Sorak sorai penonton dan pemain mulai bergema di gedung olahraga, setelah peluit di bunyikan. Bola terakhir masuk tepat di area belakang pertahanan lawan. Kemenangan bagi tim SMA Pemuda, sungguh diluar dugaan bagi SMA Bangsa. Yuda dan Rendy berlari mengelilingi lapangan sangking senangnya. Ini kemenangan mereka yang pertama setelah lama tak pernah diadakan pertandingan melawan SMA lain.
Mereka berkumpul membuat lingkaran lalu melakukan tos. Raut wajah Nizar yang tadinya terlihat cemas berubah bisa tersenyum lega begitu juga dengan pelatih. Resta yang melihat itu juga tersenyum.
"Dasar, katanya nggak peduli sama tim tapi kawatir juga." ia bergumam sendiri melihat ekspresi Nizar.
Sandy berjalan mendekati SMA Pemuda kemudian tersneyum menatap Mahfud. Membuat yang lainnya ikut menatap mereka berdua seperti sorot mereka yang berbicara. Mahfud hanya tersenyum dan mengulurkan tangan begitu juga Sandy. Ia melirik ke arah Nizar yang berada tidak jauh disana.
"Lo punya pemain yang hebat." Katanya lalu pergi. "Gue bakal balas kalian di pertandingan selanjutnya, tunamen nasional." Setelah mengucapkan itu lalu mengubah langkahnya lebih cepat menyamakan langkah dengan teman-temannya.
"Jangan terlalu memaksakan diri." Ucap pelatih tim SMA Bangsa.
"Hem, hanya melatih servise saya pak." Kata Sandy tersenyum.
Rivan melihat ke arah Mahfud yang serius menatap kepergian tim SMA Bangsa, seperti memikirkan sesuatu.
"Gue kira Sandy itu orangnya ketus dan cuek ternyata sportif juga ya." Kata Rendy ikut memperhatikan.
"Jangan lengah, kita masih banyak yang harus diperbaiki." Kata Mahfud. Ia berpikir kemampuan tadi seperti bukan kemampuan yang Sandy miliki sesungguhnya. Entah mencoba memberi harapan atau memiliki maksud lain tapi Sandy adalah orang yang memiliki kemampuan lebih.
"Baik, pelajaran yang kalian dapat hari ini apa setelah pertandingan?" Tanya pelatih setelah semuanya merpat. Namun mereka hanya bisa terdiam tak ada yang menjawab, mungki sebagian berpikir. Alisnya berkerut saat tak ada yang menjawab.
"Melihat celah yang ada meskipun dalam tekanan sekalipun." Jawab Nicol membuat yang lainnya melihat kearahnya.
"Jangan meremehkan orang yang ada di luar lapangan, mungkin mereka nggak bisa merasakan tekanan yang kalian hadapi tapi mereka bisa melihat celah yang tak bisa kalian lihat." Ucap pelatih menatap Nicol membuatnya tertunduk, ia sadar apa maksud dari perkataan pelatih.
"Kalau kalian meremehkan orang yang ada di luar lapangan berarti kalian juga meremehkan saya karena saya juga berada di luar lapangan. tapi bukan berarti kalian telan mentah-mentah yang dikatakan mereka kalian juga pikirkan apa itu benar seperti yang kalian rasakan saat dalam tekanan itu atau tidak." Jelas pelatih.
"Untuk hari ini cukup, dan istirahat yang cukup besok masih harus latihan lagi."
"Pak tapi kan besok minggu." Kata Yoga mengingat besok adalah hari libur, hari dimana ia bisa nongkrong bersama teman-temannya dan juga main PS bersama. Tanpa menjawab pelatih segera pergi.
"Hari ini, gimana kalau kita makan-makan dulu buat ya sekedar perayaan kecil biar semangat besok." Kata Yuda bersemangat.
"Iya tuh, gimana kalau di warung mi pak Samsul. Mie nya enak banget dan sekarang rame banget disana." Kata Iqwal ikut bersemangat. Resta dan Ibnu saling memandang lalu tersenyum dan melakukan tos kecil tanpa orang lain tahu.
"Eh sorry ya guys gue nggak bisa ikutan." Kata Rendy nyengir.
"Mau kemana lo?" tanya Yoga penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Let's Go Do It!
Teen FictionJika kau ingin melakukan yang terbaik, lakukanlah sekarang. Jika kau ingin menyerah, menyerahlah sekarang. Tapi aku yakin kau tak akan mau melakukan itu. ~~~ Cerita ini hanya fiktif meskipun banyak nama tokoh yang di gunakan adalah nama pemain voli...
