Baru saja Bian turun dari motor Jimin dan mau bilang makasih ke Jimin, Chanwoo sudah datang dan menyapa Jimin lalu menarik Bian untuk naik ke rooftop. Nariknya enggak santuy, ditarik tasnya.
"Biar gue nebak dulu." Ujar Chanwoo. "Lo nikah sama Pak Jinyoung."
Bian sudah menduga Chanwoo akan mudah menebak. Pertama, dari Jinyoung yang tiba-tiba memanggilnya dengan mengubah namanya. Kedua, Bian dan Jinyoung pernah izin tidak masuk di hari yang sama. Dan pada hari itu Jinyoung mengunggah fotonya dengan setelan, bersamaan juga dengan Bian yang mengunggah cerminan dirinya yang sedang duduk di kursi rias.
"Udah tau kan? Gue minta lo diem."
Chanwoo menatap Bian bingung, "Jeka tau?"
Bian menggeleng sebagai jawaban.
"Jaehyun? Chaeyeon?"
"Jaehyun tau, Chae enggak."
Chanwoo menghela nafasnya pelan lalu menatap Bian dalam. "Biar gue tebak. Perjodohan?"
"Kok lo bener terus sih?"
Chanwoo menatap Bian lagi, bukan karena dia sedang berpikir tentang kemungkinan yang bisa saja muncul dan berkaitan. Chanwoo langsung memeluk Bian. Dia ingin juga merasakan beban yang Bian rasakan.
"Gue ngerti perasaan lo."
Chanwoo tau karena Chanwoo juga berada dalam kondisi yang sama. Dimana nanti tepat setelah ia melangsungkan wisuda, dia akan melangsungkan akad nikah. Bukan dengan orang yang lebih tua, seperti kasus Bian, tetapi adik kelasnya sendiri. Motifnya sih, karena kooperatif antar perusahaan.
Maunya Chanwoo sih setelah setahun menikah, akan bercerai. Mau nikah lagi pasti calonnya enggak akan percaya kalau Chanwoo itu duda.
Dimana-mana imej duda kan garang gitu bos, ini cute, ya jelas enggak percaya. Apalagi kalau Chanwoo nanti sudah jadi ayah, pasti dikiranya dia lagi jagain adek.
Chanwoo melepas pelukannya, "Lo kalo mau cerita tapi ke Jaehyun jauh, ke gue bisa." Ujar Chanwoo seraya menepuk pelan bahu Bian.
Bian tidak bisa berkata lagi, dia aslinya ingin menangis. Entah tentang apa.
Bian mendongak sedikit untuk menatap mata besar Jung Chanwoo. "Jangan sungkan, Park Bian." Ujar Chanwoo yang bisa membuat Bian tersenyum.
"Yang tadi nganterin lo siapa?"
"Park Jimin, adek ipar."
Chanwoo paham maksudnya. Bian tidak mau ketahuan karena telah menikah dengan gurunya hanya karena berangkat bersama dengan Jinyoung.
"Ada niatan kawin kontrak?" Tanya Chanwoo lagi.
Nanya mulu ih kaya dora.
Bian menggeleng. "Mas Jinyoung maunya nikah sekali seumur hidup. Gue takutnya kalau cerai dia bunuh diri."
Chanwoo terkekeh pelan. "Gue enggak bakalan bunuh diri kalau di posisi Pak Jinyoung."
Bian mengernyitkan dahinya.
"Gue juga kaya lo, tapi sama adek kelas. Nikahnya pas gue lulus. Dan gue berniat cerai setelah setahun nikah."
Bian menggenggam tangan Chanwoo dan menatap maniknya. Ia menggeleng. "Lo enggak akan tahu bagaimana indahnya memahami perasaan jodoh lo."
Chanwoo mendengus, "Yah bucin."
"Gue serius bangsat."
"Iya, udah, paham gue."
"Heh kalian! Mau mesum ya?"
Bian sontak melepas kaitan tangannya dengan Chanwoo lalu menatap arah pintu rooftop. Ada Bapak Jinyoung yang lagi natap mereka marah.
"Kamu sudah tahu kan kalau dia istri saya?" Tanya Jinyoung ke Chanwoo.
"Maaf pak, tapi saya udah tau." Jawab Chanwoo.
"Yaudah, kamu aja yang jadi wakil ketua kelas. Jangan Yunhyeong."
Chanwoo mengangkat kepalanya. "Biar saya punya alesan kalau lagi kangen istri." Ujar Jinyoung disusul tawa Chanwoo dan Jinyoung.
•••
Waktu istirahat Chanwoo tersita karena dia harus mendampingi Bian dengan cover panggilan ketua dan wakil kelas ke ruangan Jinyoung. Yunhyeong sudah diberi tahu dan Chanwoo pikir temannya yang sering disebut sebagai kembarannya itu akan tidak terima karena jabatannya dilepas secara tiba-tiba. Tetapi, laki-laki pecinta lipbalm itu justru senang.
Soalnya Yunhyeong lelah harus berdesakan saat rapat ketua dan wakil kelas seluruh kelas. Manalagi banyak yang nanya-nanya lipbalm ke dia. Emangnya Song Yunhyeong jualan lipbalm? Dia kan konsumen bukan distributor.
"Haduh pak, kalau bucin dikira-kira dong." Chanwoo mendengus kesal. Dia harus datang jauh-jauh dari kelas sambil bawa kotak bekal, Taunya cuman disuruh liatin Jinyoung yang sibuk usel-usel ke Bian.
"Lo enggak risih, Bi?"
Bian tersenyum. "Kan ini Mas Jinyoung, bukan lo."
Chanwoo menatap keduanya ngeri. "Bucin banget sih." Yang dilanjutkannya makan bekal yang dibawakan adek kelasnya.
Berhubung Chanwoo tinggalnya di apartemen, dan adek kelasnya itu dititipkan di apartemennya karena kedua orang tuanya sedang ada perjalanan bisnis, jadi Chanwoo dapat hadiah bekal.
Pintu diketuk dan masuklah Choi Arin.
Jinyoung yang tadi asik menelin Bian langsung duduk dan pura-pura buka rapor. Iya habis gini kan pembagian rapor, jadi ketua dan wakil kelas dipanggilnya untuk membantu memasukkam lembaran hasil belajar ke map.
Chanwoo menatap Arin sekilas lalu membantu Bian memasukkan lembaran hasil belajar ke dalam map. "Itu lo megang absen berapa aja?"
"Ini lima belas sampe dua satu." Bian membacanya satu persatu.
Arin tadi mendekat ke Jinyoung dan memberikan dua buku tulis. "Pak, punya Mark sama Chaeyoung yang ketinggalan."
Jinyoung mengangkat kepalanya lalu menerimanya, dengan tersenyum tipis.
"Kak Chan katanya enggak suka bekalnya, tapi kok dimakan?" Arin bertanya.
Chanwoo tampak gelagapan menyembunyikan bekalnya.
"Gue yang makan dek, makasih ya, enak." Bian berujar. Bermaksud menyelamatkan Chanwoo tapi justru menyakiti hati Arin.
Arin tersenyum getir, "Oh, oke, duluan ya."
Sepeninggal Arin, ruangan menjadi hening, tidak ada percakapan sampai bel masuk.
•••
I don't know kenapa tidak mood sekali. Dan, yah.
-alvatair
KAMU SEDANG MEMBACA
Teacher; Park Jinyoung
FanfictionLika-liku Park Jinyoung yang istrinya itu muridnya di sekolah. "Lho berarti kamu istri saya dong?" alvatair, 2018
