“Jinwoo, Jiwoo, abi bawa cokelat!”
Jaehyun melangkahkan kakinya ke dalam rumah hangat tempat tinggal anak yang disayangnya. Menyapa anak kembar yang tidak identik itu dengan kasih dan cinta. Menarik keduanya dalam peluknya dan mencium pipinya gemas.
“Abi, mana perisai Captain America buat Jinwoo?”
Tahun depan, Jinwoo dan Jiwoo mulai bersekolah di sekolah dasar. Bundanya masih mencari cara agar putra-putrinya mau bangun pagi demi belajar di sekolah.
Saat ini, saat taman kanan-kanak saja, kedua orang tuanya sampai kewalahan membujuk mereka dengan berbagai cara. Jiwoo yang paling mudah dibujuk, dengan makanan.
“Abi, Jiwoo mau sepatu roda.”
Bunda bocah kembar itu datang menyambut Jaehyun. Menyuarakan senyumnya dan menepuk gemas pipi Jaehyun. “Jangan dimanjain nanti kebiasaan.”
Jaehyun balas tersenyum. Tangannya terulur mengacak pelan rambut Bian, “Enggak papa, seneng aja punya anak kaya mereka.”
Park Jinwoo dan Park Jiwoo, kembar fraternal berbeda plasenta. Tidak memiliki banyak kemiripan dari segi fisik. Jiwoo cenderung seperti ayahnya yang berani, Jinwoo cenderung seperti ibunya yang lembut.
“Kak Jinyoung gimana kabarnya?”
Bian tersenyum dan menggeleng pelan yang dapat Jaehyun artikan sebagai,
‘Baik, tidak ada hal yang buruk.’
Jaehyun tersenyum lega, “Kapan pulang?”
“Habis gini mau ke bandara jemput pak bos, mau ikut?”
Dengan anggukan matap Jaehyun menjawab, “Gue yang bawa mobil ya?”
“Lo lupa kalo gue pendukung feminis?”
Dengan sebal, Jaehyun menyentil dahi Bian. Cukup keras sampai Jinwoo enggak terima.
“Abi kok jahat sama bunda?”
Mulai deh. Enggak bisa ya itu anak kecil lihat dia bahagia dikit di atas kesedihannya Bian apa gimana gitu. Minimal mendukungnya untuk ngebully Bian. Capek dia lama-lama.
Jaehyun berjongkok lagi, “Itu cara abi buat bilang sayang ke bunda. Tapi Jinwoo enggak boleh niru abi.”
“Jinwoo kalo nakal, nanti aku aduin papa, gimana? Masih berani Park Jinwoo?” Jiwoo, bocah perempuan itu menyilangkan kedua tangannya dan menatap remeh kakaknya itu.
Bagi Jiwoo, Jinwoo itu adiknya. Tidak mau mengetahui fakta bahwa Jinwoo lahir sepuluh menit lebih cepat darinya. Jiwoo tidak peduli, yang terpenting adalah jiwa Jinwoo adalah jiwa seorang adik.
Pukul sebelas Bian mengeluarkan mobil dari garasi, lalu memanasinya. Ia berteriak dari depan untuk mengingatkan Jaehyun untuk segera bergegas.
Karena Bian sudah rindu dengan purnamanya.
Karena tuntutan pekerjaan, Bian harus berpisah dengan Jinyoung. Jadi Bian sudah cukup terbiasa dengan kemandirian. Seperti tengah malam yang harus menyetir kebut-kebutan di jalanan karena Jinwoo demam.
Waktu itu Jinwoo dan Jiwoo masih berusia tiga tahun. Tahun berat-beratnya untuk Bian karena selain mengurus si kembar, Bian juga harus beradaptasi dengan lingkungan kantornya.
Bian bekerja di perusahaan ayahnya, sudah jelas, lulusan bisnis manajemen emang mau ikut koas sama Seokjin yang lagi residen?
Hanya sebagai karyawan biasa, Bian tidak langsung muluk-muluk menjadi manager atau bahkan CEO. Bian tidak mau dianggap remeh oleh karyawan lain karena sementang dia anak yang punya perusahaan jadi langsung dapat jabatan cantik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teacher; Park Jinyoung
FanfictionLika-liku Park Jinyoung yang istrinya itu muridnya di sekolah. "Lho berarti kamu istri saya dong?" alvatair, 2018
