Adham membuka matanya perlahan.
"Adiba" ujar Adham setelah matanya terbuka sempurna.
"Adiba ada diruangan sebelah mas" ucap Loly menyahuti.
"Adiba sudah pergi Loly. Dia sudah kembali ke Eropa"
"Tidak. Adiba dan Zein membatalkan penerbangan mereka setelah mendengar kabar mas Adham kecelakaan"
"Jadi.."
"Iya, Adiba ada disini"
"Tunggu dulu. Kenapa Adiba bisa ada diruangan sebelah??"
"Tadi Adiba pingsan mas"
"Apa?? Pingsan??" Adham membelalakkan mata keget. Dengan cepat Adham berdiri dari tidurnya, melepas dengan paksa jarum infus yang tertanam di tangan kirinya dan berjalan menuju ruangan sebelah.
Adham memasuki ruangan itu, dimana Adiba masih belum sadarkan diri. Disana ada Zein yang sedang menunggu Adiba sadar.
"Adiba" Adham menghampiri Adiba yang sedang terbaring di atas brankar.
"Mas Adham" Zein yang tadi nya duduk di samping brankar berdiri setelah melihat kedatangan Adham.
Zein mengerti situsi, ia memutuskan untuk keluar dari sana dan memberikan privasi intuk Adham dan Adiba.
Adham menduduki tempat dimana Zein duduk tadi. Setelahnya, Adham menggenggam tangan Adiba.
"Aku tau, kamu gak akan pergi ninggalin aku lagi. Makasih karena telah kembali" Adham mengecup tangan Adiba.
"Maafin aku, selama ini sudah membuat kamu susah dan menderita. Aku terlambat menyadari perasaan ku pada mu. Sehingga membuat mu menjauh dari ku selama ini. Tapi kali ini aku gak akan biarin kamu pergi lagi. Maaf kalau aku egois ingin tetap mempertahankanmu, padahal aku sudah sangat menyakiti mu. Izinkan aku untuk memperbaiki semua nya Adiba" Adham menundukkan kepalanya, ia benar benar merasa menyesal.
"Mas Adham" Adiba mengelus kepala Adham yang tertunduk.
"Adiba" Adham mendongak melihat wajah Adiba yang tersenyum padanya.
"Mas, baik baik aja kan?? Dimana yang sakit mas??" tanya Adiba khawatir melihat kepala Adham perban.
"Tunggu dulu, tadi dokter bilang.."
"Tidak Adiba, aku tidak apa apa. Dokter yang tadi itu bukan dokter yang menanganiku. Aku tidak separah itu"
Benar, dokter yang Adiba temui tadi bukan lah dokter yang menangani Adham. Loly pun tau itu. Tapi ia diam saja dan ingin melihat bagaimana reaksi Adiba.
Adham tersenyum melihat ke khawatiran Adiba. Ternyata Adiba masih peduli padanya. Tentu saja, bahkan Adiba masih sangat mencinta laki laki itu bukan??
"Adiba, aku benar benar minta maaf atas semua kesalahan ku" ucap Adham.
"Mas gak perlu mengulang nya, Diba udah dengar semua nya"
"Jadi..."
Adiba menunduk.
"Diba minta maaf mas, Diba sudah akan menikah dengan Zein" ucap Adiba bersalah.
"Kamu gak usah menghawatirkan pernikahan itu Adiba" Zein memasuki ruangan itu.
"Tapi Zein..."
"Adiba, sudah berapa kali aku bilang padamu. Aku tidak masalah jika pernikahan itu batal. Asal jangan kamu memutuskan persahabatan kita. Aku masih bisa mencari wanita lain. Kamu jangan menghawatirkan itu. Di luar sana masih banyak perempuan bukan?? Lagi pula aku akan kembali ke Eropa, disana banyak bule bule cantik, siapaun akan tertarik dengan ketampanan ku bukan??" Zein mengerlingkan mata nya sebelah.
"Apa kamu akan menetap di Eropa??" tanya Adham.
"Ntah lah. Kalau aku tidak betah, aku pasti kembali kesini lagi"
"Wah, sepertinya aku melewatkan sesuatu" celetuk Loly yang baru tiba.
"Ya, kau baru saja melewatkan drama paling menyentuh sepanjang masa" sahut Zein.
"Benarkah?? Aku sungguh tidak beruntung"
Dan masih banyak celetukan lain yang dikeluarkan oleh Zein dan Loly untuk menggoda Adiba dan Adham.
Adham membawa Adiba kembali ke rumah mereka yang dulu. Adiba di sambut dengan rumah yang berantakan dan tidak terurus.
