Terkadang bisikan hati ini tak mengerti sebuah ungkapan yang tersirat dalam sebuah sikap. Namun kenyataan yang harus terpilih adalah memahaminya lebih dalam dengan menggunakan logika sendiri.
Aku mungkin terkadang tak memahami, tapi satu hal yang pasti perasaan ini akan selalu merasakan semua hal yang kau rasakan meski itu hal tersembunyi sekalipun.
Karena mungkin presepsi mengenai kesempurnaan berasal dari dua hal yang berbeda, masih benar adanya.
*****
Langkahan kaki jenjang milik seorang pinky yang tengah terburu dibawa suasana menggema begitu saja tatkala sepatunya bertemu dengan lantai. Disana ia terlihat rapi dan elegant, banyak orang yang memperbincangkannya saat ia melewati kumpulan orang-orang itu. Wajah cantiknya memang tak dapat disembunyikan dari sisi manapun, dengan pakaian apapun, karena kealamian wajahnya adalah faktor utamanya. Ia masih terus berjalan sembari sesekali tersenyum pada mereka yang menyorotinya dengan tatapan entah apa itu. Melody dan alurnya sangat cepat hingga menimbulkan surai bertali kudanya menari-nari begitu saja seolah tanpa beban ia melakukannya.
Ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 08:30 AM. Ia harus segera bergegas, mungkin satu jam waktu sudah cukup untuk dia berada disini, karena memang sudah hampir satu bulan lamanya ia tak mengunjunginya.
Sesaat kemudian ia lolos dari hujan sorotan, kini ia beralih menuju lift. Dan lagi, didalam sana sudah banyak karyawan yang mengantre dan Sakura tak ambil pusing untuk itu, ia hanya melintasi jalan sesuai alurnya. Jari telunjuknya menekan sebuah angka 20, dan sesaat kemudian ada yang menepuknya dari belakang, lantas refleks ia menoleh.
"Anda karyawan baru disini?" tanyanya.
Sakura tersenyum." Memangnya kenapa?"
"Anda mungkin salah memencet tombol lift, lantai 20 adalah ruangan direktur dan presdir, biasanya karyawan sini jarang ada yang memasukinya kecuali dalam rangka pengajuan dan pendataan fase penting perusahaan."lanjutnya.
Dan Sakura hanya membalas dengan senyuman ketika semua orang yang berada di dalam lift memandanginya keheranan, seolah ia adalah manusia palinh bodoh didunia ini. Tapi bagaimanapun ia tak lagi ambil pusing, ia lalu kembali fokus kedepan dan tak menghiraukan pembicaraan kasak-kusuk dari sekelilingnya.
"Nona, ini adalah pintu terakhir untuk karyawan biasa, apakah anda tak ingin keluar?"
"Tak apa, arigatou."
"Jangan membuat kegaduhan dilantai 20, karena disana sedang ada rapat darurat dan sangat rahasia. Jika kau melupakannya kau pasti akan langsung dipecat!" ucap wanita yang tadi bergumul di bagian pojok bersama rekannya. Sudah jelas, dia sepertinya sangat tak menyukai Sakura. Entah karena iri ataupun mengira Sakura adalah karyawan yang tak tau apapun.
Sejenak dari lantai 17, ia lalu dengan cepat keluar di lantai 20. Disana sudah ada anggota kepolisian Haruno yang berjejer rapi di tiap sisi hingga menuju pintu rapat darurat.
"Beri hormat pada Kapten!"
"Hai'."
"Kuterima hormat kalian." ucap Sakura sembari mengangkat tangannya.
"Lapor! Kami dari divisi 01, Ayanami-san mohon diri tak dapat hadir. Sekian, Kapten!"
"Aku tau itu, apa kalian diberitahu masalah terbaru olehnya?"tanya Sakura masih diposisi awal, depan lift.
"Sumimasen, belum ada konfirmasi."
"Oh. Ok lanjutkan tugas kalian."
"Hai'."
KAMU SEDANG MEMBACA
Who Are You???
FanficTak semua orang didunia ini menyukai popularitas, dan lagi orang-orang itu mempunyai prinsip kuat yang ia pegang sendiri. Lalu? bagaimana dengan seorang gadis cantik yang tak sengaja bertemu dengan seseorang yang juga membenci hal itu? Ia hidu...
