Kenapa segitunya? Dia bukan satu-satunya teman kamu, kan?
( Putra Akmal Wijaya )
Memang bukan satu-satunya tapi dia satu teman yang berarti buat aku. Aku belajar mensyukuri hidupku karena melihat hidup dia.
( Putri Olivia Wijaya )
...
Katanya Oliv itu cuek, mukanya datar banget, gak punya teman akrab selain Rima dan si kembar. Deket sama cowok juga cuma 4 orang. Rian, Iqbal, Akmal sama Genta. Anaknya pintar, gak pernah bermasalah di sekolah. Hidupnya ya gitu-gitu aja. Sekolah - Bantuin Genta - Pulang - Makan - Tidur. Dibilang miris ya miris, tapi Oliv bersyukur. Setidaknya hidup dia lebih berkecukupan dibanding anak-anak di luar sana.
Tapi sekarang, teman-temannya dibuat ternganga dengan kedatangannya di sekolah. Karena baru saat ini, mereka melihat Oliv jalan di koridor dengan menampilkan senyum lebarnya. Beberapa cowok jadi bersiul menggodanya. Beberapa cewek juga jadi pada bisik-bisik, nyangkanya si Oliv lagi caper.
Rangkulan seseorang di bahunya membuat Oliv berhenti melangkah. Ia menoleh dan terkekeh ketika melihat sang pelaku. "Pagi, Put."
Akmal tersenyum. Ia kembali melangkah membuat Oliv yang berada dirangkulannya ikut berjalan. "Pagi juga," Ia melirik saudaranya itu. "Seneng banget kayaknya."
Oliv menyengir. "Ketahuan banget ya?"
Akmal mengangguk. "Kamu kan biasanya judes. Gak liat mereka?" tanyanya sambil melirik beberapa murid yang menatap keduanya. "Mereka aja heran liat kamu pagi-pagi udah senyum pepsodent."
Oliv menahan senyumnya. "Aku bahagia. Mami sama Papah kamu udah baikan. Deo juga seneng sekarang udah punya temen main ps."
Akmal pura-pura tersinggung. "Oh jadi kehadiran aku cuma sebagai temen ps Deo begitu?"
Oliv terbahak. "Ya gak lah. Kamu kan kakak sepupu aku. Putra yang suka jagain Putri. Saudara terbaik lah pokoknya."
Akmal ikut terbahak. Ia menganggukan kepalanya. "Ngapain masuk kelas? Kan udah gak belajar."
"Mau naruh tas doang ini."
"Habis naroh tas, mau ke mana?"
"Mau ke kantin, ngumpul bareng yang lain sebelum pada liburan masing-masing."
"Hmm. Classmeeting udah selesai. Kita gak ada kegiatan lagi, kan? Terus ngapain kita masih turun sekolah, ya?"
Oliv mengendikkan bahunya. "Mungkin karena kita anak rajin."
Akmal mengernyitkan dahinya lalu tersenyum geli. "Baru ini aku disebut anak rajin. Eh, btw kamu pulang mau ke mana?"
"Pulang ya pulang. Emang mau kemana lagi?"
Akmal memandangnya lama membuat Oliv risih. "Kenapa, Put?"
"Yakin pulang langsung pulang? Bukannya mangkal di lampu merah?"
Oliv melotot. "Putra tau?"
"Tau dong."
Oliv memanyunkan bibirnya. "Itu udah rutinitas aku. Hukumnya wajib."
Akmal memandangnya heran. "Kok wajib?"
"Soalnya aku bantu temenku. Aku juga pernah ajak Deo loh."
Akmal ternganga. "Serius?"
Oliv mengangguk. "Tapi diam-diam."
"Mami kamu gak tau?"
Oliv langsung menggeleng. "Pasti gak di izinin. Sebenarnya aku udah pernah ketahuan Mami soal ini. Tapi aku tetep bantuin Genta karena dia temanku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ternyata Kamu
Ficção Adolescente[ S E L E S A I ] Tahun ini adalah tahun kelulusannya dari bangku Sekolah Menengah Pertama. Karena itulah, sekarang ia berada didepan gerbang Sma Pancasila dengan seragam barunya, putih abu-abu. Setelah 3 hari sebelumnya mengikuti kegiatan Masa Orie...
