Tungkainya berayun memasuki toko buku yang cukup sepi. Hanya berisikan beberapa pengunjung yang memiliki minat baca tinggi atau hanya sekedar melihat-lihat dan juga pelayan toko.
“Pak, saya ke sana ya?” Chanwoo menunjuk arah rak komik.
“Iya, nanti kumpul di kasir. Jangan lama-lama.” Jinyoung membalas lalu beralih menuju rak buku kesehatan.
Ia ingin mencari buku resep yang berisikan makanan yang menunjang gizi untuk wanita yang tengah mengandung. Jinyoung ingin Junior terlahir tidak hanya tampan tetapi juga cerdas. Mau bagaimanapun, Junior adalah penerusnya.
Chanwoo bosan di rumah hanya direcoki ibunya yang sibuk mempersiapkan pernikahan yang tidak diinginkannya. Ibunya bahkan marah mengetahui dirinya mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Aussie. Ibunya menginginkan Chanwoo melanjutkan pendidikannya di kota yang sama, agar bisa membina rumah tangga dengan baik bersama Arin. Dan juga tidak mungkin jika Arin ikut Chanwoo ke Aussie, bukan?
Ibunya pasti tengah menyumpah serapahinya sekarang. Bagaimana tidak marah. Semuanya sedang sibuk sedangkan Chanwoo asik kelayapan begini dengan Jinyoung di toko buku. Laptop yang biasa ia bawa kemanapun untuk bermain game pun disita. Komputernya bahkan dipindahkan di rumah barunya dengan Arin. Kejam.
Chanwoo kesal sebenarnya. Mengapa ia harus mengalami ini semua. Menyusahkan sekali. Ia masih ingin berpacaran dengan teman sekampusnya. Masih ingin pergi dengan gengnya, bukan untuk mengurusi Arin.
Chanwoo terlarut dalam bacaannya. Di toko buku biasanya terdapat komik yang segelnya sudah terbuka, entah memang disengaja hanya untuk display atau ulah oknum yang tidak bertanggung jawab. Suka membaca, iya, hanya saja Chanwoo lebih seperti Jaehyun, menyukai yang bergambar. Makanya buku pendamping untuk mata pelajaran peminatan IPA ia membeli yang full colour, agar semangat mempelajarinya.
Jinyoung selesai memilih buku resepnya. Resep yang dimuatnya juga bervariasi tingkatnya, ada yang mudah sekali hingga sulit. Jinyoung bertekad akan memasakkan semuanya untuk Bian, dan juga Junior.
Jinyoung tentu menerima Junior.
Jimin, pelaku sampingan yang namanya ikut terseret dan tertuduh sebagai ayah biologis Junior, melakukan aksi tidak terimanya pada Jinyoung. Ia yang sejauh ini berkorban demi Jinyoung dan juga Bian, sampai Seulgi yang jahat mengakhiri hubungan mereka, mendapatkan hasil yang tidak menyenangkan. Bayangkan saja, Jimin sampai sering bertengkar dengan Seulgi karena tidak bisa mengantar jemputnya seperti pacar kebanyakan karena harus mengantar jemput dan lain sebagainya untuk Bian.
Dan apa yang Jinyoung berikan untuknya? Tuduhan bahwa Jimin yang merupakan ayah biologis dari bayi yang dikandung Bian.
Mengetahui Bian menangis dan sakit karena ulah Jinyoung, Jimin marah, jelas. Ia bahkan tidak segan-segan menyumbang pukulannya untuk kakaknya yang memiliki pemikiran yang begitu dangkal. Menambahkan luka di atas luka yang baru saja ayah Jinyoung berikan.
Jimin tidak peduli jika yang ia pukuli adalah kakak kandung yang ia sayangi. Jinyoung mengajarkan kepada Jimin untuk tidak pernah menyakiti hati wanita. Karena dengan begitu, sama saja menyakiti hati ibunya. Tapi Jinyoung melakukan hal yang ia larangkan untuk Jimin.
Jinyoung beralih ke tempat novel. Ia suka membaca, buku apapun ia baca. Ia berencana mencari novel terjemahan untuk kali ini.
Satu jam sibuk dengan kesenangan masing-masing, Jinyoung dan Chanwoo berkumpul di kasir. Jinyoung dengan tujuh buku di tangannya, sedangkan Chanwoo memilih tiga buku komik sains.
“Kamu beli itu?” Jinyoung bertanya. Chanwoo menunjukkan bukunya dan mengangguk.
“Bian punya, kenapa enggak pinjem dia aja?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Teacher; Park Jinyoung
FanfictionLika-liku Park Jinyoung yang istrinya itu muridnya di sekolah. "Lho berarti kamu istri saya dong?" alvatair, 2018
