Setelah memutuskan untuk pulang, aku langsung pergi memasuki rumahku; menimbulkan suara bantingan pintu yang keras.
"Aku pulang!!" tidak ada jawaban.
Aneh.
"Len? Aku pulang!"
Kemudian pikiran negatif itu melintas kembali.
Detak jantungku langsung berdetak begitu cepat, diiringi dengan keringat dingin yang mulai mengalir dari pelipis, dahi, hingga leher ku. Pupil mataku menciut karena rasa takut. Aku langsung bergegas mencarinya tanpa takut terpeleset atau hal lainnya. Apapun, aku tidak peduli. Bagaimana aku tidak panik?!
Aku takut hal itu terjadi!
Namun untung, semua pikiran negatif itu langsung pecah buyar seraya aku melihat sosok nya, tertidur dengan damai, dengan mata kepala ku sendiri. Dengan begini, aku bisa menghela nafas lega.
Syukurlah...
Bodohnya diriku. Setelah terbangun dari mimpi buruk itu, aku sampai lupa kalau Len juga sedang tertidur. Huh, ternyata dia belum bangun.
Aku terlalu paranoid.
Di saat itu juga aku melihat ke arah jarum jam.
Yah, wajar saja. Aku baru bermain dua sampai tiga jam. Len 'kan, putri tidur- eh, cocoknya disebut pangeran tidur, sih. Tu- apakah sebutan semacam itu ada?! Kalau tidak ada, kenapa putri tidur ada?! Hah, ironi itu ternyata memang ada, ya... Bahkan tidak ada sebutan kakek moyang walaupun nenek moyang ada. Eh?!
Nenek moyang itu... Laki-laki atau perempuan?!
Cih, random sekali pikiranku saat ini.
Aku pun mulai menghampiri Len, melihat wajah tidurnya dari dekat. Kemudian mengelus rambutnya, bahkan hingga menggeser poninya yang menutupi wajahnya.
"Huh, dasar. Aku hampir terkena serangan jantung karena kau, tahu?! Harusnya, laki-laki yang selalu mengkhawatirkan kekasihnya, bukan perempuan yang tidak berdaya seperti diriku ini!" bisik ku pelan, lebih seperti gumaman singkat.
...
Hmm... Bukan kekasih, tapi... Apa?
Lupakan.
Hah... Tenang sekali. Suara yang kudengar hanyalah nafas kami yang berhembus dan suara jam yang berdetik. Sepertinya memang benar. Terkadang manusia butuh momen-momen seperti ini.
Aku mendengus, untuk apa aku berbicara seperti itu? Aku sudah biasa kesepian. Yah, dulu. Bukan sekarang, sih.
...
"... Rin..."
Len? Apa dia terbangun karena keberadaanku?!
Itulah yang ada di pikiranku, tapi sepertinya... Dia hanya terbawa mimpi. Seperti- ngelindur?
Duh, seharusnya aku tidak disini. Mungkin aku mengganggu tidurnya. Aku harus pindah.
...
Ah... Benar, aku bergegas kemari karena ingin menanyakan 'itu', 'kan? Tapi... Len sedang tidur, aku tidak boleh mengganggunya. Dia butuh banyak sekali tenaga semenjak saat itu.
Apalagi... Kalau 'itu' benar, apakah hal tersebut berarti... 'itu' bisa menjadi sebuah pertanda buruk?
Aku mulai mendekatkan derap langkahku ke arah sisi tempat tidur yang paling dekat dengannya. Melihat kursi roda nya yang kosong dan perawakan tidurnya dari sudut ini... Membuatku berpikir...
'bagaimana cara Len naik ke lantai dua?'
"Ah... Dia mungkin punya kemampuan terbang, ya?"gumamku pelan, dengan topik yang tidak jelas seraya mengambil kursi dan duduk di sisinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stay With Me!
Hayran KurguAku akan senang jika melihatmu berkembang, dan juga bahagia.... Tapi aku tidak bisa... Setidaknya, berbahagialah... Disclaimer: Vocaloid dan anggota-anggotanya bukan milik saya :'v gambar-gambar bagus yang saya pasang di cerita jg bukan milik saya...