"Mas, ini rumah atau apa?? Kenapa berantakan sekali??" tanya Adiba setelah masuk dan melihat keadaan rumah itu.
"Maaf, kamu pulang keadaan rumah kita seperti ini. Aku tidak sempat membersihkannya" Adham menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Ya sudah, mas istirahat dulu. Biar Diba beresin ini"
"Kita beresin sama sama" tanpa menolak Adiba langsung mengangguk.
Kalau di lihat, Adiba juga tidak akan sanggup membersihkan rumah itu sendirian.
"Tidak ada yang berubah" ucap Adiba setelah memasuki kamar.
"Aku memang sengaja tidak memindahkan segala sesuatu nya. Karena, cuma di kamar ini kita memiliki banyak kenangan"
"Adiba" Adham berlutut di hadapan Adiba menggenggam tangannya lembut.
"Maaf, jika selama ini aku sudah membuat mu lelah dan hidupmu penuh dengan linangan air mata, hati ku merasa sangat menyesal telah melakukan itu semua. Apa aku sudah pernah bilang pada mu bahwa aku tidak bisa hidup tanpa mu?? Aku ingin kau tau itu. Bagiku, hanya dengan mu lah waktu berlalu. Tanpa mu semua terhenti, jiwa ku, raga ku, semuanya sama saat kau meninggalkan ku. Aku mencintai mu. Terima kasih untuk semua yang sudah kau lakukan pada ku. Waktu, kebahagian dan juga hidup mu. Izin kan aku membalas semua yang sudah kau lakukan itu. Aku akan meberikan waktu, kebahagian, dan juga hidup ku padamu" Adham merogoh saku celananya dan mengambil sesuatu dari sana.
"Mau kah kau menikah dengan ku dan mengulangi kisah kita dari awal, merakit kebahagiann bersama, dan hidup dalam suka dan duka untuk selamanya" Adiba tidak dapat berkata. Lidah nya keluh. Tapi air mata tidak hentinya mengalir dan membasahi pipi Adiba.
"Tapi Diba masih istri nya mas Adham. Untuk apa kita menikah lagi??"
"Secara hukum kita memang masih pasangan suami istri. Tapi dalam agama tidak. Kita sudah berpisah selama bertahun tahun. Lagi pula, dari awal kita memulai kisah dengan tidak di dasari cinta. Dan sekarang, aku ingin semua nya benar benar putih, dan kita akan menggoreskan tinta disanaa bersama, kau aku dan anak anak kita kelak"
"Dari awal Diba sudah mencintai mas Adham"
"Terima kasih Adiba" Adiba mengangguk.
"Lalu.."
"Lalu??" Adiba mengernyit.
"Apa jawaban mu Adiba" Adiba tersenyum lalu mengangguk.
"Diba mau mas"
Adham tersenyum bahagia sambil menyematkan cincin yang ia ambil dari dalam saku celana nya tadi ke jari manis Adiba lalu berdiri dan memeluk Adiba.
Mereka kembali membersihkan kamar itu bersama. Adiba membuka laci nakas dan menemukan sebuah map yang berisikan surat perceraian mereka.
"Mas, ini masih mas simpan??" tanya Adiba. Adham membelakakan mata. Ia lupa bahwa surat itu masih ia simpan.
"Kamu jangan salah paham dulu. Aku tidak berniat untuk menceraikan mu. Itu aku simpan karena.. Karena.."
"Apa mas??"
"Adiba aku mohon, jangan karena surat perceraian itu masih ada kamu bakalan ninggalin aku. Aku benar benar tidak mau bercerai denga mu"
"Mas ini kenapa?? Diba kan cuma bertanya. Lagian kalau pun kita sudah bercerai masalah nya dimana. Mas kan sudah melamar Adiba lagi"
Adham salah tingkah.
"Benar juga. Berikan surat itu" pinta Adham.
"Untuk apa??"
"Aku akan mengurus semuanya. Mulai dari surat itu dan juga pernikahan kita" Adiba teraenyum lalu memberikan map tersebut.
Ternyata satu chapter gak cukup. Bakalan ada chapter selanjutnya.
Semoga pada gak bosen ya??
😆😆
KAMU SEDANG MEMBACA
Mengejar Cinta SUAMI KU
ChickLit#6 in Chicklit 23 juni 2018 Aku tau mas Adham tidak mencintai ku. Tapi salah kah aku bila mengharapkan cinta nya?? cinta suami ku sendiri Adham Faiz Al Arkhan.. ~Adiba Ufairah~
