Bab 19. Party

130 15 0
                                    

Gemerlap bintang yang bertaburan di atas sana mulai terlihat dengan begitu jelas, cahayanya bahkan terlihat begitu apik menghiasi gelapnya hari. Bulan yang tak mau kalah pun memancarkan sinarnya dengan berani, itu semua tak lepas dari pandangan Clarissa. Membuat dirinya menghembuskan napas, itu semua mengingatkannya akan semua yang terjadi di kantor siang tadi.

Pesta perusahaan. Biasanya Clarissa selalu bersemangat jika mendengarnya karena dia bisa mengistirahatkan otaknya dari semua perintah Alvin, dirinya akan have fun bersama beberapa pegawai lainnya. Namun pesta malam ini nampaknya akan membuat dirinya kesulitan. Bagaimana tidak jika Alvin sudah mengumandangkan bahwa Alvin dan dia akan bertunangan esok hari.

Ya... memang seharusnya Clarissa tidak menganggap serius perkataan Alvin yang lebih terdengar becandaan belaka kepadanya. Namun, Clarissa kembali berpikir, selama ini belum ada ucapan Alvin yang tidak dilakukannya. Itulah yang membuat Clarissa ketar ketir sejak dirinya pulang dari kantor. Clarissa tidak mau menjadi bahan lawak Alvin jika nanti malam dalam party perusahaan, Alvin bertindak yang aneh-aneh. Meskipun selama ini Alvin memang tidak pernah bersikap yang sewajarnya.

Clarissa menoleh saat handphonenya berdering, kemudian mulai berjalan meninggalkan balkon apartemennya.

Tertulis nama Mam di sana.

"ya Mam"

"kemana saja kau? Kenapa tidak pulang?"

"bukankah aku sudah bilang, aku sibuk mam. Nanti jika sudah tidak sibuk, aku janji akan pulang" ucap Clarissa berusaha membujuk.

"besok pulanglah"

"besok? Aku tidak bisa mam, besok aku harus lembur"

"kalau tidak bisa besok, maka lusa kau harus pulang"

"lusa atasanku ada rapat, jadi tidak bisa"

"Clarissa, kau memang benar-benar yaa.." geram Mam

"itu memang yang terjadi Mam. Aku tidak mungkin pulang dan meninggalkan pekerjaanku"

"apa? Kau lebih memilih pekerjaan mu begitu?!"

"aish... bukan seperti itu mam, kau tau sendiri bukan atasanku itu sangat menyebalkan, jika gajiku dipotong bagaimana?"

"jadi kau lebih khawatir tentang gajimu? Apakah semua yang mam lakukan padamu selama ini tidak penting? Kau butuh berapa? Apakah semua yang mam kiri-"

"mam!" Seru Clarissa menghentikan perkataan ibunya yang sudah mulai melantur kemana-mana. Dirinya tidak suka itu.

"terserah kau sajalah, mam sudah capek dengan kelakuan ajaibmu"

"ya.. aku tau mam menyayangiku" balas Clarissa seenaknya.

"jangan tiba-tiba pulang ke rumah membawa kejutan" seru mam Clarissa dan secepat kilat menutup percakapan mereka.

Clarissa hanya bisa melongo mendengar ucapan mamnya, sekarang siapa yang bersikap ajaib? Atau bisa dibilang, Clarissa adalah titisan paling sempurna dari mamnya. Bahkan sikap ajaib mamnya pun turun dengan apik di dalam diri Clarissa. Terkadang Clarissa kesal dengan mamnya sendiri, terlebih semenjak Clarissa pergi dari rumah. Mamnya itu tidak pernah absen dalam mengisi rekeningnya. Clarissa sebal sendiri saat mendapat notifikasi seperti itu. Memangnya Clarissa tidak mampu menghidupi dirinya sendiri?!

Kini Clarissa kembali teringat akan acara malam ini, itu membuatnya menepuk kepalanya pelan, kemudian melihat jam di ponselnya. Segera saja dirinya pergi ke kamar mandi, dan mulai berbenah diri saat melihat angka tujuh di layar ponselnya. Meskipun Clarissa sangat tidak ingin menghadiri party malam ini, namun dirinya kembali berpikir tentang segala ancaman dari Alvin yang mendadak membuat Clarissa ngeri sendiri.

She is My AngelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang