Bab 1

468 37 0
                                    

Ketukan sepasang sepatu mulai terdengar nyaring di lantai 15, lantai di mana hanya ada satu ruangan saja. Kini langkah sepasang kaki itu mulai tergesa, berlari menuju pintu yang dia rapalkan kuat kuat dalam hatinya selama berjalan ke lantai 15 ini.

Ia memarik napas panjang sebelum membuka pintu di depannya dengan perlahan, seolah tak ingin mengganggu aktivitas mereka yang ada di dalam ruangan itu.

"aahh...~ terlambat lagi miss Clarissa"

Clarissa langsung mendongakkan kepalanya saat mendengar nada mengejek dari lelaki yang sudah bertengger di kursi kerjanya, melihat Clarissa dengan tatapan mengejek yang amat kental.

Alvin Seandara.  Sang big boss

Clarissa menelan salivanya dengan kasar, merasakan tatapan sang big bos padanya.

"apakah jalanan begitu macet miss? Atau karena jam di rumahmu kehabisan batere, sehingga masih menunjukkan pukul lima??? "

"maaf pak" cicit Clarissa sembari menundukkan kepalanya, tak berani menatap mata big bos di depannya. Pasalnya ia belum genap seminggu bekerja di perusahaan ini.

"maaf? Kalau begitu, buatkan saya kopi yang ada di lantai satu" kata sang bos enteng.

Sontak saja Clarissa langsung mendongakkan kepalanya, melihat kaget pada bosnya yang sudah kembali sibuk berkutat pada berkas-berkas di depannya.

"lan-" belum sempat Clarissa menyelesaikan ucapannya, sang bos kembali berkata sembari menatapnya dengan senyum.

"ah~ iya, saya lupa memberitahu kamu. Tolong pakai tangga saja ya, soalnya liftnya lagi rusak" katanya dengan senyum manis.

"r-rusak? " kata Clarissa syok. Pasalnya baru lima menit lalu ia menaiki lift untuk ke lantai ini. Dan sekarang bosnya bilang liftnya rusak?! Apa itu masuk akal?!

"satu lagi! Jangan pakai lift pribadi saya" bosnya kembali mendongak menghadapnya. Sedangkan Clarissa semakin mengerjapkan matanya tak percaya. Ia bisa di sini juga berkat lift pribadi bosnya itu. Dan sekarang ia harus turun ke lantai dasar dengan tangga darurat?!

"kamu nggak mau pergi sekarang? Waktu kamu sepuluh menit dari 58 detik yang lalu" Clarissa tersadar setelah mendengar penuturan bosnya. Ia melihat jam tangan yang melingkar apik di tangannya. Dan benar! Sekarang dua menit sudah berlalu karena keteledorannya.

Tanpa pamit lagi, ia langsung berbalik arah, dengan langkah seribunya.

Sedangkan sang bos dengan enaknya kembali menekuni berkas-berkas di depannya dengan tenang.

*****

"mang, tolong buatkan kopi buat pak bos ya, nanti biar saya yang antar. Saya mau minum dulu. Capek" kata Clarissa dengan napas tak beraturan. Ia mulai mengisi gelas dengan air putih di kulkas, dengan sekali teguk air itu kandas olehnya.

"Nona Clarissa kenapa ngos-ngosan begitu? Kaya habis dikejar anjing saja" kata mang Ujang saat memberikan kopi pada Clarissa.

"capek mang, habis turun dari lantai lima belas"

"kok bisa capek sih non, kan ada lift"

Clarissa mengerutkan keningnya, "bukannya liftnya rusak ya mang? " katanya dengan nada heran.

"rusak dari mana sih non, orang mang Ujang aja baru turun dari lantai lima" kata mang Ujang santai, sembari kembali membersihkan gelas.

Sontak saja Clarissa menepuk jidatnya lantaran ia dengan mudahnya bisa percaya begitu saja dengan bosnya itu.

Ia kembali membelalakan matanya tatkala melihat jam yang melingkar di tangannya.

"mati, aku telat!" serunya. Clarissa segera berdiri mengambil kopi yang sudah dibuatkan mang Ujang, membawanya dengan terburu-buru. Tak lupa ia juga mengucapkan terimakasih kepada mang Ujang.

Setelah kembali menaiki tangga sampai lantai lima belas, kini di sinilah Clarissa berada. Berdiri tegak dengan nampan di pintu bertuliskan CEO. Ia tak mau ambil resiko dengan menaiki lift.

Setelah sampai di hadapan meja bosnya, Clarissa segera meletakkan kopinya dengan perlahan, "ini kopinya. Kalau begitu saya permisi ke meja saya sir"

Mendengar bosnya bergumam sebagai jawaban, Clarissa segera berbalik ke mejanya. Ruangannya ada di sebelah ruangan bosnya ini, namun untuk pintu masuk dan keluar, dijadikan satu dengan ruangan bosnya. Sunggur interior yang memusingkan.

Clarissa mulai berkutat dengan setumpuk berkas di mejanya. Ia tak menyangka gunungan di mejanya begitu membengkak sampai seperti ini. Bahkan hampir separuh mejanya diisi oleh tumpukan kertas.

Clarissa menghembuskan napas lelahnya sebelum menghidupkan komputernya. Sepertinya ia akan menginap di kantor hari ini, guna menyelesaikan berkas-berkas di mejanya itu.

Baru beberapa menit ia berkutat dengan komputernya, sang bos kembali memanggilnya melalui intercom.

Clarissa memutar matanya jengah. Sekarang apa lagi yang akan diperintahkan oleh bosnya itu kepadanya. Tak mau buang waktu, Clarissa segera pergi menghadap ke bosnya.

"ya, kenapa sir?? "

"tolong siapkan berkas-berkas buat kita meeting nanti siang dengan pihak JG grup" perintahnya yang langsung di angguki Clarissa.

Baru saja Clarissa ingin kembali ke mejanya, suara bosnya kembali terdengar,

"ah... iya, meeting kali ini di restoran, jadi siapkan mobil sekalian. Jangan sampai kamu telat" sambungnya sembari menatap Clarissa tajam.

Sekali lagi Clarissa mengangguk dengan senyum di bibirnya. Ia tau arti tatapan itu. Dan dirinya jengkel mengetahui atasannya itu memperingatkannya dengan tajam.
Clarissa sadar jika ia sering telat masuk kantor, tapi setidaknya pekerjaan yang ia lakukan tidak mengecewakan.

Clarissa segera beranjak dari sana, kembali ke ruangannya menyusun bahan meeting nanti. Entah bisa pulang apa tidak dia hari ini.
Memikirkan itu membuat Clarissa mendengus kesal.







*salam semuanya....

She is My AngelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang