Iya, tapi kayanya setelah putus dari saya selera Jinyoung langsung turun deh." Ini Nayeon maksudnya mau mengejek Bian yang di matanya terlihat jelek.
Bian dengan santai bilang, "Iya, turun sedikit lalu meningkat drastis."
Nayeon membelalakkan matanya tidak terima, "Jadi menurut kamu saya jelek?"
Bian menggeleng, "Saya enggak bilang, mbaknya sendiri yang bilang loh ya."
Jinyoung menahan senyumnya dengan mengepalkan tangan di depan bibirnya.
Terlihat Nayeon menggeram kesal. Tandanya, Bian menang satu poin dari Nayeon.
"Oh iya mbak, suaminya kemana? Kok sendirian aja?"
Nayeon mengibaskan rambutnya lalu dengan bangga mengatakan, "Suami saya lagi meeting dengan pemegang saham di luar negeri."
Bian membulatkan bibirnya merespon jawaban Nayeon. Istri orang kaya toh. Kalau dibandingkan dengan Jinyoung yang hanya guru sekolah swasta dan pemilik kafe, ya mungkin beda jauh, tapi dari segi perhatian, Jinyoung menang, buktinya saja ia menemani Bian berbelanja.
"Saya diberi kartu kredit gold buat belanja dong." Nayeon mengacungkan kartu kredit pemberian suaminya.
Bian menahan tawanya, kredit aja bangga mbak. Lalu tangannya mengamit lengan Jinyoung, "Tanpa kartu kredit gold, yang penting Mas Jinyoung menemani saya berbelanja." Bian menaik turunkan alisnya, pamer.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teacher; Park Jinyoung
FanfictionLika-liku Park Jinyoung yang istrinya itu muridnya di sekolah. "Lho berarti kamu istri saya dong?" alvatair, 2018
